Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 68


__ADS_3

"Begitu cara kamu memperlakukan istri kamu? Kenapa emosi kamu sangat pendek, Gibran? Ayah sekalipun cemburu sama bunda kamu, ayah nggak sampai melukai bunda kamu secara fisik setelah kita menikah dulu. Tapi, apa yang ayah lihat sekarang? Kecemburuan kamu ke istri kamu itu terlalu berlebihan, kamu seharusnya tahu kalau sesuatu yang berlebihan itu tidak baik." Satya memarahi Gibran dengan perkataan panjang dan lebar, Gibran hanya menunduk pasrah mendengarnya. Ia akui saat ini ia merasa bersalah karena telah tidak sengaja melukai hati dan fisik orang yang sangat ia cintai.


"Ayah, sudah! Jangan malah nambah beban untuk putra kita. Semua ini kecelakaan, nggak ada yang mau membuat Jasmine dengan sengaja terluka seperti itu. Seorang suami tidak akan pernah mencelakai istrinya kecuali jika sang suami tidak punya otak dan hati." Ranti yang saat ini menggendong Gio merasa bersedih karena semua yang terjadi sekarang. Ia sudah tahu alasan Satya begitu takut kehilangan menantunya, ia sempat salah paham dan mengira jika suaminya itu memiliki hubungan yang spesial dengan menantunya. Namun, ia menyesal telah berpikir demikian saat ia tahu ternyata ada alasan kuat di baliknya.


"Bunda duduk saja! Kasihan putra bungsu kita, tidak seharusnya ia mendengar sara-suara yang membuatnya takut." Satya menuntun Ranti dan mengajak ia duduk di kursi tunggu rumah sakit.


Saat ini, mereka sedang berada di depan ruang operasi karena Jasmine harus dioperasi akibat retaknya tulang pada bagian belakang kepalanya. Jika Jasmine tidak dioperasi, kemungkinan besar Jasmine tidak akan bisa bertahan untuk hidup, dengan kata lain, Jasmine mungkin akan meninggal.


Gue benar-benar brengsek, nggak seharusnya gue cemburu sama sahabat gue sendiri. Ya Tuhan, tolong selamatkan istriku, aku tidak sanggup jika dia pergi meninggalkan aku sekarang diri.


Gibran bersandar pada dinding rumah sakit, tangannya terkepal erat dan ia mendongak sehingga yang ia lihat kini adalah langit-langit dari atap rumah sakit.


"Ayah, apa ayah tetap akan jujur sama Jasmine nanti kalau ia sudah sadar?" Ranti menatap suaminya itu dengan air muka khawatir.


"Awalnya iya, tapi melihat dia seperti ini. Ayah takut kalau nanti dia malah akan tambah sakit karena banyak pikiran." Satya menyandarkan kepalanya di bahu sang istri dengan lemas.


"Sepertinya jangan beri tahu dia dulu, Yah. Biarkan menantu kita itu sembuh dulu." Ranti mengusap pipi Satya dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya ia gunakan untuk menahan tubuh putranya agar tidak lepas dari gendongannya.


"Iya, Bun. Gio udah minum ASI belum?" Satya menatap putra bungsunya dengan sendu. Dicubitnya pelan pipi Gio yang saat ini anteng di gendongan bundanya.

__ADS_1


"Udah kok, Yah. Maafin bunda yang sempat salah paham sama, Ayah." Ranti mencium pipi suaminya dengan lembut.


"Seharusnya ayah yang minta maaf sama Bunda karena udah bikin Bunda salah paham." Satya merangkul baju Ranti, mereka masih sama-sama khawatir tentang kondisi putri mereka yang sedang berjuang di ruang operasi saat ini.


Flasback


Sesaat setelah menandatangi surat persetujuan untuk operasi Jasmine. Satya duduk di depan ruang operasi dengan perasaan yang sangat kacau. Lima belah menit berlalu, Satya merasakan ada seseorang yang memeluk tubuhnya dengan sangat erat sambil menangis bersedih.


Orang itu adalah Ranti dan putra bungsu mereka yang berada di gendongan sang istri. Ranti marah dan kecewa melihat sikap Satya yang terlalu berlebihan pada menantunya. Akhirnya, dengan ragu Ranti bertanya apa alasan suaminya sampai sebegitu perhatian pada menantunya.


"Ayah, bunda tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya hal pribadi. Tapi, bunda tidak ingin ada salah paham di antara kita. Sebenarnya, kenapa sejak Jasmine pulang dari Paris perhatian Ayah selalu tertuju padanya?" tanya Ranti setelah melepaskan pelukannya.


"Memang apa salah, Ayah?" Ranti sedikit penasaran dan lega karena tahu jika suaminya perhatian pada Jasmine bukan karena suka.


"Ayah nggak sengaja menabrak ibunya Jasmine, Bun. Kondisinya sekarang masih kritis dan koma, sampai saat ini besan kita itu belum juga sadar." Satya sesenggukan, ia benar-benar tidak sengaja menabrak besannya, malam itu rem mobil Satya bermasalah hingga saat ada seseorang yang menyeberang jalan, Satya tidak bisa menghindari orang itu.


"Innalillahi, kenapa Ayah nggak pernah cerita sama, Bunda?" Ranti tahu bagaimana perasaan Satya saat ini. Pasti ia takut untuk memberi tahu dirinya dan juga Gibran serta Jasmine. Ranti sangat mengenal sifat suaminya yang seringkali memendam masalahnya sendiri karena tidak mau membuat orang lain ikut pusing karena masalah dirinya.


"Ayah takut kalian akan marah sama, ayah. Ayah nggak sanggup kalau kalian benci sama ayah karena ayah telah mencelakai besan ayah sendiri." Satya memeluk istrinya dengan perasaan yang sangat kacau, jika dia tidak ingat masih punya istri dan anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian darinya. Mungkin Satya akan memilih untuk bunuh diri karena tidak sanggup menahan semua masalah yang ia hadapi. Ia sadar jika ia sudah tidak muda lagi, tidak sekuat dan sesabar saat ia masih muda dulu.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan lagi, Yah! Sekarang yang paling penting adalah menantu kita, masalah ibu Jasmine kita bicarakan nanti saja!" Ranti sebenarnya ingin menangis saat ini juga, namun jika ia menangis, siapa yang akan menenangkan suaminya?


"Ayah takut kalau Jasmine jadi benci sama ayah dan berimbas pada hubungannya dengan Gibran." Satya masih saja dikuasai perasaan bersalah yang besar.


Flashback end.


Gibran mondar-mandir sambil menggigit jari jempolnya untuk sedikit mengurangi rasa cemas yang melanda hatinya. Bayu pusing melihat Gibran yang bolak-balik seperti sebuah setrikaan.


...***...


"Siapkan alat pacu jantung suster!" perintah seorang dokter yang bertugas menjaga kestabilan detak jantung pasien saat dioperasi.


"Baik, Dok." Suster yang diperintah langsung menjalankan tugasnya. Perawat yang lain masih fokus membantu dokter yang sedang sibuk mengoperasi kepala Jasmine.


Mereka tegang, mereka takut, tapi mereka masih bisa bersikap profesional karena memang inilah tugas mereka kesehariannya. Bertempur dengan tubuh pasien dengan alat berupa gunting dan pisau medis serta peralatan kesehatan yang lain.


Tinggal mengelem tulang dan menjahit bekas sayatan pada kepala Jasmine. Maka operasi akan dinyatakan telah selesai. Namun, saat semuanya sudah selesai, tekanan jantung Jasmine sangat rendah, detak jantungnya melemah sehingga darah yang dipompa untuk disebarkan ke seluruh tubuh sedikit terhambat, hal itu membuat pasokan oksigen yang harusnya sampai otak berkurang. Jika sampai semuanya berhenti, maka sudah pasti Jasmine tidak akan selamat.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2