Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Bukan Iron Man


__ADS_3

Gio dan Gavin dengan terpaksa keluar kamar karena menuruti permintaan Gilang. Jasmine yang baru saja kembali dari kantin merasa kasihan dengan mereka tapi Jasmine sekarang tidak mau ikut campur dulu dan membiarkan mereka merasakan rasa sakit karena ulah mereka sendiri. Namun sebagai sekarang ibu, Jasmine tetap ingin membuat mereka tidak bersedih.


"Gio, Gavin, kalau kalian mau mendapatkan maaf dari Gilang. Jangan pernah berhenti berbuat baik dan buktikan dengan sungguh-sungguh kalau kalian telah berubah!" ucap Jasmine ketika melewati mereka berdua yang sedang duduk dengan kepala menunduk di kursi depan ruang rawat Gilang saat ini.


"Gilang marah sama aku, Ma. Gilang gak mau lihat aku," keluh Gavin sambil mendongak untuk menatap wajah cantik mamanya.


"Bagus dong, biar kamu tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu," jawab Jasmine tegas, padahal ia tidak ingin mengucapkannya.


"Ma, Gavin harus bagaimana?" tanya Gavin menatap sendu Jasmine.


"Kamu sudah dewasa, 'kan? Diskusi sama om kamu biar bisa nyari solusi sendiri!" perintah Jasmine.


"Gio juga bingung, Kak," tutur Gio dengan bernapas lemah.


"Kamu lebih dewasa dari mereka, kakak tahu usia kalian hanya selisih beberapa bukan. Sikap kamu yang seperti ini kalah sama anak umur lima tahun tahu gak?" Jasmine menatap Gio tajam, biarkanlah Gio bersikap lebih dewasa lagi nantinya.


"Kakak bukan bermaksud membuat kamu memaksa diri kamu untuk bersikap dewasa. Namun, kamu nantinya akan menjadi pemimpin perusahaan ayah, kalau sikap kamu seperti ini, bagaimana kamu mau jadi pemimpin?" Jasmine menunjuk dahi Gio dengan geram. Ingin sekali rasanya mencubit dan menguyel-uyel wajah Gio karena sangat hemas dengan Gio yang kadang terlewat polos.


"Iya, tahu. Nanti Gio mikir, sekarang Gio mau bersedih-sedih dulu. Kakak pergi aja!" Jasmine ingin tertawa tapi gengsi karena ia sekarang sedang dalam mode pura-pura marah.


"Ma," panggil Gavin lirih dan takut-takut.


"Apa?" jawab Jasmine singkat.


"Minta uang buat beli permen susu kita," pinta Gavin sambil tersenyum malu-malu dan tangan menengadah untuk menerima uang.


"Minta uang sama Om Gio biar nanti dibelikan susu kita!" perintah Jasmine dengan menunjuk Gio.


"Gak mau, biasanya yang ngasih aku permen milk kita itu Kak Gilang," ucap Gavin dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Sukurin, nanti kakak kamu ngasih kamu permen toxic biar mati," tutur Jasmine kemudian langsung masuk ke ruang rawat Gilang.


Gavin menatap kepergian mamanya dengan sedih, Gavin mengacak rambutnya dengan frustrasi dan memilih untuk menyusul Jasmine masuk.

__ADS_1


***


Gilang tidak biasanya bersikap cengeng, tapi sekarang ia sedang menangis karena telah membentak Gio dan Gavin. Gilang merasa bersalah tapi kalau ia tidak melakukan hal itu ia takut kalau Gio dan Gavin nanti malah ngelunjak.


"Kakak sayang sama kamu, Vin. Aku juga sayang sama Om Gio, selama ini aku tahu kalau diam-diam Om Gio selalu mengawasi aku dan membalas semua perbuatan buruk orang-orang yang mengejekku. Sikap Om Gio di belakang sama di depan beda jauh, kenapa Om Gio gak ngelakuin di depan aku aja? Kenapa Om Gio lebih memilih jadi pelindung aku di belakang aku? Dia kira dia itu iron man?" Gilang sekarang kesal sendiri dibuatnya.


"Untuk beberapa saat aku mau menghindari mereka dulu, aku belum siap menerima perubahan mereka yang langsung signifikan." Gilang memijit pelipisnya yang terasa sedikit sakit.


Gilang mendengar suara pintu dibuka, Gilang segera menghapus air matanya dan tersenyum manis ketika melihat Jasmine kembali.


"Nih minumnya!" Jasmine membuka tutup botol dan memberikannya pada Gilang.


"Gak bisa minum, Ma," jawab Gilang dengan wajah sedikit kesal.


Jasmine mengerutkan dahinya. "Memang kenapa gak bisa minum?" tanya Jasmine dan duduk di sebelah ranjang Gilang.


"Yang Mama kasih ke aku tutupnya doang," jawab Gilang sambil menahan tawa.


Eh?


"Apa kamu mau minum dari mama langsung?" tanya Jasmine sambil menunjuk miliknya.


"Astaghfirullah, Gilang udah dewasa, Ma. Mama jangan gila dong!" Gilang tidak menyangka kalau punya orangtua yang luar biasa.


Gilang tidak masalah kalau minum langsung dari tempatnya, tapi nanti minum milik istrinya bukan milik mamanya.


"Haha, dulu aja kamu kalau minum kencang banget, Gi. Punya nama kadang sampai sakit kalau tiba-tiba kamu gigit pas kamu udah punya gigi." Jasmine menghujani wajah Gilang dengan banyak ciuman karena gemas dengan putra pertamanya itu.


"Itu dulu, Ma. Kalau sekarang yang suka gigit Mama sudah ada papa," ucap Gilang sambil menaik turunkan alisnya.


Jasmine tersenyum tipis, ia sengaja melakukan itu sebenarnya untuk membuat Gilang tertawa. Jasmine tidak tega melihat Gilang terus bersedih setiap waktu.


"Anak siapa sih ini?" Jasmine mengacak rambut Gilang dengan gemas.

__ADS_1


"Anak alien mungkin, Ma," jawab Gilang sambil nyengir.


"Kurang asem, nih minum!" Gilang terkekeh, ia menerima botol air mineral dan meneguk isinya sampai habis satu per tiga botol.


"Sudah," ucap Gilang, ia menyerahkan kembali botol minum pada mamanya.


Gavin tiba-tiba masuk dan langsung memeluk Gilang cukup erat. Gilang mematung dengan apa yang dilakukan adiknya.


"Kak, Gavin pulang dulu. Nanti kalau Kakak mau marah-marah kalau Kakak sudah sembuh. Nanti kalau Kakak mau jewer, mukul, cubit, nendang Gavin Kakak lakuin aja, ya. Gavin sayang sama Kakak, dan Gavin baru menyadarinya sekarang." Gavin mencium puncak kepala Gilang dan kening Gilang kemudian melepas pelukannya.


Gavin meraih tangan kanan Gilang dan mencium punggung tangannya seperti seorang adik yang berbakti pada kakaknya.


"Gavin pulang, cepat sembuh ya, Kak!" Gavin berbalik badan, mencium pipi Jasmine kemudian berlari keluar kamar.


Dugh!


Rahang Jasmine turun, Gilang menutup mata sambil menggelengkan kepalanya.


Gavin mengusap dahinya yang terbentur dinding dekat pintu karena keluar tanpa melihat ke depan.


Gavin tertawa kemudian segera keluar dari ruang rawat dengan sangat malu.


"Om, balik yuk!" ajak Gavin sambil menarik tangan Gio.


Gio hanya pasrah mengikuti Gavin. Mereka pun pulang ke rumah sambil berpikir cara agar Gilang mau memaafkan mereka dan berteman dengan mereka seperti orang-orang pada umumnya.


***


Seorang gadis cantik berambut pirang duduk di bawah pohon sambil menatap danau di depannya dengan perasaan sedih.


"Biasanya aku ke sini sama Gilang, sekarang Gilang gak pernah ke sini lagi," ucap gadis itu dengan melemparkan batu ke danau dan terpantul dua kali di atas air sebelum akhirnya tenggelam.


"Gilang, aku rindu," keluhnya.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2