Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 54


__ADS_3

"Memang Kakak Tuhan sehingga aku harus takut dengan, Kakak?" Airin berkacak pinggang tidak peduli, toh Ridwan manusia bukan Tuhan yang pantas dia takuti. Di dunia ini yang Airin takuti hanya tiga, Tuhan, orangtua dan hantu.


"Kakak memang bukan Tuhan, tapi kakak bisa lebih menakutkan untuk kamu." Ridwan mendekatkan wajahnya pada wajah Airin. Airin membulatkan matanya kala Ridwan semakin mendekat dan mengurung dirinya. Airin terdiam beberapa saat, memastikan bahwa saat ini dia tidak salam mencium sesuatu.


"Napas Kakak bau terasi." Airin menutup hidungnya dengan tangan kanan. Tangan kirinya dia gunakan untuk mendorong dada Ridwan.


"Eh, benarkah?" Ridwan mencium bau napasnya sendiri, tapi dia tidak mencium bau terasi seperti yang Airin katakan karena dia juga tidak makan terasi.


"Aku cuma bo to the hong bohong." Airin tersenyum sinis, lalu dia berbalik badan dan mengambil ancang-ancang karena dia akan membuka pintu kamar tempat Jasmine berada dengan cara mendobrak tanpa aba-aba terlebih dahulu. Ridwan yang berada di belakangnya langsung terjengkang karena terkena dorongan panta* Airin, sedangkan Jasmine yang masih berada di balik pintu kamar langsung terjelungkup dan jatuh tengkurap di atas lantai.


"Enak sih di senggol pakai panta* tapi nggak sampai terjengkang kaya gini juga kali." Ridwan berdecak kesal memandang Airin yang sudah hilang di balik pintu dengan pintu kamar yang sudah hampir copot.


"Goyang senggol-goyang senggol oh enaknya, goyang senggol-goyang senggol oh nikmatnya, goyang disenggol, senggol digoyang, goyang disenggol, Sayang." Ridwan dengan suaranya yang memang sangat merdu (merdu dunia) dengan fasihnya melantunkan lagu sambil bergoyang.


Semua tokoh di karya author gesrek semua deh sepertinya.


"Semprul, kurang asem, Airin kamu menyakitiku." Jasmine mendesah, eh ... berdecak kesal kesal karena dadanya yang montok terasa sedikit berdenyut-denyut nyeri karena tertekan lantai.


"Endi seng lara (mana yang sakit?) bebebku?" Airin melihat Jasmine, menelisik tubuhnya dengan pandangan seksama.


"Kampret, deleng aku tibo nyungsep nang kene cah ayu." (Kampret, lihat aku jatuh tengkurap di sini anak cantik." Jasmine bicara dengan nada tinggi 8 oktaf mirip Prilly Latuconsina di film GGS (Ganteng-Ganteng Somplak) eh ... ( Ganteng-Ganteng Serigala).


"Ayam sorry, Sayang. Aku nggak tempe kalau kamu ada di balik pintu, lagian kamu kena-why coba ada di balik pintu?" Airin tersenyum tanpa dosa, lalu segera membantu Jasmine berdiri. Saat Jasmine telah berdiri Airin bisa melihat dengan jelas mata Jasmine yang bengkak membuat mulut Airin menganga.

__ADS_1


"Tawon (lebah) mana yang mencium mata kamu?" Airin mencandai Jasmine, dan yang dicandai hanya tersenyum paksa.


"Ini bukan disengat lebah, tapi disengat kata-kata ratu lebah (Ayunda ibu Jasmine). Jasmine sangat kesal karena memiliki teman otaknya miring ke kiri.


"Sus* aku sakit banget, Rin, dan ini gara-gara kamu." Jasmine memijit pelan dadanya yang terasa nyeri seperti diperas ... eh direma* keras.


"Eh ... tangan kamu dikondisikan dong, di luar ada kakak kamu." Airin memberi peringatan namun, dia malah melakukan hal yang sama seperti Jasmine. Semprulnya, yang dia pijit bukan dadanya sendiri, melainkan dada monto* Jasmine yang terpampang jelas di matanya.


"Eh, kok dadanya besar, ya? Perasaan punyaku kecil." Airin bergumam pelan.


"Tangan kamu minta disekolahkan!" Jasmine memukul tangan Airin yang semakin keras merema* dadanya.


"Astaga, anak perawan pada main apa?" Ridwan tiba-tiba sudah nyelonong masuk ke dalam kamar dan melihat apa yang dilakukan dua anak perawan yang absurd itu.


"Kakak masuk-masuk nggak permisi, main nyelonong aja. Nanti kalau Kakak sudah menikah pas making love sama istri Kakak terus aku main nyelonong masuk ke kamar gimana coba?" Jasmine memarahi kakaknya dengan gayanya yang khas, yang selalu dirindukan oleh kakaknya itu.


"Bagus, biar kamu tahu prosesnya pembuatan keponakan kamu," jawab Ridwan sambil menaik turunkan alisnya, sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman yang sangat Jasmine benci, karena senyuman itu mengejek Jasmine.


"Kakak udah nggak waras lagi, Kakak udah gila." Jasmine bergidik, lalu bersembunyi di belakang tubuh Airin yang lebih kecil dari tubuhnya.


Airin hanya bisa tersenyum kecut menyadari jika orang-orang yang selama ini dekat dengannya ternyata memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, kekurangan dan kelebihan mereka tidak umum karena tidak masuk di akal sehat. Masuknya di RSJ (Rumah Sakit Jomblo).


"Apa-apa ini?" Airin berteriak saat Ridwan memeluk dirinya dari depan dengan cukup erat. Sebenarnya Ridwan bukan memeluk Airin tapi, Ridwan memeluk Jasmine yang berada di belakang Airin. Karena terhalang tubuh Airin, jadilah Ridwan memeluk mereka berdua. Airin sangat malang karena dia harus terhimpit dua badan besar dari depan dan belakang.

__ADS_1


"Sudah gepeng makin gepeng aja nih aku," gumam Airin pasrah.


***


"Bunda, Gibran udah bilang kan kalau Gibran nggak mau dijodohkan. Ini bukan jaman dulu lagi yang orangtua harus ikut campur masalah percintaan anaknya." Gibran terlihat bersungut-sungut kesal, pasalnya, Ranti meminta Gibran untuk menikah dengan wanita yang dia pilih dengan persetujuan Satya juga.


"Kamu harus mau, ayah kamu juga udah setuju kok sama pilihan bunda." Ranti mencubit pipi Gibran dengan gemas melihat anaknya mengerucutkan bibirnya sampai dua senti, kalau dikucir sudah bisa itu.


"Kalau ayah setuju, biar ayah saja yang menikah lagi. Lumayan, kan, Bun. Gibran punya mama muda." Gibran menepis tangan Ranti yang masih mencubit pipinya. Dikiranya Gibran bocah kali ya sampai Ranti senang mencubit pipinya.


"Lah, kamu ini jadi anaknya bunda kok malah minta mama muda. Ayah kamu itu cuma cinta sama bunda, nggak akan yang lain di hatinya." Ranti terlihat marah dan tidak terima dengan perkataan putra semata wayangnya itu.


"Tapi kalau ada yang mau nikah sama ayah lagi, ayah siap kok, Gibran," sahut Satya sambil tertawa di belakang tubuh istrinya.


Ranti langsung berbalik badan dan menatap suaminya itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Haha, yang cinta mati itu ternyata Bunda bukan ayah, soalnya mata Bunda berkaca-kaca." Satya dengan percaya diri mengatakan itu pada Gibran.


"Siapa juga yang sedih karena itu?" Ranti mencebik kesal. Sebenarnya bukan karena sedih mendengar perkataan Satya, tapi karena matanya perih akibat dia mengucek matanya dengan tangan kotor bekas makan sama sambal dan belum cuci tangan.


"Terus kenapa, Bunda?" tanya Gibran penasaran.


"Karena bunda mengucek mata pakai tangan bekas untuk makan sambal ... hiks." Gibran langsung tertawa, sedangkan Satya tersenyum kikuk.

__ADS_1


__ADS_2