
"Jangan meledek aku, Bay, atau kamu akan merasakan hal yang sama atau bahkan lebih parah dari yang aku alami saat ini." Gibran menatap tajam Bayu sehingga Bayu diam dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ayo masuk dan istirahat!" ajak Gibran dengan nada yang tegas. Gibran masuk mendahului Bayu karena Gibran harus segera mandi tujuh rupa untuk menghilangkan kotoran burung dalam rambutnya.
Bayu berjalan dengan langkah pelan menyusul Gibran, sesekali Bayu bergaya seolah-olah akan memukul, mencekik, atau mendorong tubuh Gibran karena Bayu merasa kesal setiap hari harus gila karena ulah Gibran yang selalu ada-ada saja.
Mereka berpisah saat mereka sampai di dalam rumah, Bayu akan kembali ke kamarnya dan beristirahat sedangkan Gibran akan mandi lalu tidur setelahnya.
Di dalam kamar mandi, Gibran berendam air hangat setelah mencuci rambutnya sampai bersih dan wangi. Gibran memejamkan matanya karena dia sama sekali tidak pernah menyangka jika di kehidupannya akan mengalami hal sial terus menerus.
"Apa gelar nama gue ganti Gus Gibran saja, bukan CEO Gibran?" Gibran memijit pangkal hidungnya dengan perasaan gemas dengan diri sendiri.
__ADS_1
Setelah selama dua jam berendam sampai air yang semula hangat menjadi dingin, Gibran segera keluar dari bathtub lalu menyambar handuk yang dia letakkan di dekat wastafel lalu melilitkannya di pinggang. Nasib memang selalu sial untuk Gibran, saat dia melangkah keluar kamar mandi, handuknya tiba-tiba melorot memperlihatkan tubuh bugilnya yang akan menggoda kaum hawa jika melihatnya.
"Lo kenapa sih nggak mau gue tutup? Mau terbang ke mana Lo? Lo nggak ingat ya kalau kita itu belum menikah sama cewe. Kalau Lo mau terbang dan masuk ke dalam sangkar, kita harus mencari wanita untuk kita nikahi dulu." Gibran memukul burungnya yang nakal karena tidak mau disembunyikan dibalik handuk yang tebal.
Gibran merasakan rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya saat angin berembus dengan pelan menyentuh kulitnya yang mulus dan akan membuat candu siapa saja yang menyentuhnya, apalagi kalau itu seorang wanita.
"Burung oh burung, Lo membuat gue dalam masalah besar." Gibran menunduk lalu mengambil handuk yang melorot tadi dan langsung melilitkannya di pinggang kembali.
***
Pagi harinya, Jasmine bangun lebih awal dari penghuni rumah yang lain. Jasmine merasakan tubuhnya segar karena tidur dengan pulas tidak seperti biasanya yang selalu gelisah karena teringat dengan keluarganya yang jauh di tempat lain yang tidak ingin Jasmine kunjungi lagi selagi nyawa masih berada di dalam jasadnya.
__ADS_1
Jasmine ingat kalau dia tidur di rumah Gibran, Jasmine segera turun dari tempat tidur lalu masuk ke dalam mandi untuk mandi pagi karena tadi malam dia tidak sempat mandi. Setelah mandi, Jasmine pergi ke dapur karena dia merasa haus sedangkan di dalam kamar tidak ada air minum.
"Hihihi, asik juga bisa tinggal di rumah Tuan Gibran secara gratis, bisa makan dan minum gratis juga." Jasmine terkekeh saat dirinya berada di dapur sambil meneguk air putih yang berada di dalam gelasnya.
Saat Jasmine sedang menikmati minum air putih, tiba-tiba Gibran datang ke dapur dengan pakaian sama seperti yang dipakai tidur tadi malam. Gibran tidak terkejut saat melihat Jasmine berada di dapur namun Gibran terkejut saat melihat wanita dengan rambut panjang duduk disebelah Jasmine dengan pakaian lusuh berwarna merah darah.
"Ada Mba Kunti, sedang menatap iri hek a .. hek a ...." Gibran berjoget sambil melorotkan celana yang dia pakai sehingga sesuatu di bawah sana terlihat membuat perempuan dengan gaun warna merah darah yang lusuh itu tertawa mengerikan sebelum menghilang dari samping Jasmine.
Jasmine yang melihat kelakuan Gibran langsung pingsan saat untuk ke dua kalinya dia melihat pisang ukuran jumbo milik Gibran.
***
__ADS_1
Komen dong sayang.