Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Perpisahan


__ADS_3

Gio, Gilang, Gavin, dan Gia masih berada di belakang rumah dan menikmati ikan bakar yang sangat asin dengan nikmat. Bahkan mereka sampai tidak tahu kalau nenek dan kakek mereka pulang saking asiknya mengobrol bersama di gazebo belakang.


Dari empat orang yang terlihat bahagia, hanya wajah Gilang yang sedikit bersedih. Jujur saja, ia masih merasa takut kalau operasi sum-sum satu bulan lalu tidak akan ada dampak yang baik untuk tubuh. Walaupun, dokter sudah mengatakan kalau kemungkinan besar dirinya sudah sembuh total. Namun, kemungkinan kecil kanker itu masih ada di tubuhnya masih ia percayai.


Menghabiskan waktu yang mungkin saja terisisa sedikit dengan orang-orang yang Gilang sayang mungkin akan membuat ia merasa tenang jika suatu hari nanti akan meninggalkan mereka dan kembali ke sisi Tuhan.


Bukan maksud Gilang untuk pesimis, tetapi ia hanya takut terlalu berharap banyak dan nantinya akan kecewa karena harapan itu tidak terkabul. Untuk beberapa menit, Gilang tidak sadar kalau dirinya malah melamun dan memikirkan hal-hal yang membuatnya merasa sedih.


Sebelum Gilang sadar dari lamunannya, Gia sudah lebih dulu melihat ekspresi sedih dari wajah Gilang yang bercampur dengan ekpresi bahagia. Walaupun begitu, sorot mata Gilang lebih dominan ke kesedihan dan senyum lebar di bibirnya itu, bukan sebuah senyuman dari hati, melainkan sekedar senyuman dari bibir yang ditarik sudutnya.


Koko mikirin apa, ya? Duh, kenapa hati aku gak tenang dan sakit lihat senyum Koko yang sepertinya sedang bersedih, batin Gia murung.


Gia tidak mau melihat Gilang yang seperti sekarang. Gia rindu dengan sosok Gilang yang pendiam dan perhatian.


"Koko makan ikan punyaku aja, ya! Punyaku gak asin jadi gak masalah buat kesehatan, Koko." Gia menyuapi Gilang dengan tangannya langsung dan tersenyum lebar berharap bisa sedikit menghibur Gilang.


Gilang yang tersadar dari lamunannya mengangguk dan menerima suapan dari adiknya dengan senang hati. Mungkin suatu hari nanti jika mereka berpisah momen seperti ini akan ia rindukan.


"Mikirin Kak Syala, Ko?" tanya Gia basa-basi, padahal ia sudah jelas sangat tahu kalau bukan itu yang Gilang pikirkan saat ini.


Gilang tersenyum tipis dan mengacak rambut panjang Gia dengan tangan kirinya.

__ADS_1


"Abang mau juga dong di suapin yang Neng Gia," ucap Gavin yang iri melihat Gia menyuapi Gilang.


Gia terkikik geli mendengar panggilan lebai dari kakaknya. Ogah banget Gia disuruh menyuapi, Gavin. Mending menyuap diri sendiri sampai kenyang.


"Nih, aku yang nyuapin!" Tangan Gio yang memegang potongan ikan sudah berada tepat di depan mulut Gavin.


Gavin tanpa pikir panjang menerima suapan Gio dan menggigit jari tangannya dengan cukup keras karena merasa kesal dengan tingkah laku om-nya yang menggangu.


"Auh, kenapa malah digigit, sih?" Gio meniup tangannya yang sedikit panas dan perih walau tidak terluka.


"Aku minta sama Gia bukan Gio," jawab Gavin dengan wajah tanpa dosa mengatakan itu.


Ayunda dan Akbar yang baru pulang dari jalan-jalan bersama anak, cucu, dan menantunya mencium bau harum dari arah belakang rumah mereka.


"Bau ikan bakar sepertinya, Pa," tebak Nisa-istri Ridwan.


"Kita cek ke belakang yuk, Yah!" Ayunda menarik tangan suaminya dan berjalan beriringan menuju belakang rumah. Samar-samar mereka mendengar suara orang tertawa dan mengobrol, suara-suara itu terdengar sangat tidak asing di telinga mereka.


Saat mereka sampai di belakang rumah, mereka berdua terkejut melihat ketiga cucunya dan adik ipar putrinya berada di gazebo dan sedang makan-makan dengan ceria.


"Cucu-cucu nenek kok ada di sini?" Ayunda berdiri di depan gazebo dengan senyum lebar di wajahnya.

__ADS_1


"Neneeeek ...." Gia yang melihat Ayunda langsung berdiri dan berlari sampai lupa kalau saat ini dirinya berada di gazebo sehingga.


Bruk!


"Giaaa!" teriak Gio dan Gilang bersamaan sambil melompat turun dari gazebo untuk melihat keadaan Gia yang terjatuh.


Uhuk ... uhuk! Gavin memukul dadanya dadanya kuat ketika ia tersedak dan duri ikan menyangkut di tenggorokannya karena ia terkejut dengan suara Gilang dan Gio yang tiba-tiba berteriak.


Sumpah demi apa pun, rasanya sangat menyakitkan. Gavin meraih botol minum dan meneguk isinya sampai habis, tetapi rasa sakit di tenggorakan masih menyiksa.


Gavin ingat Nenek Ranti pernah bilang kalau tersedak duri ikan ikan kita telan saja sesuatu yang mudah ditelan dan jangan dikunyah.


Mengingat hal itu, dengan tangan kelabakan, Gavin mengambil nasi putih dan langsung menelannya tanpa dikunyah.


Sementara itu, Akbar yang melihat kekacauan itu menjadi bingung antara membantu cucu laki-laki atau perempuannya, sehingga ia malah berdiam diri dan menonton saja.


Gio dan Gilang melihat Gia tengkurap di tanah. Tangan mereka terulur hendak membantu Gia berdiri. Namun, gerakan mereka langsung terhenti.


"Gia kangen sama, Nenek." Gia yang jatuh terjelungkup sampai dahinya sedikit tergores dan lutut berdarah berdiri dengan cepat dan memeluk Ayunda erat.


Gio dan Gilang yang melihat kelakuan Gia hanya bisa membuka mulut dengan lebar karena merasa sia-sia sudah mengkhawatir gadis kecil itu.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2