Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 76


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua bulan lebih Jasmine terbaring di rumah sakit, dan selama itu juga Gibran sudah bisa membiasakan diri mengurus dirinya sendiri seperti sebelum mereka menikah dulu. Gibran tidak pernah berhenti meminta pada Tuhan untuk segera membuat istrinya sadar, segala kebaikan ia lakukan mulai dari sedekah ke panti, jadi donatur, membangun masjid di desa terpencil, dan masih banyak kebaikan lain yang Gibran lalukan dengan harapan, semua orang yang ia bantu juga ikut membantu dirinya berdoa pada Tuhan untuk kesembuhan sang istri.


Gibran kembali fokus pada pekerjaannya di kantor, ia ingat jika tanggungjawabnya bukan hanya pada istrinya saja. Masih banyak orang lain yang membutuhkan dirinya, dan dengan ini juga, Gibran menjadi orang yang lebih tabah dan penyayang.


Hari ini ia libur, dan ia lebih memilih tinggal di rumah untuk sekedar istirahat sebelum nanti ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kesehatan sang istri.


"Gibran, kamu ke sini deh! Bunda mau bicara penting sama kamu." Ranti yang baru saja keluar dari kamarnya langsung memanggil Gibran yang berjalan lewat depan kamar.


"Kenapa, Bun?" Gibran menghentikan langkah kakinya yang hendak pergi ke dapur untuk membuat sarapan.


"Ayo masuk!" Ranti menarik tangan Gibran dan membawanya masuk ke kamar, Gibran tersenyum melihat ayahnya sedang bermain dengan Gio yang sekarang sudah berusia 4 bulan.


Gibran tertawa saat melihat Gio menangis karena tidak bisa berbalik dari tengkurapnya.


"Gio di balikin, Yah!" pinta Ranti merasa kasihan pada putra bungsunya itu.


"Iya, Bun. Kamu nggak ke rumah sakit, Gib?" tanya Satya sambil membalikkan Gio dan memberikan mainan padanya, dan bayi gembul itu pun langsung asik sendiri dengan mainan yang diberikan sang ayah.


"Rencananya sih mau ke sana, Yah. Tapi, nanti kalau udah agak siangan." Gibran duduk di tepi ranjang karena ia juga ingin bermain dengan adiknya.


"Kasihan istri kamu nggak ada yang nemenin juga di rumah sakit." Satya menatap putranya dengan prihatin.


"Ada kok, Yah. Jasmine ditemani sama Airin." Ranti sekarang malah jadi obat nyamuk di sana. Memang ya wanita itu selalu tidak dianggap kalau para laki-laki sudah berkumpul seperti ini.


"Airin itu teman istri kamu, 'kan?" tanya Satya mencoba untuk mengingat-ingat.


"Iya." Gibran sekarang malah ikut berbaring, ia mengangkat tubuh Gio yang sudah lumayan gemuk itu dan menaruhnya di atas tubuh.


Gibran mengusap-usap punggung Gio dengan lembut sampai adiknya itu merasa nyaman dan malah tertidur pulas.

__ADS_1


"Tadi bunda mau ngomong apa sama aku?" Gibran menatap Ranti yang duduk dengan mata memerhatikan mereka dari sofa.


"Iya, bunda ngerasa Jasmine sekarang agak gemukan dikit." Ranti bicara dengan sangat hati-hati karena ia takut akan menyinggung Gibran.


"Iya, sih, Bun. Jasmine emang makin berisi sekarang. Kirain cuma perasaaan aku saja, ternyata bunda juga merasakan hal yang sama." Gibran tersenyum, ia menutup mulutnya saat menguap karena ia masih mengantuk.


"Apa dia hamil, ya?" tebak Ranti. Gibran diam sejenak lalu berkata, "Kayaknya sih enggak, aku sama dia cuma baru berhubungan beberapa kali, Bun." Gibran merasa tidak mungkin jika istrinya hamil jika ingat dirinya baru berhubungan dengan Jasmine beberapa kali.


"Berhubungan satu kali kalau dalam masa subur juga langsung jadi, Gib," sahut Satya yang sekarang juga berbaring di ranjang.


"Masa sih?" Gibran tidak percaya begitu saja.


"Tanya aja sama dokter kalau kamu nggak percaya!" ucap Ranti.


"Tapi aku yakin sih nggak mungkin, Bun. Istri aku aja koma." Mata Gibran terpejam dan tangannya masih terus menepuk-nepuk bokong Gio.


"Beranak dalam kubur aja ada, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Gib." Ranti masih yakin jika mungkin menantunya hamil.


"Durhaka kamu sama bunda ngomong kaya gitu." Ranti menjewer telinga Gibran dengan kuat, sampai Gibran berteriak kesakitan dan membangunkan Gio yang baru saja tidur sampai menangis.


"Sini Gio sama ayah!" Satya yang hampir tidur langsung mengambil alih Gio dari Gibran. Satya membawa Gio ke balkon kamar untuk menjemurnya. Satya memang setiap pagi hari selalu mengajak Gio berjemur walau umur putranya itu sudah 4 bulan.


"Nanti kalau kamu ke rumah sakit minta sama dokter buat cek istri kamu hamil apa enggak!" Dalam hati, Ranti sangat berharap jika Jasmine benar-benar hamil, akan sangat bahagia dirinya jika melihat Jasmine punya anak, pasti nanti cucunya akan menjadi teman untuk Gio.


"Bunda ngebet banget pengen punya cucu, kalau mau gendong bayi kan udah punya Gio, Bun. Kalau masih kurang bisa bikin lagi yang banyak." Gibran memeluk guling milik Gio yang kecil, ia ingin tidur sebentar saja.


"Kamu pikir bikin anak itu gampang." Ranti terlihat kesal.


"Ya, emang gampang. Enak lagi, bikin ketagihan." Gibran terkekeh, sedangkan Ranti langsung menutup mulutnya sendiri karena merasa tadi ia salah bicara sampai Gibran bisa menjawab dengan jawaban seperti itu.

__ADS_1


"Kamu mah nggak asik." Ranti malu, ia langsung kabur ke balkon untuk bergabung dengan anak dan suaminya.


...***...


Rumah sakit.


Airin memang menginap tadi malam, ia rindu dengan sahabatnya yang belum juga sadar padahal sudah koma selama dua bulan. Airin membersihkan tubuh Jasmine dengan handuk kecil dan air hangat, ia sangat sedih melihat sahabatnya yang lemah seperti ini. Jujur saja, Airin lebih memilih telinganya sakit karena mendengar ocehan Jasmine daripada harus kesepian seperti ini.


Sudah 9 bulan Jasmine tidak tinggal di rumahnya semenjak Jasmine menikah dengan Gibran. Jasmine memang sesekali menginap di rumah Airin jika Gibran sedang ada pekerjaan di luar kota dan ia tidak ikut.


"Mel, cepat sadar dong! Gue butuh teman curhat, biasanya kan Lo yang mau mendengarkan curhatan gue." Airin mengembuskan napas panjang dan lemah.


"Gue tahu kalau kakak Lo suka sama gue. Tapi, gue nggak suka sama dia. Gue nggak mau punya adik ipar kaya Lo yang lemah kaya gini. Gue kenal sama Lo bukan dalam waktu yang sebentar, gue udah kenal lama sama Lo." Airin merapikan rambut panjang Jasmine yang selalu dengan telaten di bersihkan Gibran.


"Udah cantik." Airin tersenyum.


"Kok suami Lo nggak datang ke sini, sih. Gue mau pulang nih ada kerjaan." Airin mengirim pesan singkat pada Gibran untuk datang ke rumah sakit karena ia harus segera pergi.


Airin mengemasi barang-barang miliknya dan memasukkan ke dalam tas.


"Kamu mau pulang?" tanya dokter Adit yang baru saja masuk saat melihat Airin berkemas.


"Iya, Kak." Airin tersenyum melihat kakak sepupunya.


"Astaghfirullah, Airin itu Jasmine!" Dokter Adit berteriak panik.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Kalau boleh aku mau minta komen atau like-nya. 😣


__ADS_2