Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Pergi


__ADS_3

Satu minggu berlalu, tibalah saat di mana Gilang harus pergi ke luar negeri untuk mencari ilmu di universitas pilihannya. Dalam satu minggu terakhir ini, Gilang lebih banyak diam dan menghindari Jasmine.


Jasmine merasakan perubahan sikap Gilang yang menghindarinya. Jasmine bukan orang bodoh sehingga ia bisa menebak alasan dibalik perubahan sikap putra pertamanya itu.


Bukan hanya Gilang yang berubah, tetapi Gavin dan Gia pun sama. Mereka sudah tahu rencana perjodohan itu dan Gavin sangat marah karena ia tidak akan pernah mau melukai hati kakaknya lagi sekalipun harus membangkang Jasmine.


Di dalam mobil yang sedang melaju menuju bandara, Gia menempel terus pada Gilang seakan tidak ikhlas kalau ditinggal kakak laki-lakinya itu.


Gavin sibuk dengan pikirannya, ia juga akan pergi karena tidak akan kuliah di negaranya demi menghindari Jasmine.


Sesampainya di bandara, lima belas menit sebelum pesawat lepas landas. Gia, Gavin, dan Gilang berbicara serius.


"Kak, kamu harus percaya kalau aku tidak akan pernah mau menerima perjodohan itu. Kalaupun nanti mama memaksa, maka aku akan pergi dari rumah seperti yang mama lakukan sewaktu muda dulu." Gavin mengusap air matanya yang tanpa diminta mengalir begitu saja.

__ADS_1


Sakit, pedih. Mungkin selama beberapa tahun ini perasaan itulah yang dirasakan Gilang, kasih sayang dari mamanya yang begitu besar justru harus membuat dirinya terluka dengan satu kali keputusan.


"Jika dia memang jodoh kamu, kakak ikhlas melepaskannya. Benar kata mama, mungkin umur kakak tidak akan lama lagi." Gilang tersenyum pedih.


Gavin bersumpah akan membuat Gilang dan Syala bersatu dengan cara apa pun. Lagipula, Gavin sudah memiliki seseorang yang spesial di hatinya.


"Jangan bicara seperti itu! Koko jangan pesimis, Gia tahu Koko orang yang kuat dan tidak mudah putus asa. Sudah cukup waktu bertahun-tahun Koko hidup. Koko bisa menjalani dan menerima rasa sakit Koko didiamkan orang-orang yang Koko sayang dan Gia yakin kalau Koko juga pasti bisa menjalani semua ini dengan kuat." Gia memeluk Gilang dengan erat, adik mana yang tidak akan terluka mendengar kalimat sederhana yang seperti kata-kata perpisahan itu.


Gia tidak akan membiarkan Gilang meninggal dalam waktu dekat. Gia yakin Allah memberikan umur panjang pada Gilang dan Gia berjanji dalam hatinya, ia akan menjadi perempuan kuat yang bisa menjadi pelindung untuk Gilang dan orang-orang yang ia sayangi.


"Selalu, maaf kalau selama ini kita belum jadi adik yang baik buat, Kakak." Gavin memeluk Gilang sehingga tiga bersaudara itu saling menguatkan satu sama lain.


Gilang mencium puncak kepala mereka dengan sayang. Ia juga berjanji akan berjuang untuk sembuh dan memertahankan rasa cintanya pada sahabat yang sudah memiliki komitmen dengannya. Gilang yakin, kalau di belahan bumi lain sana, Syala juga akan melakukan hal yang sama dengan dirinya.

__ADS_1


Hah, mereka tidak harus bersedih, 'kan? Bukanlah justru dengan adanya masalah ini mereka bisa lebih dewasa dan memperjuangkan apa yang ingin mereka capai karena tidak semua yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan dengan mudah.


"Kakak sayang kalian," ucap Gilang dengan berlinangan air mata tetapi tersenyum bahagia.


"Kita juga sayang, Kakak." Mereka masih mengobrol sampai waktu masuk pesawat tiba.


"Aku pergi sekarang, jaga diri kalian baik-baik!" Gilang melambaikan tangan pada kedua adiknya. Ia juga memeluk keluarganya yang ikut mengantar ke bandara.


Saat Gilang di depan Jasmine. Pria itu mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya dan memeluknya dengan erat.


"Gilang pergi, Ma. Jangan berdoa agar aku cepat mati karena aku akan berjuang demi cintaku yang mama campuri." Perkataan Gilang membuat hati Jasmine tersayat.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2