
Orang yang mengintip itu langsung meninggalkan tempat dia berdiri dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dengan hati yang masih membara.
Han dan Gia sudah menyelesaikan makannya dan mereka kembali melanjutkan pekerjaan ke rumah Han.
Gia merasa pusing ketika Naira terus mengajaknya bicara tanpa jeda. Tidak masalahnya sebenarnya kalau diajak bicara karena membuat mereka semakin akrab, yang membuat pusing itu karena Naira terus menanggap Gia sebagai menantu dan berbicara banyak hal tentang masa depan mereka.
Dan kejadian itu bermula dari Han yang kembali memperkenalkan dirinya sebagai pacar.
Iya-iya, Gia tahu kalau dirinya itu adalah pacar dari Han. Namun, kenapa harus sampai melibatkan orangtua?
"Tante, Gia baru lulus SMA lho. Belum kuliah, usia masih belasan. Masih lama buat mikir menikah." Akhirnya anak itu menjawab juga karena tidak ingin mendengar lagi tentang rencana-rencana bodoh yang Naira buat.
"Itu jangan terlalu dipikirkan. Kamu tinggal ngasih mama cucu, nanti kamu kuliah mama yang urus."
Cucu palamu!
Ya Gusti, aku harus apa? Ini bukan jaman penjajahan yang memaksa wanita untuk menikah muda dan ngurus anak.
"Gia mau menikah ketika minimal 23 tahun." Masih terus menolak, gas terus sampai gagal.
"Tujuh belas mau ke delapan belas. Lima tahun itu kelamaan, Sayang." Naira memeluk Gia dan terus membujuk agar mau menjadi menantunya.
"Abang, bantuin dong!" Gia menatap Han yang sejak tadi hanya menyimak.
"Bantu apa?" Wajah menyebalkan dia pasang.
__ADS_1
Ngeselin banget sih! Ku cekik juga kamu sampai jadi guling kuburan.
"Tante, udah sore. Gia mau pulang."
"Kan mama sudah pernah menyuruh kamu manggil mama. Jangan panggil tante terus!" Naira memang cocok jadi mamanya Han yang sifatnya sama-sama menyebalkan dan sedikit pemaksa.
"Maaf, Ma." Gia tersenyum manis sekali, saking manisnya Gia sendiri merasa muak.
"Ayo antar aku pulang, Bang!" Gia merajuk dan membujuk Han.
"Mau pulang ke mana sih, Yank? Ini kan rumah kamu juga."
Astaga!
Gia sangat kesal, gadis itu melepaskan tangannya yang menarik Han dan memilih berlutut di depan Naira, kemudian menyembunyikan wajahnya di paha Naira dengan kedua tangan memeluk pinggang wanita itu.
Sepertinya mereka memang sudah bersekongkol membuat Gia kesal.
"Manja banget sih sama camer (calon mertua) kalau sama aku gak manja." Han berjongkok di sebelah Gia dan mengusap kepala gadis itu lembut.
"Au ah, kesel." Gia masih betah dalam posisinya sekarang.
"Oh, sungkem nih ceritanya?" Semakin gencar menggoda agar gadis itu semakin kesal.
Gia melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Naira. Kepalanya kini tidak lagi disembunyikan.
__ADS_1
"Antar pulang!" pintanya lagi dengan menatap Han sendu.
"Nanti malam aja, ya?" Han menarik tangan Gia dan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan yang membuat Gia terpukau.
"Kamu jadi stalker aku, Bang?" Gia menatap Han yang mengangguk tanpa beban.
"Jangan bilang kalau Bang Han udah kenal aku sejak lama?" Jawaban yang sama sekali tidak Gia duga. Laki-laki itu mengangguk.
"Tapi jangan pasang foto aku pakai bikini juga!" Gia mengambil foto dirinya yang memakai celana pendek dengan kaos tipis ketika di pantai.
Dia merobek-robek foto itu dan memukuli dada Han dengan sangat kesal.
Han terkekeh, dia terbatuk-batuk dan jatuh ke lantai karena tidak siap dengan serangan Gia yang Memggekitik tubuhnya tanpa ampun. Bahkan, Gia sampai tidak sadar kalau dirinya duduk di perut laki-laki itu.
"Hahaha ... ampun, ber-hahaha ... hentikan!" Han sudah kehabisan tenaga karena lelah tertawa.
"Ngeselin banget sih!" Gia yang mengamuk merasa lelah dan akhirnya menyembunyikan wajahnya di leher Han sambil menangis.
Han mengusap lembut punggung Gia dan membiarkan gadis itu menangis dengan posisi menindihnya.
Keluarga Gia mungkin tidak tahu kalau gadis itu memiliki masalah besar yang kelam dan sengaja disembunyikan.
Aku janji akan melindungi kamu semampuku. Aku tidak akan membiarkan dia melakukan itu padamu lagi.
.
__ADS_1
.
.