
Jasmine yang melihat kelakuan Gibran langsung pingsan saat untuk ke dua kalinya dia melihat pisang ukuran jumbo milik Gibran. Sedangkan, Gibran yang melihat Jasmine pingsan langsung memeluk dahinya karena dia lupa kalau di dapur bukan hanya ada dirinya namun juga ada Jasmine. Gibran segera membenarkan celananya.
"Waduh, ada anak perawan di sini. Gibran-Gibran dasar oon malah bikin anak orang semaput (pingsan)." Gibran berjalan mondar-mandir seperti setrikaan rusak sambil mengigit kuku jari tangan kanannya sedangkan tangan kirinya terlipat di depan perut. Gibran menatap Jasmine dengan tatapan bingung harus melakukan apa sekarang.
Gibran sepertinya harus segera menikahi Jasmine karena gadis itu sudah beberapa kali memergoki dirinya melakukan hal yang ehem-ehem. Gibran juga yang pernah menikmati kenyalnya dada Jasmine saat mereka bertemu dahulu.
"Jas hujan, bangun dong!" Gibran berjongkok lalu menoel-noel pipi Jasmin. Namun, Jasmine tidak kunjung sadar juga.
Hihi, Jangan-jangan kamu mau minta saya kasih napas buatan ya? Atau malah berakhir ciuman? Gibran tertawa dalam hatinya membayangkan kalau Jasmine bangun saat dia kasih napas buatan, alamat burungnya lepas dari persembunyian.
Gibran akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah yang paling mudah dan dia yakin Jasmine pasti akan sadar dengan cara itu. Gibran menyibakkan rambutnya ke belakang sehingga ketampanan dirinya bertambah berkali-kali lipat.
Byur ... Gibran menyiram wajah Jasmine dengan air keran yang dicampur garam, karena mulut Jasmine sedikit terbuka, rasa asin dari air itu terasa sangat menyiksa tenggorokannya sehingga dengan cepat, Jasmine bangun sambil terbatuk-batuk di depan Gibran.
__ADS_1
"Uhuk ... uhuk ...." Jasmine memukul dadanya sendiri karena merasa sedikit sakit efek terbatuk-batuk.
"Asta- huk ... astaga, Tuan kau sungguh tidak punya perasaan menodai gadis cantik sepertiku sampai terluka seperti ini." Fix, ini Jasmine overdosis obat stress terlalu parah sehingga omongannya melenceng ke kanan dan ke kiri macam lagu senam aerobik mamah muda.
"Bagus akhirnya kau bangun juga, kenapa kau pingsan tadi?" Gibran memasang wajah menyebalkan di depan wajah Jasmine yang sedikit memerah karena terbatuk-batuk tadi.
"Itu karena dirimu." Jasmine tersenyum malu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku kenapa?" Gibran memancing Jasmine agar mengatakan yang ingin dia dengar.
Sepertinya, Jasmine lupa untuk berhati-hati karena tidak ingat jika lantai yang dia pijak tergenang air garam yang digunakan Gibran untuk mengguyurnya tadi. Sudah jatuh tertimpa tangga, Jasmine terpeleset hingga jatuh ke depan dengan posisi tangan menekan benda tumpul dan padat milik Gibran.
Matilah kau Jasmine, matilah kau! Aku sungguh sangat malu ya Tuhan. Jasmine menggigit bibir bagian bawahnya tidak siap jika Gibran akan murka karena dirinya.
__ADS_1
Gibran langsung berteriak keras karena merasakan sakit yang luar binasa ... ralat, luar biasa pada bagian bawah tubuhnya. Jasmine menutup telinganya karena berdengung akibat suara merdu yang membuat beberapa gelas dan piring pecah sampai berserakan di lantai dapur.
"Arrrggghhh ... Jasmine, kau membuat telur masa depanku pecah!" Gibran mendorong tubuh Jasmine lalu segera mengusap-usap miliknya yang berdenyut-denyut nyeri. Sedangkan Jasmine belum sadar kalau dirinya terluka dan baru tersadar saat dia merasakan perih karena telapak tangan kirinya tertancap dan tergores pecahan gelas yang berada di lantai dapur.
"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja!" Jasmine bangkit sambil menangis menyesal dan menangis karena menahan sakit.
Karena teriakan Gibran yang mengganggu seisi galaxi, Ranti, Satya, dan Bayu langsung bangun dan menuju ke sumber suara. Saat mereka bertiga sampai di dapur mereka hanya bisa melongo sambil menggelengkan kepalanya melihat kekacauan yang terjadi di dapur.
"Bundaaa ...." Gibran merengek saat melihat Ranti berada di sana.
"Tante, sakit." Jasmine menutup matanya karena tidak mau melihat darah yang terus mengalir dari luka di telapak tangannya.
***
__ADS_1
Komen, share. Kalau komen rame aku up lagi.