
Gio yang menangis karena haus tidak bisa anteng di gendongan Jasmine. Jasmine yang sudah mulai kewalahan berjalan ke kamar mertuanya untuk mengembalikan Gio agar segera disusui bundanya.
Gibran mengekor di belakang istrinya, ia tidak membiarkan Jasmine jauh darinya.
"Bunda, aku masuk ya?" Jasmine mengetuk pintu kamar dengan tenang.
Samar-samar, Jasmine mendengar suara derit ranjang beserta desahan dari seorang wanita.
Wajah Jasmine rasanya panas, mungkin sekarang wajahnya telah memerah karena mendengar suara yang tidak seharusnya ia dengar.
Jasmine menutup mulut mungil Gio kemudian berlari kecil meninggalkan kamar mertuanya.
"Mau ke mana?" Gibran yang melihat istrinya berbalik juga langsung berbalik.
"Gio minum susu formula aja, kamu buatin ya!" Gibran mengerutkan dahinya melihat wajah istrinya yang memerah malu.
"Kamu kenapa?" Gibran penasaran penyebab istrinya memerah.
"Nggak apa-apa, ayo turun!" Langkah Jasmine yang sedikit terburu-buru dengan penglihatan yang tidak jelas membuat ia hampir jatuh terguling dari tangga.
Beruntung Gibran menahan tubuhnya sehingga istri dan adiknya selamat.
"Ya Allah, Sayang. Hati-hati!" Gibran sudah tidak tenang, jantungnya berdetak kencang dengan hati yang bergemuruh risau.
"Maaf, Mas!" Jasmine menunduk.
"Tidak apa, aku akan bantu kamu turun." Gibran merangkul bahu Jasmine dan mengajaknya turun secara hati-hati. Mungkin ia nanti akan pindah kamar di bawah saja karena takut akan terjadi hal buruk pada istrinya.
Sesampainya di bawah, Gibran langsung pergi ke dapur untuk membuatkan adiknya susu. Jasmine dan Gio menunggu di ruang keluarga.
...***...
Gibran berbaring dan membiarkan kepala istrinya bersandar di dada. Gibran mengusap kepala Jasmine kemudian memberikan kecupan singkat di sana.
"Cinta satu malam." Gibran bergumam tidak tenang.
"Kau harus segera melahirkan!" Mulai ngelantur dan tangannya bergerak nakal.
__ADS_1
"Junior mau masuk sarang." Gibran memindahkan posisi Jasmine agar berbaring dengan posisi telentang.
Gibran pindah posisi mendidih Jasmine kemudian ******* bukit kembar Jasmine yang tidak tertutup sehelai benang pun karena hubungan intim mereka dua jam yang lalu.
Tangan kanan Gibran mengarahkan miliknya ke milik istrinya kemudian langsung melakukan gerakan kecil setelah masuk sempurna.
"Belalai." Jasmine meracau tidak jelas, ia menikmati permainan intim mereka namun ia masih tidur.
Sampai bunyi berisik yang khas karena sentuhan tubuh keduanya yang bersatu di bawah sana, Jasmine tidak terusik.
Lima belas menit berlalu, keringat keduanya sudah membanjiri kasur, Gibran mempercepat gerakannya sampai cairan kental dan hangat itu memenuhi ruang di bawah sana.
Tubuh Gibran langsung ambruk di samping Jasmine yang napasnya tidak beraturan.
Gibran tersenyum puas karena telah mencuri satu ronde permainan pada malam ini.
Gibran memeluk Jasmine sambil memainkan bukit kembar yang menyembul dengan sempurna itu.
Lelah dengan permainannya, Gibran tidur nyenyak sampai ngorok karena merasa nyaman.
Di kamar Satya dan Ranti, sepasang suami istri itu sedang berdebat kecil karena masalah ASI yang diminum Satya.
"Kan yang punya susu kamu." Satya mengacak rambutnya frustasi, Gio terus menangis karena kehausan.
"Ayah juga punya," ucap Ranti.
"Punya ayah kan kecil, bun." Satya benar-benar menyesal karena telah membuat anaknya kelaparan.
"Sana pergi ke dapur, bikinin susu formula!" perintah Ranti dengan suara rendah tidak bersahabat.
"Bocah kecil, kalau ayah nggak ingat kamu ini. benih ayah, sudah ayah lempar kamu ke kadang kelinci!" Satya menggerutu, ia meletakkan Gio ke ranjang di samping istrinya kemudian segera pergi ke dapur untuk membuat susu.
Ranti yang melihat Satya keluar langsung ikut keluar, ia mengambil kunci cadangan di luar kamar kemudian kembali lagi masuk ke kamar.
Kunci utama yang masih menggantung di pintu langsung ia lepas setelah ia mengunci pintu dari dalam.
Ranti tertawa jahat kemudian naik ke atas ranjang, ia mengangkat tubuh mungil Gio dan langsung memberinya ASI.
__ADS_1
Sebenarnya, ASI dirinya sudah kembali penuh, hanya saja Ranti sengaja berbohong pada Satya agar lain kali Satya tidak lagi meminum ASI milik Gio.
"Gio malam ini tidur sama bunda aja, ya. Ayah biar tidur sama kelinci di luar." Ranti menciumi wajah putranya dengan gemas, setelah Gio tidur, ia meletakkan Gio di sampingnya kemudian ia juga tidur.
Satya yang sudah selesai membuat susu formula langsung kembali ke kamar. Namun, saat ia membuka pintu, pintunya tidak bisa dibuka.
Satya tahu jika pintu kamar itu dikunci dari dalam. Satya langsung berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan untuk mengambil kunci cadangan. Namun, tidak ada kunci cadangan di sana.
"Bunda pasti sengaja." Tubuh Satya melorot ke lantai, ia bersandar pada dinding kemudian meminum susu formula Gio menggunakan dot.
Alhasil, bayi besar itulah yang meminum susu formula dengan dot.
***
Poor Satya ...
☘☘ Sepak terjal kehidupan pasti ada, bakat dan karakter masing-masing orang itu berbeda, Tuhan selalu dengan mudah membolak-balikkan hati manusia. Dulu, seorang gadis yang masih usia belasan mempunyai teman yang usianya jauh lebih tua, berbedaan 10-30 tahun.
Namun, kalian boleh percaya atau tidak jika sering terjadi teman lama itu terlupakan karena orang baru, teman lama kadang salah satu lagi langsung sudah tidak dimaafkan karena teman baru yang lebih menyenangkan.
Bukan hanya usia yang berbeda, pasti kesibukan pun berbeda, bayangkan jika anak SMA bergaul dengan ibu rumah tangga yang tentunya lebih banyak pengalaman dalam hidup mereka.
Manusia itu tidak bisa menjadi sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan.
Membuat cerita ini butuh banyak belajar hingga kadang sampai sakit atau stres hanya karena ide yang telah dibuat hancur, atau kadang karena ide tiba-tiba dipatuk ayam(hilang)
Semua orang ingin yang terbaik untuk diri mereka sendiri, jika di misalkan. Semua orang punya peluang yang sama untuk menjadi seorang presiden, tapi hanya ada satu dari jutaan orang yang bisa menjadi presiden bukan?
Begitu juga dengan aku, banyak kesempatan untuk membuat cerita yang baik karena aku juga ingin jadi penulis yang hebat. Tapi, banyak kelemahan yang aku miliki sehingga sebuah karya yang awalnya tersusun rapi jauh berubah.
Belajar dan semakin belajar agar bisa membuat sebuah cerita yang benar tidak berputar tokoh, awal konflik, puncak konflik, sampai ending.
Tapi, kadang semua harapan itu hilang ketika hati dan otak mendapat perlakuan sederhana yang membuat keduanya terusik. Menimbulkan rasa sakit di kepala hingga stress, membuat hati menjadi ngilu karena sakit. Sampai kadang, AKU INGIN MENYERAH.
Well, orang introvert susah bergaul, mereka lebih memilih menyendiri daripada melakukan hal-hal yang tidak penting dan percuma.
Dan, aku salah satu di antara mereka.☘☘
__ADS_1
#edisi curhat
Yang bingung dan bosan sama novel ini boleh berhenti baca kok, karena ini bukan sebuah kewajiban.