Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Buatkan Saya Cucu!


__ADS_3

"Sakit, Pak! Jangan kencang-kencang!" Gia mencengkeram erat tangan Naira saat Pak Rabu mengurut kakinya yang terkilir.


"Berisik, suara Lo kaya toa rusak!" ucap Han yang sudah selesai berganti pakaian dan menyuapkan kerupuk ke mulut Gia agar gadis itu tidak lagi berteriak.


Gia menatap Han dengan matanya yang memerah menahan tangis. Namun, mulut Gia mengunyah kerupuk yang Han berikan padanya.


"Aduh!" teriak Gia lagi ketika kakinya seperti dipatahkan Pak Rabu. Gia reflek meraih tangan Han dan dia gigit untuk berbagi rasa sakit yang luar biasa menyiksa.


"Lepasin, nanti gue rabies!" Han meringis seraya menekan dahi Gia dengan hari telunjuk tangan kanannya.


Han melihat bekas gigitan Gia mengakibatkan luka kecil pada tangannya. Han menatap Gia seraya bergidik ngeri.


"Lon kira gue anjing?" Gia ingin meraih tangan Han lagi tapi tidak bisa.


"Lah, habisnya main gigit." Han meniup tangannya yang terluka.


.


.


.


Jasmine khawatir ketika Gia tidak kunjung pulang, sudah dia cari ke sekolahan dan rumah teman terdekat putrinya itu. Namun, tidak juga ketemu, pikiran Jasmine sudah tidak bisa jernih lagi, dirinya terlalu khawatir saat ini.


Jasmine berjalan bolak-balik sambil mengigit kuku jempolnya. Matanya sering melihat jam di tangan dan menatap ke halaman rumah dengan harapan Gia segera pulang.


"Kamu kenapa?" Gibran yang merasa terganggu akhirnya bertanya.


"Aku khawatir sama Gia, Mas. Sudah jam segini tapi dia belum pulang juga." Jasmine menatap suaminya sekilas sebelum matanya kembali melihat ke halaman rumah.


"Dia baik-baik saja. Kamu jangan terlalu khawatir!" Gibran kembali fokus membaca koran di tangannya.


"Aku mamanya dan gak tahu kabar dia sekarang bagaimana. Maklum kalau aku khawatir sama anak aku sendiri, Mas," ucap Jasmine dengan suara yang hampir serak karena menahan tangis.

__ADS_1


"Aku tahu kamu mamanya. Tapi, kamu harus ingat kalau aku ini papanya!" Gibran berkata dengan nada datar.


"Memang kamu tahu di mana dia sekarang?" Jasmine duduk di sebelah kanan suaminya yang terlihat tidak terlalu tertarik bicara dengan dirinya.


"Lagi di rumah calon mertua," jawab Gibran dengan ekspresi wajah yang datar.


"Maksud kamu apa?" Jasmine membalikkan tubuh Gibran sampai berhadapan dengan dirinya.


"Cium dulu kalau kamu mau tahu!" pinta Gibran manja.


Jasmine pun segera mencium suaminya dan ******* bibirnya sebentar. "Sudah aku cium, sekarang katakan maksud perkataan kamu tadi!" tuntut Jasmine mendesak.


"Kamu tahu Han teman Gio?" Jasmine mengangguk tanda dia kenal.


"Sekarang Gia sedang berada di rumah Han." Jasmine mengerutkan dahinya sampai terbentuk gelombang cukup dalam di sana.


"Ngapain ke sana?"


"Bikin cucu buat kita." Gibran tertawa kecil melihat ekspresi wajah istrinya yang berubah garang.


"Aku gak asal ngomong kok." Gibran memeluk Jasmine agar wanita itu berhenti memukuli dirinya.


... ***...


Gia keluar dari mobil dengan perlahan dan naik ke punggung Han ketika laki-laki itu dengan senang hati menawarkan diri untuk menggendongnya. Jasmine yang sudah sejak beberapa jam lalu menunggu Gia langsung berlari ketika melihat Gia pulang.


"Gia, kamu kaki kamu kenapa?" Jasmine bertanya dengan panik ketika melihat kaki putrinya dibalut dengan sebuah perban.


"Keseleo," jawab Gia singkat.


Han tersenyum ramah pada mama mertua masa depannya.


"Kok bisa?"

__ADS_1


"Masuk dulu, Ma! Kasihan Bang Kuda kalau kelamaan berdiri sambil menggendong tuannya seperti ini." Ucapan Gia menyadarkan Jasmine, wanita itu pun membiarkan putrinya dan Han masuk sekarang.


Gia dan Han duduk di sofa yang sama di ruang tamu. Gibran yang melihat putrinya terluka hanya tersenyum tipis dengan tatapan mengejek.


Gia mengerucutkan bibir melihat papanya yang tidak peduli. Rasanya sangat ingin melemparkan papanya ke sungai yang dipenuhi oleh banyak buaya lapar.


"Jadi, apa tujuan kamu ke sini, Nak?" Gibran menetap Han dalam.


"Tujuan saya ke sini untuk mengkhitbah putrimu," jawab Han dengan lantang.


"Lamaran saya terima. Silakan buatkan saja cucu yang banyak dan lucu-lucu!" Gia melotot mendengar candaan Han dan papanya.


"Mama, papa harus dimasukin ke rumah sakit jiwa sekarang juga." Gia tampak mengadu dan menjulurkan lidahnya pada Gibran.


.


.


.


...Singapura...


Gavin sedang berada di bandara menjemput adiknya yang baru saja tiba di bandara.


"Bang," panggil Gia dengan tangan melambai para Gavin.


"Adik gue sekarang udah gede." Gavin memeluk Gia saat adiknya itu berlari ke arahnya.


"Tambah cantik?" Gia mendongak dan memerhatikan wajah kakaknya yang lesu.


"Pak, jika ada orang yang mencari aku. Katakan pada mereka kalau aku pergi menemui orang yang sedang aku perjuangkan!" Gavin berpesan pada bodyguard yang mengikuti dirinya diam-diam.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Ngantuk berat


__ADS_2