
Gelar sarjana sudah Gilang dan Gavin dapatkan. Mereka berdua mendapat prestasi yang bagus dan membanggakan universitas masing-masing. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat dan bukan juga waktu yang lama. Empat tahun mereka mengorek ilmu dengan suka duka juga memperjuangkan bagaimana caranya lepas dari perjodohan.
Gavin menekan dadanya kuat-kuat ketika merasakan nyeri yang teramat sangat saat sekarang. Gavin masih ingat setiap kalimat yang Gilang ucapkan untuk memperjuangkan perasaanya pada Syala.
Gavin menatap layar ponsel untuk melihat wajah mamanya yang memenuhi layar ponselnya. Gavin memaksakan senyumannya dan itu terlihat seperti senyuman yang tulus.
"Minggu depan adik kamu mau ke Singapura. Setelah itu, kalian terbang ke Amerika menjemput Gilang." Jasmine memberitahu putra keduanya dengan wajah yang terlihat sangat rindu.
"Gilang gak akan pulang kalau Mama gak membatalkan perjodohan bodoh itu." Gavin berkata datar, dirinya seolah tahu kalau kakak laki-lakinya itu memilih untuk tidak pulang daripada harus melukai hati mamanya karena kekeh ingin mempertahankan Syala.
"Mama sudah membatalkannya," ucap Jasmine dengan jujur. Beberapa saat Gavin seperti terkejut mendengarnya. Namun, Gavin tidak langsung percaya. Bukankah sangat aneh kalau mamanya itu tiba-tiba membatalkan rencana perjodohan yang selalu kekeh tidak akan dirubah.
"Sayangnya aku gak akan mudah percaya." Gavin mungkin melukai mamanya ketika mengatakan itu. Namun, tidak sama juga, 'kan?
"Tapi, kamu harus percaya karena ini kenyataan." Sedih, menyesal, kecewa. Rasa itu bercampur jadi satu rasa di hati Jasmine ketika keluarganya sulit mempercayai dirinya lagi.
.
.
.
... Sekolah Gia....
"Maaf, aku gak sengaja." Han bangkit dan membantu Gia berdiri. Jujur, Han menikmati bibir Gia yang baru saja menempel dengan bibirnya.
"Tangan sama bibir gue udah gak perawan lagi dan ini semua gara-gara, Lo!" bentak Gia dengan sangat kesal seraya memukul dada Han bertubi-tubi.
"Gue tanggungjawab," ucap Han dengan percaya diri dan terkekeh melihat wajah Gia yang sangat lucu ketika sedang marah-marah seperti sekarang.
"Mau nikahin gue?" Gia menatap Han rendah, mana mungkin dia mau menikah dengan orang yang sudah lulus dari universitas satu tahun lalu.
"Mau banget, ayo ke KUA!" Han mengerlingkan matanya manja, ia juga tersenyum seksi menggoda Gia.
"Najong tralala, mending jomblo seumur jagung daripada menikah sama, Lo." Membayangkan saja rasanya sudah mau pingsan, apalagi kalau kejadian nyata, mungkin nyawa Gia akan pergi saat itu juga.
"Jangan sok jual mahal. Nanti naksir dan bucin sama gue tahu rasa, Lo." Gia memutar bola matanya sinis, dalam hati Gua berkata. Kalau di dunia ini laki-laki hanya tinggal kamu, aku lebih memilih ikut punah dengan yang lain.
"Maaf, gue gak mahal dan gak murah karena gua gak dijual," ujar Gia dengan begitu sinis. Han terkekeh geli mendengarnya, wajah Gia yang sedang marah terlihat sangat menggemaskan di matanya.
"Gue antar pulang. Kaki Lo bisa patah di jalan kalau gak gue anterin sampai rumah." Han berjongkok di depan Gia kemudian melihat bagaimana kondisi kaki Gia sekarang.
__ADS_1
"Kaki gue patah, huaaaa." Gia menangis lebai agar Han merasa bersalah padanya. Deraian air mata tidak ia hiraukan lagi.
"Lepasin gue, Om!" teriak Gia ketika Han tiba-tiba menggendong dirinya layaknya karung beras.
"Diam aja, nanti gue perkosa keenakan, Lo." Gia merinding mendengarnya. Kenapa dirinya harus bertemu dengan orang semenyebalkan ini? Ingin rasanya Gia melempar Han ke kolam lava.
"Tua-tua mesum." Gia pasrah, takut kalau memberontak akan jatuh.
Han tertawa kecil ketika dirinya dikatai tua. Ya, walupun, memang benar kalau dirinya lebih tua 4 tahun dari Gia. Toh, usianya sama dengan Gio.
Dugh!
"Lo mau bunuh gue? Sama cewek yang lembut sedikit kenapa? Lo kira kepala gue isinya dakron, main dijedotin ke mobil segala." Bagaimana tidak marah kalau Han menurunkan Gia dan memaksanya masuk mobil dengan sedikit kasar sampai kepala Gia terbentur bagian atas pintu mobil. Sakit woy, sakitnya tuh di sini, di kepala.
Cup!
"Diam bawel!" Han tertawa kecil melihat Gia terbengong-bengong karena kecupan singkat di bibir yang baru saja dirinya lakukan.
Han mungkin memang kurang ajar dan menyebalkan. Tapi, jangan ragukan dia masalah tanggung-jawab dan kesetiaan, jika dia sudah mencintai satu wanita, maka dia akan mempertahankan dengan sungguh-sungguh dan tidak akan membiarkan wanitanya terluka.
"Kenapa Lo cium gue pe'a?" Wajah Gia memerah, ciuman pertama dan keduanya di ambil oleh orang yang sama dan itu sangat menjijikkan menurutnya.
"Habisnya bibir Lo manis. Gue suka." Han mengacak rambut Gia kemudian menutup pintu mobilnya dengan pelan.
"Apanya?" Gia kebingungan, otaknya sudah berpikir yang iya-iya. Eh, maksudnya yang engak-enggak.
"Sarung otong gue."
Plak!
Satu tamparan cukup keras langsung Gia layangkan pada pipi Han. Bahkan tanpa menunggu menit pun, pipi Han sudah langsung memerah dan mulai bengkak.
Han jelas sangat terkejut, apalagi ini adalah tamparan pertama dalam hidupnya. Han menyentuh pipinya seraya mendesis kesakitan.
Tenaga dia besar juga ternyata.
"Maaf, Bang. Gue gak sengaja, habisnya Lo jadi orang mesum banget." Gia berkata lirih dan takut-takut, dia menjauhkan tangan Han dari pipi Han sendiri, Gia mengusap pipi Han dengan lembut seraya meniupnya agar panasnya berkurang.
Gia merasa bersalah karena dia reflek melakukannya. Lihat saja! Mata gadis itu sekarang sudah berkaca-kaca.
"Cium dong biar sembuh!" pinta Han bercanda, melihat mata Gia yang berkaca-kaca saja rasanya sangat sakit di hari Han.
__ADS_1
"Emang bisa?" Gia yang pikirannya sedang kosong malah bertanya dengan polosnya.
"Bisa dong, coba aja!" jawab Han dengan seringai licik di wajahnya.
Han melebarkan matanya lebar ketika merasakan bibir Gia menempel di pipinya. Bukan hanya satu atau dua detik, tapi hal itu berlangsung sampai lima menit.
Jantung Han berdebar kencang, hatinya berbunga-bunga dan rasanya Han ingin salto sekarang juga kalau tidak ingat pipinya masih dicium Gia. Sudut bibir Han tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman bahagia.
"Kenapa malah senyum-sebyum kaya orang gak waras. Pipi Lo dah sembuh belum?" tanya Gia polos, sepertinya kejeniusannya sedang pergi sekarang.
Han yang sedang melamun langsung menatap Gia lekat-lekat. Entah kenapa, ingin rasanya satu kali lagi mengerjai Gia.
"Belum, sembuhnya kalau yang dicium di sini." Han kembali melotot saat merasakan bibir Gia menempel di bibirnya. Sungguh, Han hanya bercanda ketika menunjuk bibirnya untuk dicium. Tapi, ini sungguh rejeki dari Allah yang membuat Han ingin melakukan sujud syukur ribuan kali.
Saat itu, pikiran Gia kembali. Rasa bersalahnya sudah menguap berganti dengan rasa malu yang luar biasa besar.
"Kenapa malah gue nyium Lo, pe'a?" Gia memalingkan wajahnya yang sudah sangat merah seperti tomat masak.
Gia merutuki kebodohannya sendiri karena telah termakan omongan Han yang sangat tidak masuk akal dan hanya menggoda saja.
"Gue gak nyuruh, Lo aja yang main nyosor. Sepertinya gue harus manggil lo Bebek mulai sekarang." Han tertawa keras kemudian meringis ketika pipinya bertambah sakit karena tawanya baru saja.
"Nyebelin banget sih jadi orang. Dasar iblis!" Gua memukuli lengan Han dengan sangat kesal. Han terkekeh geli, entah kenapa dirinya sangat bahagia ketika bersikap seperti ini.
"Iblis tampan, 'kan?" Gia mengangguk lucu kemudian menggeleng cepat.
"Hua mamaaa ... bibir Gia gak perawan tiga kali." Gia menatap Han sengit.
"Nanti gue kawinin, Lo. Tenang aja, dijamin enak."
"Aduh, sakit tolol!" Han meringis kesakitan ketika nebek nakalnya menggigit hidungnya yang mancung.
"Bodo amat, Lo ngeselin banget jadi orang!" Gia menangis sesenggukan di dalam mobil Han.
"Belum dikawinin udah nangis, nanti kalau kawin bisa roboh kasur gue." Han mengatakan itu jelas saja tidak serius, dia dibesarkan menjadi anak yang baik dan taat.
"Gue potong otong Lo kasih makan si Tutik baru tau rasa!"
"Siapa Tutik?"
"Piranha pelihara gue."
__ADS_1
***
Bersambung ...