
Setelah melakukan itu, Gavin menarik tangan Dion pergi karena Gavin terlalu malas kalau meladeni banyak siswi nanti.
"Di, kok tadi ada adik kelas yang masuk? Ini waktu ujian kelas 12, ngapain dia berangkat ke sekolah?" tanya Gavin ketika teringat dengan adik kelas yang menyapa dirinya tadi.
"Piket mungkin," jawab Dion menebak.
Perempuan yang dipakaikan kacamata oleh Gavin langsung menampar pipinya sendiri untuk membuktikan kalau dirinya tidak sedang bermimpi.
"Auh, gue gak mimpi. Tadi Gavin bilang kalau gue cantik. Oh My God, oh My God. Gavin I love you," teriak siswi itu dengan sangat keras.
"Sorry, but I can't love you." (Maaf, tapi aku tidak bisa mencintaimu.)
Dihempas gelombang, dilemparkan angin.
Terkisah kubersedih, kubahagia. Hati perempuan itu bernyanyi pilu.
Dion tertawa terbahak mendengar balasan Gavin yang diucapkan dengan nada santai, tetapi tajam seperti ujung panah.
"Bwahaha ... kasihan deh, Lo, Fit." Teman perempuan itu malah tertawa di atas penderitaan temannya.
"Gue akan dapetin cinta Gavin dengan cara apa pun. Nisa, Lo harus jadi saksi kalau Fitri tidak akan menyerah mendapatkan cinta dan bebeb Gavin." Fitri bertolak pinggang dan menyemangati dirinya sendiri. Kacamata hitam milik Gavin yang ia pakai bahkan yang sebelah kiri sudah turun ke pipi.
"Bebek goreng aja, kali. Gue doakan, semoga sahabat baik gue ini gak berhasil." Nisa langsung berlari meninggalkan Fitri yang melotot setelah mendengar perkataannya.
Fitri bahkan sudah melepas sepatu miliknya dan siap untuk melemparkan sepatu itu ke kepala Nisa yang sudah kabur dan hilang dari matanya.
***
Sebuah motor sport berwarna hitam memasuki halaman sekolah menuju parkiran. Setelah motor berhenti, si pengemudi langsung meloncat turun dengan gaya seperti biasanya, tetapi terlihat sangat keren di mata para perempuan yang melihat dirinya.
Gilang melepaskan helm yang ia pakai, menaruhnya di atas motor kemudian merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari tangan.
__ADS_1
Beberapa murid perempuan menyapa Gilang. Namun, Gilang tidak menanggapi meraka sama sekali, bukan karena Gilang sombong, tetapi Gilang tidak ingin membuang banyak waktu untuk meladeni sesuatu yang menurutnya tidak penting.
Gilang berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih sepi. Ia berjalan menuju ruangan tempat adiknya berada, tetapi karena ia sudah melihat Gavin bersama dengan temannya duduk di bangku depan ruang kelas, Gilang langsung menghampiri Gavin ke sana.
"Vin," panggil Gilang dengan suara sedikit keras.
"Berisik banget sih jadi orang!" ketus Gavin ketika melihat kakaknya datang menghampiri.
"Yang sopan yang kakak, Vin!" nasihat Gilang dengan lembut.
"Huh, Lo itu cuma selisih beberapa menit dari gue. Umur kita sama, jadi gak usah sok tua deh, Lo!" Dion, Hendra, dan Fajar hanya menggelengkan kepala melihat sepasang saudara yang sifatnya bagaikan langit dan bumi.
Gilang tersenyum, ia sudah terbiasa dibentak oleh Gavin sehingga ia sudah kebal. Gilang merogoh saku celana, mengambil sesuatu yang dibungkus plastik kemudian membukanya.
"Biar mulut kamu manis gak pedas lagi," ucap Gilang sambil memasukkan permen milkita rasa melon ke mulut Gavin.
Hendra dan kawan-kawan tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Gilang pada Gavin.
"Lima ratus ribu buat jajan, kalau kurang jangan minta sama kakak!" Gilang memasukkan uang saku milik Gavin ke tangan Gavin.
"Gilang brengsek!" teriak Gavin keras.
"I know," jawab Gilang pelan.
(Aku tahu.)
"Lo jadi adik kurang ajar tahu, Vin." Hendra berkomentar, sedangkan yang lain mengangguk setuju dengan perkataan Hendra.
"Kakak gue gak akan marah, dia sayang sama gue," jawab Gavin dengan percaya diri sambil memasukkan uang ke sakunya.
Permen pemberian kakaknya juga tidak ia buang karena ia memang suka dengan permen itu.
__ADS_1
...***...
Ketika waktu ujian tiba, semua siswa memasuki ruangannya masing-masing dan duduk di kursi masing-masing.
Gavin walaupun terkesan sedikit nakal. Namun, kalau masalah pelajaran jangan ditanya lagi, mengerjakan soal ujian sambil menutup mata dan tidur pun sanggup ia lakukan.
Ujian membutuhkan waktu 2 jam untuk menyelesaikan soal dan di menit ke sepuluh Gavin sudah selesai sehingga memutuskan untuk tidur daripada tidak punya pekerjaan.
"Gavin, bangun!" teriak seorang guru perempuan yang usianya masih muda dan jomblo.
"Apa, Sayang?" tanya Gavin pada guru cantik itu.
"Jangan tidur, ini masih ujian!" Gavin berdecak malas, ia merogoh saku celananya dan memberikan satu lembar uang merah pada guru tersebut.
"Gak butuh," ucap guru cantik itu di telinga Gavin.
Gavin tersenyum miring, ia memasukkan uangnya kembali ke saku celana kemudian memerhatikan guru itu dari atas sampai bawah.
"Wajah lumayan, bibirnya seksi kalau gue cium bengkak itu, lehernya juga jenjang dan putih kalau gue cium merah semua di sana, dada besar pas banget sama tangan gue kalau gue remas, masih sempit lagi, perawan." Gavin bergumam pelan, gue cantik itu tidak bisa mendengar, tetapi Hendra yang duduk di sebelah Gavin bisa mendengar dengan jelas.
"Bu, sini deh!" Gavin melambaikan tangan agar guru cantik itu mendekat.
"Kenapa?" tanya guru itu polos.
Gavin tersenyum miring lagi, ia menarik tangan kanan guru itu sampai terduduk di pangkuannya dan Gavin langsung menangkup pipi guru cantik itu dan mencium dahinya cukup lama.
***
Bersambung ...
Mohon maaf bisa tingkah Gavin sedikit kurang ajar. Ini bukan untuk ditiru karena ini hanya hiburan saja.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah komen untuk melanjutkan cerita ini. Aku tunggu komennya lagi ya.
Selamat meninggalkan tahun yang penuh dengan penyiksaan menuju tahun yang berkah Aamiin.