Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSCJ : Chapter 29


__ADS_3

"Jangan nakal dong, Tuan. Nanti saya adukan ke teman saya!" ancam Jasmine yang malah membuat tawa Gibran pecah seketika.


"Nakal sama kamu tidak ada yang melarang, daripada diadukan sama teman kamu yang mungkin sundel bolong mending adukan ke penghulu biar dinikahkan." Gibran tersenyum sangat mempesona, membuat Jasmine kelepek-klepek seperti ikan di udara.


Entahlah, Jasmine tidak tahu kenapa setiap kali dia bertemu dengan Gibran pasti di saat yang tidak baik. Bayangkan saja pertemuan mereka pertama kali waktu Jasmine diusir oleh satpam kantor Gibran. Sungguh memalukan, bahkan dirinya harus di kejar anjing sampai memanjat pohon yang tinggi.


"Ogah saya nikah sama kamu, Tuan. Mending jadi perawan sesaat nikah sama orang lain saja." Jasmine menjauhkan dirinya dari tubuh Gibran, Gibran hanya menaikkan alisnya saat Jasmine menjauh.


"Saya kira kamu bakal bilang jadi perawan tua, eh ternyata jadi perawan sesaat." Gibran tersenyum sangat manis, saking manisnya malah tidak sehat karena menimbulkan diabetes.


"Bodo amat, Tuan. Pokoknya saya ogah kalau nikah sama kamu." Jasmine mendorong tubuh Gibran tapi semuanya sia-sia saja.


"Di mulut bilang ogah, di hati bahagianya membuncah bagai kapal pecah." Gibran meledak Jasmine dengan muka tengilnya.


"Kok kapal pecah?" tanya Jasmine menatap pada mata Gibran.


"Ya karena kalau kapal pecah itu berantakan, sama seperti hati kamu sekarang, hahaha." Gibran menertawakan Jasmine seenak jidatnya. Yang ditertawakan hanya diam sambil menatap bola mata Gibran jengah.


Setelah Gibran tidak tertawa lagi, Jasmine baru bersuara. "Tuan, saya mau pulang," ucap Jasmine dengan jelas.


"Kenapa kamu mau pulang?" tanya Gibran menatap pada mata indah Jasmine, entah kenapa saat menatap mata Jasmine, hati Gibran langsung disko.


"Karena saya sudah lelah dan lapar. Teman saya pasti juga sudah mencari saya karena saya tidak pulang-pulang." Jasmine berkata dengan jujur, walau ada unsur bohongnya sedikit saja, hanya sedikit kok tidak banyak.


"Kamu punya teman?" Pertanyaan Gibran membuat Jasmine sangat kesal, bukan karena pertanyaannya sih tapi karena nada bertanya Gibran yang sangat terdengar kalau itu sebuah ledekan.


"Tidak." Jasmine menjawab dengan singkat kemudian dia meninggalkan Gibran sendiri di taman.


"Jasmine, tunggu!" Gibran mengejar Jasmine dan menarik satu tangannya agar berhenti melangkah.


"Aduh, lepas dong sakit nih!" Jasmine menghempaskan tangannya kasar. Namun, tenaga Gibran lebih besar darinya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Gibran setelah membalikkan tubuh Jasmine menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Mau beli makanan, saya lapar." Jasmine menjawab dengan ketus dan dingin.


"Mau makan apa?" tanya Gibran sambil memainkan rambut panjang Jasmine yang tergerai dengan indahnya.


"Makan kamu." Jasmine menjawab dengan asal membuat Gibran terkekeh karena gadisnya itu kesal.


"Mau dong dimakan sama kamu." Gibran menarik pinggang Jasmine sehingga posisi mereka kembali berhimpitan.


"Astaga, jangan main-main denganku. Aku sudah sangat lapar, kalau tidak makan bisa mati berdiri aku." Jasmine mencubit pipi Gibran lalu segera melarikan diri saat mendapatkan celah untuk kabur.


"Gadis itu selalu berbagi membuat aku merasa gila." Gibran mengacak rambutnya sendiri sebelum akhirnya menyusul Jasmine yang dia yakini kalau gadis itu ke kantin rumah sakit.


Gibran berjalan dengan santai sambil sesekali menggoda perawat yang berpapasan dengannya. Gibran juga selalu tersenyum lebar saat mendengar pujian para perawat wanita yang memujinya di hati mereka. Tuhan sangat baik dengan Gibran karena dengan kondisi Gibran sekarang yang bisa membaca pikiran dan isi hati orang membuat Gibran bisa selalu waspada dan tahu mana orang yang baik dan buruk di dekatnya.


Hal ini pula yang menjadikan Gibran semakin gesrek karena dia merasa kalau hidupnya tidak akan indah kalau hanya monoton saja.


Tidak lama, Gibran sampai di kantin rumah sakit, mata Gibran menatap sekeliling untuk mencari seseorang yang dia kenal, dan orang itu adalah Jasmine.


Karena tidak juga melihat Jasmine, Gibran memutuskan untuk memesan makanan saja. Gibran menuju ke tempat khusu soto dan memesan dua porsi.


"Buk, pesan sotonya dua, sambelnya lima sendok buat yang satu, yang satunya ori tanpa campuran apa pun," ucap Gibran yang kini duduk di depan tempat dia memesan.


"Siap, Kasep. Di tunggu sebentar ya!" ucap ibu yang menjual soto.


"Oke, Buk." Gibran mengacungkan dua jempol miliknya pada ibu penjual soto.


"Minggu depan gue harus ke acara nikahan Azril, malas banget tapi kalau nggak datang kasian juga itu anak." Gibran masih terus berpikir kira-kira akan datang atau tidak.


"Bayu sih harus sakit segala, biasanya kan dia yang nemenin gue, kalau sekarang nggak ada yang nemenin gue di sana." Gibran melipat tangannya di atas meja lalu dia menjadikan tangannya sebagai bantal kepalanya.


Gibran menegaskan air matanya kala teringat dengan Bayu yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Walau dia bisa berkomunikasi lewat tepati, tapi itu rasanya berbeda dengan jika Bayu bicara langsung dengan dirinya.


Gibran menyesal karena hari itu dia tidak mengindahkan kata-kata Ranti untuk menunda keberangkatan mereka ke luar negeri. Karena tidak menurut itu akhirnya Gibran menyesal karena membuat pilot dan pramugari serta Bayu harus sakit.

__ADS_1


Karena Gibran fokus pada rasa sesalnya, dia tidak sadar kalau pesanannya sudah di antar di meja. Lamunan Gibran buyar saat bahunya ditepuk oleh seseorang.


"Den, ini sotonya di makan dulu mumpung masih panas!" pinta ibu penjual sambil menepuk bahu Gibran pelan.


"Eh, iya, Bu. Terima kasih." Gibran tersenyum lalu segera menghapus air matanya. Hal itu tidak luput dari perhatian si penjual soto. Namun, ibu itu tidak mau ikut campur dengan masalah Gibran dan memutuskan untuk tidak bertanya pada Gibran, takut kalau nanti malah akan memperburuk suasana hati Gibran.


"Sama-sama, ibu balik ke sana ya." Ibu itu segera pergi meninggalkan Gibran setelah Gibran mengangguk.


Dari kejauhan terlihat Jasmine berjalan ke kantin, gadis itu tadi tidak langsung ke kantin karena ingin buang air kecil dan akhirnya pergi ke toilet terlebih dahulu. Jasmine melihat Gibran duduk di salah satu kursi, dia pun memutuskan untuk menemui Gibran.


"Wuiiih, segarnya makan soto sendirian," ucap Jasmine langsung duduk di depan Gibran tanpa permisi.


"Kamu dari mana?" tanya Gibran saat melihat siapa yang duduk di depannya.


"Mencari, Bapak," jawab Jasmine sambil tersenyum lebar.


"Bapak mana, bapak mana, bapak mana, di mana, di mana?" Gibran malah bernyanyi sambil berjoget ria dan menghentikan makannya.


"Di Jonggol," ucap semua orang yang berada di kantin dan yang mendengar Gibran bernyanyi lagu yang sempat viral di masanya.


.


.


.


Bersambung ...


Maaf lama upnya, author sangat sibuk dan banyak tugas RL yang harus diselesaikan. Tentu saja author lebih mementingkan tugas RL daripada menulis novel.


Maaf ya kalau lama, tapi tetap up kalau ada waktu buat nulis. Mohon pengertiannya, menulis itu juga asal nulis, harus mikir juga. Sekali lagi maaf kalau up nya jadi lama.


Kalau pengen cepat up, ramaikan kolom komentar ya, kalau kolom komentar sepi, author jadi merasa kalau nggak ada yang nungguin jadi mau up pun jadi sebisanya.

__ADS_1


__ADS_2