
Jasmine memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Ternyata hidup selama empat tahun dalam kebohongan itu rasanya sangat tidak nyaman. Benar kata orang jika kita lebih baik berkata jujur walau itu menyakitkan daripada pura-pura baik-baik saja padahal hati dan hidup kita merasa tidak tenang dengan rahasia yang selalu kita sembunyikan.
Dia lelah!
Dia juga ingin jujur!
Dia merasa takut dan sudah sangat yakin hatinya jika dirinya akan mengatakan yang sejujurnya pada semua keluarganya, pertama apakah Gibran, orangtua mereka, kemudian anak-anak.
Konsekuensi pasti ada yang harus ia terima tetapi ia akan menerimanya dengan hati yang lega. Sudah cukup empat tahun lamanya dirinya tersiksa hati, pikiran, dan berimbas pada fisiknya.
"Semuanya, mama akan berkata jujur. Mama harap kalian bisa memaafkan mama." Jasmine menyalakan mobilnya dan melajukan kembali ke kediaman orangtuanya.
Dalam perjalanan kembali perempuan itu berdoa semoga keluarganya mau memaklumi dan tidak terus menjauhi dirinya lagi.
.
.
.
Gia merasa tidak tega dengan mamanya namun yang ia lakukan karena ia benar-benar kecewa pada perempuan itu. Sungguh ia merasa menjadi anak durhaka pada Jasmine, tetapi ia tidak peduli kalau mamanya terus kekeh menjodohkan abangnya dengan perempuan yang kokonya cinta.
Gia terus berjalan cepat dengan kepala menunduk sampai ia merasakan menabrak seseorang dengan cukup kuat.
"Jalan itu pakai mata bocah!" ucap seorang laki-laki ketika Gia tidak sengaja menabrak dirinya sampai buku-buku yang ia bawa jatuh berserakan di lantai koridor.
Gia yang ikut terjatuh langsung mendongak dan menatap wajah laki-laki itu dengan tatapan kesal, sedangkan yang ditatap malah melepas kacamata yang ia pakai dan balas menatap Gia dengan tatapan menilai.
Apaan sih lihat-lihat? Gue tahu gue cantik, tapi kalau ditatap begini rasanya seperti ditelanjangi tahu, gak?
"Auh, di mana-mana jalan itu pakai kaki, gak ada dalam buku sejarah jalan pakai mata," ucap Gia dengan percaya diri dan kesal.
"Itu cuma kiasan bodoh!" Tak! Satu jitakan cukup keras mendarat di dahi Gia.
"Ya kalau pintar gue gak sekolahin pe'a!" balas Gia sengit.
"Pintar juga Lo ternyata," ucap laki-laki itu dengan tertawa kecil.
__ADS_1
"Tadi gue dibilang bodoh, sekarang pintar. Jadi laki-laki kok plin-plan." Gia mencebik kesal.
"Dasar bocah!" Laki-kaki itu semakin keras tertawa.
"Ajarin dong!" ucap Gia sinis seraya berdiri dan membersihkan roknya yang sedikit ko karena debu lantai.
"Ajarin apa?" Laki-laki mengerutkan dahinya bingung. Pahatan yang begitu sempurna di wajahnya dengan lesung pipi dan satu gigi gingsul membuat laki-laki itu terlihat sangat tampan.
"Jalan pakai mata," jawab Gia dengan senyum yang mulai memudar. Gadis itu memutari tubuh laki-laki yang ia tabrak, menyentuh kepalanya dan menggelengkan ke kanan dan ke kiri seperti seseorang yang sedang menyelidiki sesuatu.
"Lo apaan sih?" Laki-laki itu menepis tangan Gia dengan cukup kasar karena baru kali ini ada perempuan selain ibu dan neneknya yang berani menyentuh wajah yang dirinya anggap tampan.
Gia menarik kemeja laki-laki itu dan mengendus-endus bau parfum yang sangat tidak asing baginya. Gia meletakkan tangannya di dagu sambil mengingat-ingat wangi tidak asing itu milik siapa.
Laki-laki itu membiarkan saja Gia melakukan apa ia suka. Toh, tujuannya datang ke sekolah ini memang untuk melihat secara langsung sosok gadis cantik yang berstatus sebagai keponakan sahabatnya itu.
"Wangi parfumnya seperti milik Om Gio," ucap Gia yang bisa didengar jelas laki-laki itu.
Gia berjongkok, mengambil buku-buku milik laki-laki itu kemudian menyerahkannya dengan cara ia dorong di dada laki-laki itu.
"Buku, Lo." Setelah melakukan hal itu, Gia langsung berlari cukup kencang meninggalkan laki-laki yang tersenyum tampan melihat tingkah Gia yang menurutnya sangat lucu.
.
.
.
...Satu jam sebelumnya....
Gio sedang berada di rumah salah satu sahabat baiknya. Bisa dibilang mereka sudah seperti saudara saking dekatnya hubungan mereka berdua.
Laki-laki sahabat Gio itu meminta dirinya menginap karena ia ingin bertanya sesuatu hal yang penting padanya.
"Gi, gue sering lihat Lo sama gadis SMA. Dia siapa sih?" Raut wajah laki-laki itu begitu penasaran dan matanya terlihat berbinar ketika ingat dengan gadis yang ia maksud.
Gio yang sedang berbaring di kasur mengerutkan dahinya. "Gadis SMA? Ini bukan?" Gio menunjuk foto gadis cantik yang ia berada di layar ponselnya.
__ADS_1
"Iya, dia pacar kamu?" tanya laki-laki itu dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Kamu kenapa kepo? Jangan bilang kalau kamu suka sama si pengacau?" Gio tersenyum menggoda sahabatnya.
Laki-laki itu tersenyum malu-malu, ia menggaruk bagian belakang kepalanya dengan salah tingkah. "Dia cantik, aku tertarik." Laki-laki itu berkata jujur.
"Hahaha ... jangan suka sama dia, Han!" Gio tertawa terbahak sambil berguling-guling di kasur sampai jatuh ke lantai dengan cukup keras tapi tawanya tidak juga terhenti.
"Kamar aku sering buat ngaji sama salat. Gak mungkin ada hantu tante di sini, tapi kenapa Gio kaya orang kesurupan?" Laki-laki yang dipanggilnya Han itu bergidik ngeri.
"Dia itu keponakan aku yang cerewet, nyebelin, dan ngangenin." Gio berkata setelah berhenti tertawa.
"Boleh kenalan?" tanya Han dengan antusias.
Gio mengerutkan dahinya antara akan mengizinkan dan tidak. Bagaimanapun Gia adalah keponakan perempuan satu-satunya yang harus ia jaga. Tidak akan ia biarkan satu laki-laki sembarangan mendekati keponakan cantiknya itu. Bagi keluarga besar Satya, Gia sudah seperti berlian sangat berharga yang harus mereka jaga dengan baik.
"Datang aja ke sekolahnya, lagian kamu ada tugas mengisi seminar di sekolah keponakanku!" ucap Gio setelah memikirkan baik buruknya. Gio sudah cukup lama mengenal Han dan tahu sifat sahabatnya itu. Tidak salah juga kalau misal Han menyukai Gia karena Gio yakin laki-laki itu bisa menjaga Gia dengan baik.
"Kok aku baru tahu kalau kamu punya keponakan perempuan?" Gio mungkin sangat mengenal Han dengan sangat baik, tetapi tidak dengan Han yang hanya tahu sedikit tentang keluarga sahabatnya itu.
Gio hanya tersenyum tipis dan tidak memedulikan pertanyaan Han lagi. Tidak masalah untuk Han.
Han memakai pakaian yang tapi dan terlihat keren menambah kadar ketampanannya. Laki-laki itu sudah memiliki strategi yang sangat bagus untuk mendekati perempuan yang diam-diam telah mencuri perhatiannya.
"Keren gak?" tanya Han sambil bergaya dengan pose tampannya.
"Keren sih, tapi ada yang kurang." Gio yang melihat sahabatnya sangat semangat langsung mengambil parfum miliknya dari dalam tas kemudian menyuruh Han untuk memakainya.
"Dengan parfum itu aku yakin kalau keponakanku akan bertanya-tanya tentang kamu." Gio berkata dengan sangat yakin karena parfum itu hanya ada satu di dunia dan dibuat khusus oleh Gia sendiri.
"I'am coming dear." Han tersenyum semangat.
***
Bersambung
...Makasih buat yang udah nurunin rate bintang aku....
__ADS_1
...Semoga kalian puas dengan apa yang kalian lakukan....