Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 81


__ADS_3

Gibran duduk di lantai pojok ruangan dengan kaki yang di tekuk dan tangan yang ia lipat melingkari lututnya, Gibran dengan sengaja menelungkupkan wajahnya yang berurai air mata di atas lutut. Gibran menangis pilu tanpa suara karena ia sama sekali tidak ingin Jasmine sampai mendengar suaranya. Di ruang rawat Jasmine yang baru, ia tidak berani untuk mendekati istrinya yang sudah berulang kali memanggil namanya dan meminta ia untuk mendekat.


Ranti yang melihat putranya menangis hanya bisa memberikan kekuatan untuk Gibran dengan cara mengusap-usap punggung putranya itu dengan sedih.


Ranti sudah tidak tahu lagi harus menghadapi masalah rumah tangga Gibran ini dengan cara apa, ia tidak tahu apakah ia mampu untuk selalu menenangkan Gibran dengan meyakinkan putranya itu ke depannya.


Satya, Airin, mereka juga menangis dalam diam, lebih memilukan daripada menangis dengan suara. Tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Jasmine saat mengetahui kenyataan pahit dalam hidupnya, dunianya sudah tidak ada lagi, ia tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana indahnya dunia dengan berjuta-juta warna yang membuat dunia ini begitu indah.


"Usia Gio sekarang sudah empat bulan, ya, Yah, Bun. Nggak terasa kalau aku koma lama banget." Jasmine tersenyum bahagia, ia membiarkan Gio menggenggam erat jari telunjuknya. Adiknya itu terlihat sangat tenang dalam gendongannya.


Gibran tidak mampu untuk menjawab pertanyaan istrinya, suara istrinya yang begitu tenang dan bersikap seolah dirinya baik-baik saja malah membuat tangisan Gibran semakin parah. Gibran langsung berdiri dan melangkah dengan cepat mendekati istrinya dan langsung memeluk sang istri dengan sangat erat.

__ADS_1


Airin yang melihat pemandangan menyesakkan dadanya itu bahkan sampai menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar sampai ke telinga Jasmine. Ranti mengusap air mata yang menetes di pipinya dengan lembut.


Jasmine tersentak kaget saat tiba-tiba tubuhnya di peluk seseorang. Namun, ketika ia mencium bau khas tubuh orang yang memeluknya, hati Jasmine menghangat karena ia tahu jika itu adalah Gibran–suaminya. Jasmine bisa merasakan dengan sangat kuat tubuh suaminya itu terguncang dengan napas yang terdengar tidak beraturan.


"Gio udah besar, ya, Mas." Jasmine berusaha membuat suasana di ruangan itu biasa-biasa saja. Namun, saat ia merasakan pangkal rambutnya basah, hati Jasmine rasanya seperti diiris dengan belati yang sangat tajam hingga menimbulkan luka yang sangat perih karena sayatan demi sayatan halus di hatinya.


"Iya, Gio sekarang sudah besar." Satya yang menjawab karena Gibran tidak menjawabnya, Satya hampir kehilangan suaranya saat sampai pada kata terakhir yang ia ucapkan.


"Jasmine pengen cepat pulang dan main sama Gio lagi kalau di rumah." Jasmine lagi-lagi tersenyum, ia mencium Gio dengan gemas, dan membiarkan Gibran menangis sambil memeluknya.


"Ka-kamu harus sembuh du-dulu baru b-b-oleh pulang." Ucapan Gibran terputus-putus, sekarang ia sudah menangis dengan suara yang memilukan saat Jasmine mendengarnya.

__ADS_1


"Kenapa semua ini harus terjadi pada menantu kita, Yah?" Ranti menatap Satya dengan mata yang sendu, tangannya bergetar di dalam pelukan hangat suaminya itu, Ranti menenggelamkan wajahnya di dada bidang Satya dan melanjutkan tangisannya.


"Ini sebuah cobaan dari Allah. Kita tidak akan pernah bisa menghindar dari takdir yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta." Satya mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Tapi kenapa harus menantu kita, Yah? Kenapa tidak orang lain saja?" Ranti sepertinya sangat terpukul sampai berpikiran buruk seperti ini.


"Bunda nggak boleh bicara seperti itu! Bunda tahu tidak kalau perkataan Bunda baru saja seperti menghina Allah? Allah itu tahu segalanya, tahu mana yang baik dan yang buruk untuk umat-Nya. Semua yang terjadi saat ini sudah direncakan oleh-Nya sejak kita belum ada di dunia ini, Bun." Satya menasihati istrinya dengan nada yang rendah dan lembut.


Ranti mengangguk lalu beristighfar dalam hati untuk meminta ampunan pada Allah.


"Kamu nggak usah nangis, Mas. Jangan seperti anak kecil yang kehilangan mainannya!" Jasmine berkata dengan tenang padahal sebenarnya ia tidak seperti itu.

__ADS_1


"Kamu itu bikin aku khawatir tahu nggak?" Gibran menghujani puncak kepala Jasmine dengan ciuman yang bertubi-tubi.


"Enggak." Jasmine menjawab singkat dan irit kata.


__ADS_2