
"Ada waktu mereka ingin memperlihatkan diri mereka kepada manusia seperti kita, Bran." Bayu menggenggam tangan Gibran.
"Aku semakin bingung dengan apa yang kamu bicarakan. Belum hilang rasa syok aku membunuh orang yang mirip kamu, tapi sekarang malah tidak ada apa-apa di sini."
"Lupakan saja, sulit bicara dengan orang minim agama sepertimu. Aku mau pulang," mohon Bayu pada Gibran, Bayu menatap Gibran dengan sendu.
Gibran mendelik tajam saat Bayu mengatakan kalau dia bodoh, tapi karena dia merasa kasihan melihat kondisi Bayu yang masih terlihat lemah akhirnya dia tidak protes.
"Kamu belum boleh pulang, dua abad lagi baru boleh," jawab Gibran menatap wajah kesal Bayu karena ucapannya.
"Wong edan, aku mung loro sitik wis mari, emoh aku nang kene terus. Raiso maem enak." (Orang gila, aku cuma sakit sedikit sudah sembuh, nggak mau aku di sini terus. Nggak bisa makan enak.)
Alkazam, kok malah bicara pakai bahasa Jawa. Gibran tersenyum pelik.
"Kowe kui sing edan, aku ngono waras, soale disusoni susu asli karo makku." (Kamu itu yang gila, aku ini waras, soalnya aku di susui susu asli sama Bunda.) Gibran membalas perkataan Bayu dengan nada tinggi 8 oktaf, wah suaramu kaya apa itu Bran?
Bayu menatap Gibran jengah, dia melepas paksa jarum infus yang terpasang di tangannya. Bayu sempat meringis saat rasa pegal karena jarum itu terasa.
Gibran menepuk pantat Bayu saat anak itik itu turun dari ranjang.
"Aduh, sakit!" teriak Bayu saat pantatnya di tepuk keras oleh Gibran.
"Alhamdulillah," jawab Gibran sujud syukur.
"Kok malah sujud syukur, kamu ini sungguh kejam sama sahabat sendiri." Bayu kesal karena dia bilang sakit reaksi Gibran malah seperti orang yang bahagia.
Gibran melakukan sujud syukur cukup lama, air matanya mau menetes tapi malu sama cicak kalau ketahuan, alhasil air matanya dia titipkan ikan agar ikannya yang menangis dan tenggelam karena air matanya sendiri.
Setelah selesai melakukan sujud syukur, Gibran kembali berdiri dan melihat Bayu memerhatikan dirinya dengan tatapan tajam dan kesal.
"Kalau kamu tadi bilang sakit artinya kamu sudah sembuh karena yang aku tepuk pantat kamu." Gibran tersenyum tulus penuh kasih sayang dan rasa bersalah yang mendalam.
Bayu hanya diam, sulit bicara dengan Gibran saat ini. "Aku mau pulang, mau minta maaf sama ayah dan bunda." Bayu kekeh ingin pulang, tidak peduli lagi jika Gibran melarangnya.
"Kamu lahir dari mana?" tanya Gibran gemas sekali dengan Bayu.
__ADS_1
"Dari ... nggak perlu dijawab kamu juga sudah tahu," ucap Bayu karena terlalu malu untuk mengatakannya.
"Oh, aku kira dari batu karena kamu keras kelapa." Gibran menatap sinis Bayu.
"Kamu kira aku anak pohon kelapa, keras kepala kali bukan keras kelapa." Bayu meralat kalimat yang diucapkan Gibran.
"Beda dikit doang. Tunggu di sini, itu jarum infus juga udah kamu lepas, awas saja nanti ditemui sama suster jus-jus."
"Apa itu suster jus-jus?" tanya Bayu tidak tahu.
"Ingat lagu ini Bay. Susan punya cita-cita- Ria Naes."
Susan susan susan /Besok gede mau jadi apa?
Aku kepingin pinter /Biar jadi dokter
Kalau kalau benar /Jadi dokter kamu mau apa?
Mau suntik orang lewat /Jus jus jus
***
Di Kediaman Satya.
Dua orang yang usianya lebih dari setengah abad sedang bergulat di lantai dengan seekor kecoak pengganggu. Ternyata rumah besar, bersih, dan mewah pun tidak terjamin tidak ada kecoak-nya. Benar-benar serangga yang ditakuti sejuta umat.
Satya membawa sapu untuk memukul kecoak itu, sedangkan Ranti malah membawa panci dan solet. Mereka benar-benar sangat berwibawa jika di luar rumah. Tapi, jika sudah ada di rumah, jangan heran jika sikap mereka sangat konyol.
Banyak cara yang dilakukan untuk seseorang mengekspresikan kebahagiaan. Ada yang diam, tersenyum, tertawa ... asal jangan tertawa di batang pohon ya, soalnya bukan kontes adu suara kunti.
Seperti contohnya keluarga Satya, hal konyol dan tingkah di luar nalar bukan berarti itu kepribadian mereka. Mereka bisa serius di waktu yang dan tempat yang sesuai. Walau kadang malah sebaliknya sih.
"Bunda ngapain bawa panci sama solet, mau buat apa itu?" Satya bingung dengan kelakuan istrinya itu.
"Perang sama kecoak, Yah. Dari tadi perasaan bunda sudah membawa ini, kok Ayah sadarnya baru sekarang?" ucap Ranti dengan wajah galak.
__ADS_1
"O." Astaga dragon kembarannya naga, hanya dijawab dengan satu huruf bulat oleh Satya. Sungguh pengiritan kata.
"Ayah, bagaimana ceritanya itu kecoak bisa masuk ke rumah kita?" Ranti tidak mempermasalahkan jawaban Satya, Ranti sekarang sedang tiarap seperti tentara yang sedang latihan menembak.
"Ya, lewat pintu." Satya masih sibuk memukuli kecoak yang sudah gepeng kerempeng di lantai. Dia seakan tidak puas membantai dua ekor kecoak yang sedang kawin dengan santai.
Ranti hanya tersenyum kecut mendengar jawaban suami tercinta yang sangat masuk akal tapi sangat tidak tepat.
"Siapa juga yang bilang lewat lubang hidung. Dasar Ayah mah kepibren." Ranti memukul betis Satya menggunakan solet yang dia bawa.
"Aduh, sakit Bundaaa!" teriak Satya saat dipukul istrinya.
"Hehe ... maaf, Yah. Bunda memang sengaja." Ranti tersenyum-senyum tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ayah kan bawa sapu, buang kecoak-nya sekarang pakai sapu punya Ayah!" perintah Ranti sambil berdiri dari posisi tiarapnya.
"Hehe, aku takut, Sayang." Satya tersenyum sambil bergidik ngeri.
"Panggil Pak Jumat sana!" Ranti mendorong punggung suaminya yang sedang berjongkok membuat keseimbangan suaminya hilang dan malah jatuh tersungkur di lantai. Untung saja tidak sampai menyentuh tubuh kecoak itu.
"Eladalah, dasar Bunda main dorong aja tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu." Satya berdiri dan mengusap dahinya yang sempat mencium dinginnya lantai marmer.
Ranti tersenyum cantik dan bersiap-siap mengambil langkah seribu untuk lari dari amukan suaminya. "Bunda kasih aba-aba, ya, Yah. Satu-dua-tiga ... prikitiiw ...." Ranti sudah benar-benar kabur sekarang.
"Bwahahaha ... Bunda lari malah seperti temannya Ronaldo Wati si kepala Adudu." Satya terbahak-bahak sampai matanya berair, tidak lucu memang, namun bagi Satya itu sangat menghibur.
Anak sama bapak sama-sama parah ralatnya ternyata. Jadi ingat dengan obrolan Gibran dan dua orang perawat wanita saat di rumah sakit.
"Aduh ... ayah panggil Pak Jumat dulu lah. Biar serangga laknat ini segera dibuang keluar rumah. Enak aja kawin di depan mata ayah, ayah aja minta kawin sama bunda dari kemarin belum dikasih." Satya malah bicara sendiri ... eh, bukan sendiri tapi bicara dengan jasad kecoa kawin.
***
Maaf dua hari tidak up, author ada kesibukan dia kampung halaman (Planet Pluto).
Ayah mah pikirannya kawin mulu, lihat kecoa kawin saja cembokur emang dasar aki-aki.
__ADS_1
🍁 Jangan memaksa orang untuk menyukai apa yang kita suka, karena setiap orang punya kesukaan yang berbeda-beda. 🍁