Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Pesimis-nya Syala


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, Syala terbaring di ranjang dengan seorang dokter laki-laki bersamanya. Syala sebenarnya tidak mau disuruh pergi ke dokter. Namun, dokter itu memaksanya dirinya karena tidak mau melihat dirinya putus asa dan selalu bersedih.


"Beruntung aku tahu lebih awal, kamu masih bisa sembuh kalau mau menjalani perawatan yang pastinya tidak akan singkat," ucap dokter tersebut pada Syala.


"Aku tidak yakin bisa sembuh dan kalau aku kehilangannya, aku lebih baik mati saja." Syala menatap dokter itu dan tersenyum lemah.


"Kamu jangan pesimis, apa kamu rela melihat Gilang bahagia dengan wanita lain?" Pertanyaan dokter itu menghujam dalam dada Syala.


Mana mungkin dia rela? Tapi, kalau mengingat dirinya mungkin saja akan menjadi wanita tidak sempurna. Syala lebih memilih melepaskan Gilang daripada harus bertahan dan menyakitinya.


"Ten-tentu saja aku rela," jawabnya bohong.


Dokter laki-laki itu tersenyum tipis, dia tahu kalau Syala tidak berkata jujur sekarang.


"Biar aku memberitahunya kalau kamu sedang sakit," ucap dokter itu sambil mengambil ponsel dari saku celananya.


"Jangan!" ucap Syala cepat. "Tolong jangan beritahu dia, aku tidak ingin dia khawatir." Syala menatap dokter tersebut penuh permohonan.


"Hais, kalau seperti ini. Bukan hanya kamu yang terluka, tapi dia, orangtuamu, sahabatmu, dan masih banyak lagi." Dokter itu mencubit hidung Syala dengan sangat gemas dan membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal.


"Hm, aku takut usiaku tidak akan lama." Syala meraih tangan dokter itu dan menempelkan di pipinya.


"Jangan bicara seperti itu, aku tidak mau kehilanganmu. Kamu pasti ingat kalau Gilang juga pernah sakit kanker dan bisa sembuh, 'kan?" Dokter itu memeluk Syala dan mencium dahinya lembut.


"Kamu tahu? Aku berbohong kalau satu bulan lagi akan menikah dengan laki-laki lain," ucap Syala dengan mata berkaca-kaca dan balas memeluk dokter itu dengan sangat erat.


"Kamu sangat bodoh!" Dokter itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Ya, dari dulu aku memang bodoh." Syala mengigit dada dokter itu karena sangat kesal.


"Akh, kenapa kamu menggigitku?" Walaupun, pakaian yang dokter itu pakai cukup tebal, tapi rasa gigitan Syala sangat menyakitkan.


"Karena kamu sangat menyebalkan," ucap Syala dan membenamkan wajahnya di dada dokter tersebut.


"Aku akan menikahimu kalau kamu bersikap seperti ini." Dokter laki-laki itu meringis dan tertawa kecil ketika merasakan gigitan Syala lagi.


"Tidak akan ada kakak yang menikahi adiknya," ucap Syala lirih.


"Sejak kapan aku jadi kakakmu?" Dokter tampan itu malah gencar membuat Syala kesal.


"Apa karena sudah sukses kamu tidak mau mengakui aku sebagai adik kandungmu?" Syala mendongak dan menatap dokter itu dengan tajam.


"Heh, aku tidak punya adik menyebalkan sepertimu." Dokter itu tertawa kencang.

__ADS_1


"Mama, lihatlah anakmu itu!" Syala mengadu pada Riani yang sejak tadi hanya diam dengan pikirannya sendiri.


"Satria, jangan ganggu adikmu!" ucap Riani tegas.


"Aku tidak mengganggunya, Ma." Satria tersenyum manis tanpa dosa.


"Syala, kakak kamu benar. Kanker rahim kamu pasti bisa sembuh." Riani menghapus air matanya sendiri.


"Apa bisa?" Syala tidak yakin.


"Tentu saja bisa," jawab Satria dengan sangat yakin.


"Baiklah, aku akan berjuang untuk sembuh." Syala tersenyum dan langsung mendapat hujan cium dari kakaknya.


.


.


.


Brak!


Suara dentuman pintu yang dibuka dengan kuat mengagetkan Gilang yang sedang berbaring di ranjang sampai terjatuh ke lantai. Gilang pun dengan cepat kembali berdiri dan baik ke ranjang dengan wajah yang sangat kesal.


"Apa kalian tidak bisa membuka pintu dengan pelan?" Gia, Gavin, dan Gio tersenyum tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Memang aku kenapa?"


"Kita mencarimu dan menyusul ke Amerika dan London juga." Gavin berkata dengan sangat kesal.


"Kenapa tidak memberitahu?" Gilang cukup terkejut karena tidak tahu kalau dicari.


"Nomor Koko tidak bisa dihubungi." Gilang tersenyum. Dia lupa kalau dirinya telah ganti nomor dan belum memberitahu keluarganya.


Setelah beberapa menit di sana dan melontar banyak pertanyaan, juga mendengar cerita antara Gilang dan Syala. Gia langsung berkomentar.


"What? Koko gila, ya?" Gia menatap Gilang dengan tidak percaya kalau koko-nya itu sudah berhenti berjuang untuk cinta Syala. Gio dan Gavin pun sama terkejutnya dengan Gia.


"Aku masih waras, dia yang ingin menyerah dulu," jawab Gilang santai dan berusaha menyembunyikannya kesedihan dalam hatinya.


"Kenapa dia menyerah?" tanya Gio penasaran.


"Dia bilang akan menikah dengan laki-laki lain satu bulan lagi." Sakit sekali rasanya saat Gilang mengatakan itu.

__ADS_1


"Dan kamu percaya begitu saja?" Gio menatap Gilang tajam.


"Iya," jawab Gilang dan balas menatap Gio.


"Selidiki dulu semuanya, mungkin dia punya alasan sama seperti kamu dulu ketika kamu sakit."


Gilang langsung berpikir, benar juga. Hubungannya dengan Syala dua minggu sebelum mereka bertemu masih baik-baik saja. Bahkan, ketika tiga hari bersama pun Syala dan dirinya masih mesra. Perubahan Syala adalah di hari ke tiga mereka bertemu.


Gilang jadi ingin menyelidiki apakah perkataan Syala itu benar atau hanya bualan semata.


"Apa kalian mau membantuku mencari kebenarannya?" Gilang menatap mereka.


"Tentu saja," jawab mereka dengan kompak.


Gilang tersenyum. Namun, dibalik senyumannya itu, Gilang memiliki rencana lain yang jika hasilnya membuktikan kalau Syala hanya bohong. Maka, Gilang akan membuat perhitungan dengan gadis itu dan tidak akan memaafkannya dengan mudah.


Gia sepertinya paham kalau Gilang punya rencana lain karena senyuman koko-nya itu sangat misterius.


Jasmine berjalan menuju kamar Gilang dan masuk setelah mengetuk pintu. Sejujurnya, Jasmine takut untuk menemui putranya karena takut kalau ditolak. Namun, dia tetap ingin menjelaskan semuanya pada Gilang dan yang lain tentang kebohongan yang dirinya buat selama empat tahun ini.


Ketika Jasmine masuk ke kamar Gilang, tatapan semua orang terarah padanya.


"Mama mau bicara sama kalian," ucap Jasmine dengan suara yang tegas.


"Bicara apa?" Gia menatap mamanya dengan senyum yang tulus.


"Ini soal perjodohan Gavin dan Syala. Sebenarnya, perjodohan itu tidak benar-benar terjadi." Semua orang yang di sana terkejut kecuali Gilang.


"Aku sudah tahu, Ma." Gilang berkata sambil tersenyum.


"Tahu dari mana?" Gavin bertanya dengan penasaran.


"Dari Syala langsung."


"Oh," jawab Gavin singkat.


"Jadi, apa alasan Mama berbohong padaku?" Gilang menatap Jasmine tajam dan menuntut penjelasan.


Jasmine menghela napas panjang dan menceritakan semuanya dari awal tanpa ada yang dia tutupi. Sempat kecewa, tapi pada akhirnya empat orang remaja itu memaafkan Jasmine.


Mereka akhirnya bahagia tanpa ada kesalahan pahaman lagi. Hal selanjutnya yang akan mereka lakukan adalah menyelidiki kasus Syala.


Jasmine bahagia karena hubungan dengan mereka membaik. Dia berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi lain kali.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2