Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 56


__ADS_3

"Jasmine akan bahagia jika menikah dengan orang yang ayah pilihkan, Nak. Adik kamu itu pasti akan tercukupi hidupnya dan terjamin masa depannya," ucap Akbar meyakinkan Ridwan.


"Ayah aku ...."


"Minggu depan adikmu akan menikah dengan laki-laki yang telah ayah pilih. Kau tenang saja, Nak, karena laki-laki itu bukan laki-laki yang dulu." Akbar tersenyum, dia tidak peduli dengan Ridwan yang tidak terima dengan keputusan yang orangtuanya ambil.


Ridwan meninggalkan mereka tanpa kata lalu masuk ke dalam kamar Jasmine untuk melihat adiknya yang sudah tidur dengan raut wajah yang sedih.


Ridwan duduk di tepi ranjang lalu tangannya mengusap kepala Jasmine dengan pelan. "Kakak," panggil Jasmine saat dia bangun karena dia tidur sebenarnya tidak nyaman sehingga sentuhan sedikit saja bisa membuat dia terbangun.


"Tidurlah! Kakak akan menemani dirimu di sini." Ridwan tersenyum teduh, senyuman yang membuat Jasmine merasa tenang karena merasa dia terlindungi.


"Aku tidak ingin menikah dengan orang pilihan ayah, tapi semua pengorbanan yang telah mereka lakukan untukku membuat aku jadi lemah." Jasmine tidak menurut, dia bangun dan memeluk kakaknya dengan sangat erat.


"Ayo kita pergi dari negara ini!" ajak Ridwan dengan sangat yakin.


"Ke mana?" tanya Jasmine menatap wajah tampan kakaknya yang seperti aktor Korea dan Thailand.


"Ke mana saja, asal kita pergi dari negara ini. Bagaimana? Apa kau mau?" Ridwan merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Jasmine.


"Tentu saja aku mau, karena beberapa hari yang lalu aku juga sudah membuat paspor untuk diriku." Jasmine menyetujui usulan Ridwan.


"Bersiaplah, kita akan pergi setelah keadaan rumah aman dan sepi." Jasmine pun segera bersiap dengan membawa tas ransel tanpa koper karena akan sangat ribet jika dia membawa koper. Mereka berdua pun pergi secara diam-diam di malam hari saat orangtua mereka sudah tidur dengan pulas.


Tidak akan ada yang tahu ke mana mereka pergi, karena tanpa sepengetahuan orangtua mereka. Mereka berdua bergabung dalam satu kelompok rahasia yang selalu melakukan misi ke negara lain dengan identitas yang berbeda.

__ADS_1


Sayangnya, Jasmine tidak aktif lagi selama tiga tahun sejak drama perjodohannya dulu yang gagal karena dia menolaknya dengan cara halus dan juga cara kasar hingga dia pergi dari rumah sampai akhirnya tinggal bersama Airin, sahabatnya.


***


"Bagus, kau akan memiliki anggota keluarga baru, Sayang." Satya berbicara dengan nada yang sangat antusias dan binar kebahagian terpancar jelas di wajahnya.


"Jangan bilang kalau bunda hamil lagi." Gibran sudah menatap Satya dengan tatapan was-was tidak siap jika dia akan punya adik di usianya yang sudah lebih dari dua puluh tahun.


"Memang kenapa kalau bunda hamil lagi? Kamu tidak suka kalau punya adik?" tanya Satya menatap dalam wajah Gibran.


"Adikku tidak akan memanggil aku kakak tapi dia akan memanggil aku ayah dan memanggil ayah serta bunda dengan panggilan kakek nenek." Gibran terkekeh membayangkan jika dia punya adik maka akan sangat aneh tapi seru, lihat saja usia orangtuanya yang sudah tua akan punya anak lagi, apa adiknya itu tidak akan bingung?


"Kau pikir ayah tidak pantas menimang bayi?" Satya terlihat tidak terima dengan perkataan Gibran. Satya cemberut sambil memeluk bantal sofa disebelahnya, tingkahnya benar-benar seperti anak perempuan yang masih kecil sedang marah karena mainannya hilang.


"Tentu saja, Ayah masih pantas menimang bayi tapi, bayi itu cucu Ayah bukan anak Ayah." Gibran menanggapi dengan santai dan melihat raut wajah ayahnya kembali berubah berbinar terang.


"Bunda, ke sini dong, Gibran mau tanya sesuatu sama Bunda!" pinta Gibran saat melihat Ranti baru saja turun dari lantai dua.


"Mau tanya apa, Sayang?" Ranti duduk di samping Gibran, lalu mengelus kepala putranya itu dengan penuh kasih sayang.


"Gibran mau punya adik, ya, Bun?" Gibran menatap sendu pada Ranti seakan dia ingin mendengar jawaban tidak dari mulut Ranti langsung.


Ranti langsung menatap suaminya dengan tajam karena dia yakin jika suaminyalah yang membuat Gibran sampai bisa bertanya tentang hal ini.


Satya malah memberikan kecupan jauh untuk Ranti dan tidak takut dengan tatapan elang dari wanita yang telah masuk ke dalam hatinya dan selalu dia masuki setiap malam.

__ADS_1


Ranti terdiam sambil tersipu karena suaminya itu benar-benar minta dibuatkan sayur asam karena perbuatannya selalu membuat dia meleleh seperti lilin. Apa hubungan semua itu ferguso?


"Kenapa kamu bertanya seperti itu pada, bunda?" Ranti mengusap kepala Gibran yang berada di pahanya karena Gibran merubah posisi menjadi rebahan.


"Ya, Gibran cuma tanya aja sih, Bun. Kepo aja gitu, pengen tahu, penasaran juga." Gibran berbicara dengan sedikit ketus karena dia benar-benar tidak siap jika akan memiliki adik.


"Kamu sudah mendapat calon istri belum?" Ranti mengalihkan pembicaraannya, membuat Gibran mencebikkan bibirnya dengan kesal.


"Sudah ada kandidat, dan baru aku selidiki semua tentang dia." Gibran tersenyum kala dia teringat dengan Jasmine yang telah membuat hatinya merasa dag-dig-dug ... der, lebaran tiba-lebaran tiba. Ramadhan kali.


"Oh, ya? Apa bunda boleh tahu siapa kandidat yang kamu pilih untuk menjadi menantu bunda?" Ranti terlihat bahagia mengetahui Gibran sudah punya kandidat yang akan menjadi istrinya.


"Jasmine, Bunda. Bunda setuju nggak kalau Gibran menikah sama dia?" Gibran mengusap-usapkan hidungnya di perut Ranti, entah mengapa dia ingin sekali melakukannya.


"Kenapa kamu tidak menikah dengan Kamboja saja dan memilih menikah dengan Jasmine? Oh, iya, Jane mantan kamu itu gimana kabarnya?" Satya menyahuti obrolan Jasmine dengan putranya.


"Kenapa nggak sekalian menyuruh Gibran mati lagi biar bisa menikah sama hantu-hantu yang cantik dan seksi?" Gibran kesal karena ayahnya itu suka sekali bercanda dengan dirinya.


"Lha kamu sudah mati kenapa dulu hidup lagi?" tanya Ranti yang membuat Gibran langsung bangun dan menatap Ranti dengan tatapan sendu.


"Karena kalau Gibran nggak bangun, Ayah mau bikin adik buat Gibran." Gibran berkata dengan sangat lancar tanpa jeda.


Satya langsung terbatuk-batuk mendengar perkataan Gibran yang sama sekali tidak salah. Ranti langsung tersenyum malu karena ingat jika di hari kematian Gibran dulu, dia memang di ajak untuk membuat pengganti Gibran.


"Sudahlah, Bunda sangat setuju jika kamu menikah dengan Jasmine karena bunda memang sudah sejak pertama kali melihat Jasmine langsung menyukai sikap Jasmine dan bunda akan sangat bahagia jika kamu menikah dengannya." Ranti sudah memberi restu, dan Satya pun pasti akan ikut merestui jika sang istri sudah merestui.

__ADS_1


***


__ADS_2