
Gibran merasakan ada sebuah tangan menepuk bahunya. Gibran menoleh ke arah empunya tangan. Lalu ...
"Apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya seorang dokter yang baru saja masuk ke ruangan Bayu. Dokter tersebut melihat Gibran yang berjongkok di lantai sambil menggerakkan tangannya seolah-olah sedang mengguncang sesuatu. Dokter itu menatap Gibran dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.
"Anda bilang Anda tidak membunuh Bayu. Apa maksudnya?" tanya Dokter itu lagi, dahinya mengernyit dan dia sekarang menatap tajam mata Gibran yang terlihat kebingungan.
"Saya tidak membunuhnya, Dok. Dia mati karena kesalahannya sendiri, saya tidak membunuhnya." Gibran berteriak histeris saat dokter tersebut meminta penjelasan padanya.
"Saya tidak mengerti dengan perkataan Anda." Dokter yang melihat Gibran histeris langsung menenangkan Gibran.
"Tenangkan diri Anda dan jangan panik! Saya percaya Anda tidak membunuh Bayu," ucap dokter itu, yang tidak lain adalah Dokter Adit. Dokter Adit menepuk bahu Gibran untuk membuat Gibran merasa sedikit tenang.
Sebenarnya Dokter Adit benar-benar tidak tahu dengan pernyataan Gibran. Tapi, saat melihat Gibran histeris dan menangis, Dokter Adit menjadi tidak tega dengan Gibran.
"Bagaimana saya bisa tenang saat melihat sahabat baik saya mati di depan mata kepala saya sendiri?" teriak Gibran dengan suara yang memilukan.
Dokter Adit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar bingung dengan Gibran saat ini. Dokter Adit bergeming, dia hanya diam sambil menatap Gibran.
Apa orang ini pasien rumah sakit jiwa? gumam Dokter Adit, karena sikap Gibran saat ini seperti orang yang sedang mengalami gangguan jiwa.
Gibran yang merasa ada yang aneh dengan dirinya dan juga Dokter Adit langsung berhenti menangis.
Tunggu dulu, kenapa dokter ini bertanya padaku. Apa dia tidak melihat mayat Bayu? Gibran melihat ke arah mayat Bayu yang jelas-jelas tergeletak di lantai.
Jelas-jelas mayat Bayu ada di sini, apa dia tidak melihatnya? Pikiran Gibran masih bertanya-tanya dengan heran.
Air mata yang tadi mengalir dari mata Gibran kini mengering, Gibran menatap Dokter Adit lalu mengalihkan pandangannya pada mayat Bayu.
"Dokter, apa Anda tidak melihat mayat Bayu yang berada di lantai?" tanya Gibran sambil menunjuk pada mayat Bayu.
__ADS_1
Dokter Adit mengikuti arah telunjuk Gibran, dia melihat ke lantai yang bersih tidak ada apa pun di sana. Semut saja tidak ada, tapi bisa-bisanya Gibran mengatakan ada mayat di sana.
Dokter Adit tersenyum pelik. "Saya tidak melihat apa pun di lantai, mungkin Anda sedang berhalusinasi," ucap Dokter Adit, membuat Gibran mengerutkan dahinya.
"Tidak, Dok. Saya tidak sedang berhalusi ... bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Mata Gibran melebar saat tidak mendapati mayat Bayu di lantai. Gibran mengucek matanya dan kembali melihat lantai, tapi lantai itu kosong, tidak ada apa-apa di sana.
"Mungkin Anda memang tidak berhalusinasi tapi Anda memikirkan hal di luar nalar," ucap Dokter Adit. Padahal itu sama saja dengan halusinasi.
"Tapi, Dok. Tadi saya-"
"Sudahlah, Tuan. Tidak udah dipikirkan lagi. Apa Anda tidak mau menyapa pasien di sana?" Dokter Adit menunjuk Bayu yang sudah membuka matanya dan menatap Gibran juga dirinya dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
Gibran yang melihat Bayu baik-baik saja dan malah menunjukkan senyum tengilnya membuat Gibran merasa benar-benar bingung dengan apa yang terjadi sekarang.
Gibran berjalan mendekati Bayu dengan tatapan meniliti (sudah seperti kodok aja, Bran, di teliti. Lo anak IPA ya?)
"Lo beneran Bayu?" tanya Gibran mencubit hidung pesek Bayu. Yang dicubit hidupnya hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
"Asik, Lo beneran Bayu." Gibran meloncat kesenangan membuat Dokter Adit dan Bayu tersenyum melihat Gibran yang bahagia.
"Gatotkaca," jawab Bayu sekenanya.
"Gue kira lo Hanuman," ucap Gibran terkekeh sendiri.
"Gue bukan kera, Bran. Lo jahat banget sama gue. Tadi aja gue lihat Lo perang sama angin, sekarang Lo malah jahat sama gue." Bayu menatap sinis Gibran.
"Bodo amat, Bayu gue mau cerita sama Lo." Gibran berbisik di telinga Bayu.
"Bisa bicaranya nanti saja, karena saya akan memeriksa kondisi pasien ini dulu?" Dokter Adit tersenyum ramah kepada mereka.
__ADS_1
"Tentu saja, Dok. Silakan periksa!" Gibran menjauh dari Bayu dan membiarkan Bayu diperiksa terlebih dahulu oleh Dokter Adit.
Cukup lama Dokter Adit memeriksa Bayu. Dia benar-benar Dokter yang sangat telaten saat berhadapan dengan pasiennya.
"Dokter, saya merasakan tadi tubuh saya masih sangat lemah, bahkan untuk membuka mata saja saya tidak bisa. Tapi kenapa beberapa menit yang lalu saya merasakan tidak lemas lagi, ya?" tanya Bayu karena merasa heran dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
"Mungkin ini adalah keajaiban dari Allah, saya awalnya mengira kamu akan sadar dalam waktu beberapa minggu ke depan karena kondisi tubuh kamu yang lumayan parah," jawab Dokter Adit. Dia benar-benar tidak menyangka jika Bayu akan sadar secepat ini.
Setelah beberapa saat berbincang dengan Bayu, Dokter Adit pamit undur diri dari sana. Sekarang di dalam ruangan itu hanya tinggal Gibran bersama dengan Bayu.
Gibran duduk di tepi ranjang, Bayu. Dia menatap Bayu dengan tatapan yang serius, lalu Gibran pun mulai bicara.
"Bay, gue benar-benar nggak menyangka kalau ini beneran, Lo." Gibran berkata seperti itu karena kejadian yang baru saja terjadi benar-benar nyata dan bukan mimpi.
"Lo tahu, Bay? Tadi Lo bangun dengan mata yang merah menyala seperti kobaran api, Lo tiba-tiba mencekik gue dan Lo bilang kalau gue harus mati.
"Bran, aku nggak tahu ini hanya perasaan aku atau kenyataan. Tapi, sewaktu aku belum sadarkan diri, aku merasakan ada orang lain yang menindih tubuhku." Bayu mengutarakan perasannya.
"Maksud kamu?" tanya Gibran bingung.
"Aku lihat leher kamu masih merah, Bran. Berarti dugaan aku nggak salah. Ada jin jahat yang bersemayam di dalam tubuhku sejak kita jatuh dari pesawat." Bayu menatap Gibran dengan serius, Gibran mengerutkan dahinya mendengar perkataan Bayu.
"Tapi kenapa gue bisa berantem sama dia kalau dia adalah jin, kenapa gue bisa lihat dia?" Gibran semakin tidak bisa memikirkan semuanya.
"Ada waktu mereka ingin memperlihatkan diri mereka kepada manusia seperti kita, Bran." Bayu menggenggam tangan Gibran.
"Aku semakin bingung dengan apa yang kamu bicarakan. Belum hilang rasa syok aku membunuh orang yang mirip kamu, tapi sekarang malah tidak ada apa-apa di sini."
***
__ADS_1
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.