
Tujuh hari berlalu dengan cepat dan Gia sudah pulang ke rumah orangtunya. Gibran dan Jasmine meminta pengantin baru itu tinggal di kediaman mereka karena masih ingin memantau Gia yang baru saja sembuh dari sakitnya.
Gia sudah mulai ceria seperti biasanya, tetapi gurat kesedihan masih terlihat lewat sorot matanya dan itu tidak bisa dia sembunyikan.
"Mama sama papa kalau mau mesum jangan di sini dong!" Gia menggerutu melihat papanya yang manja dengan sang mama di dapur. Menggerutu karena cemburu lebih tepatnya karena mama dan papanya berciuman dengan panas.
"Kamu kalau iri bilang!" Gibran menjulurkan lidah mengejek putrinya yang ditinggal Han bekerja di luar kota selama dua hari.
"Tua-tua malah makin ngeselin. Baaang, kesel banget aku sama mama dan papa." Gia bergelayut manja di lengan Gavin yang sedang sibuk dengan ponsel di ruang makan.
"Ciuman sama abang aja yuk!" Gavin menjawab santai tanpa melihat adiknya.
"Edan! Ogah banget." Gia merinding, walau kakaknya itu tampan dan mempesona, tetapi tetap saja itu kakak kandungnya dan tidak boleh dia cium seenaknya. Gia dengan kesal memainkan rambut Gavin yang sedikit panjang.
"Suruh suamimu pulang kalau pengen ciuman seperti mereka!" titah Gavin sambil tersenyum mengejek.
"Kalau udah pulang bukan ciuman lagi, Bang. Langsung aku ajak kawin." Gia tertawa setelah mengucapkan kata-kata itu.
"Kita ajak yang kawin yuk, Ma!" Gibran menarik tangan Jasmine dan mengajaknya ke kamar mereka yang sekarang sudah pindah di lantai satu.
"Masih pagi woi!" Gia berteriak kesal, masa iya dia kalau sama orang tua.
...***...
__ADS_1
Malam hari, pukul 21. 00 WIB. Han sudah pulang ke rumah sejak pukul 17. 00 WIB. Dia bahagia karena setelah manahan rindu selama dua hari akhirnya bisa bertemu dengan istrinya secara langsung. Walaupun kesehatan Gia mulai membaik. Han tetap dibuat kalut karena sang istri tidak mau menceritakan alasan kenapa dia menangis sembilan hari yang lalu. Gia lebih memilih diam sambil memeluk tubuh suaminya yang menjadi tempat paling nyaman untuknya saat ini. Wangi tubuh Han yang begitu mirip dengan Gilang membuat kesedihan Gia perlahan mulai terkikis.
Di kamar Gia yang cukup besar itu, Han duduk bersandar pada ranjang dan Gia memeluk tubuhnya dengan posisi berbaring miring dengan kepala bersandar di perut Han.
"Bee, benar-benar gak mau cerita sama aku nih? Aku sedih lihat kamu seperti ini." Han mengusap lembut rambut panjang Gia yang sedikit berantakan karena ulahnya beberapa jam yang lalu. Ya, beberapa jam yang lalu dia memaksa Gia untuk mandi, tetapi wanita itu menolaknya dengan berbagai macam alasan. Terpaksa Han membuka semua pakaian istrinya itu dan memandikannya. Malu? Tentu saja dia sangat malu, tetapi tidak apa karena yang dia lihat adalah tubuh istrinya sendiri, tubuh yang halal untuk dirinya.
Setelah selesai memandikan Gia, Han menyuruh Gia duduk dengan tenang dan dia mulai mengeringkan rambut Gia. Namun, Gia menolak tegas dan Han pun membiarkan saja rambut istrinya berantakan dan mengering tanpa pengering.
"Udahlah gak usah dipikiran. Aku gak mau sedih-sedih lagi seperti dua hari yang lalu. Mending kita bikin dedek bayi yuk!" ajak Gia manja, menggoda suaminya dengan cara memainkan tangan kanan di suatu tempat di mana letak kelemahan suaminya berada.
"Dedek bayi terus pikiran kamu." Han mencubit gemas hidung Gia.
"Diajak yang enak gak mau." Gia melepaskan pelukannya lalu dia beranjak turun dari tempat tidur. Dia membuka laci di dekat almari lalu mengambil dua benda dari sana. Han melihat apa yang dilakukan sang istri dan membiarkan saja karena takut kalau nanti salah bicara.
"Borgol atau dasi, Bang?" Gia bertanya seraya memperlihatkan benda di tangan kanan dan kirinya.
"Ikat kamu biar gak kabur kalau diajak bikin dedek. Pakai borgol aja deh." Gia melemparkan dasi ke sembarang arah lalu naik kembali ke ranjang dan tanpa izin pada Han, dia memborgol tangan kanan suaminya dan dia satukan dengan tiang penyangga tempat tidur.
Han menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya, sebenarnya dia tidak menolak ajakan sang istri. Hanya saja dia takut kalau kesehatan Gia akan kembali menurun kalau diajak melakukan aktivitas yang melelahkan.
"Cuma satu nih yang diborgol?" Han tertawa kecil, istrinya itu benar-benar sangat luar biasa mesum sekarang.
"Satu aja cukup." Gia mematikan lampu utama dan membiarkan satu lampu kamar menyala remang-remang. Dia duduk di atas perut Han dan membuka semua pakaian Han dengan perlahan. Dia mencium suaminya dengan mesra dan Han membalas dengan perlakuan yang sama, dengan satu tangan yang bebas, Han membuka pakaian Gia dan bermain di tempat di mana tempat itu akan menjadi sumber nutrisi anaknya kelak.
__ADS_1
Gia mulai melakukan apa yang dia mau dengan sesuka hati setelah berdoa tentunya. Dia mencium bagian mana saja di tubuh suaminya yang ingin dia beri tanda cinta. Han mulai tersiksa karena dia tidak bisa membalas sang istri dengan satu tangan diborgol.
Gia mulai menggila, dia membuat suaminya mencapai puncak walau tubuh mereka belum menyatu. Napas Han sudah memburu dan tubuhnya lemas setelah pelepasan.
Gia membuka borgol tangan Han dan sekarang giliran Han yang melakukan apa yang dia mau terhadap tubuh istrinya.
Gia mengigit bahu Han dengan sangat kuat ketika kehormatan dirinya dan Han bersatu di bawah sana.
Napas mereka memburu, keringat mereka bercucuran, rambut panjang dia menempel di leher dan bahu yang basah, sungguh AC di kamar itu terasa tidak berguna saat dua insan manusia terbuai dalam kenikmatan yang tiada tara.
Han menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. Dia mendekap tubuh istrinya erat dan mengajaknya terlelap setelah menyelesaikan aktivitas panas mereka.
"Terima kasih, Sayang. Tidurlah!" Gia hanya mengangguk lemah karena Han membuat dirinya sangat lelah. Mereka hanya melakukan satu kali, tetapi dalam waktu yang cukup lama. Pinggang Gia rasanya seperti mau patah karena ulah suaminya yang benar-benar membuatnya sangat puas.
"Maaf kalau aku memaksamu, aku hanya tidak ingin menunda ibadah kita terlalu lama." Gia mengusap lembut tangan Han yang melingkar di perutnya.
"Tumbuhlah di rahim bunda, Sayang. Papa ingin kalian segera hadir agar keluarga kita sempurna." Han mengusap lembut perut Gia lalu memejamkan mata. Dia sangat tidak sabar mendengar suara tangis bayi hasil aktivitas panas mereka.
"Bunda dan papa?" Gia tersenyum, panggilan itu sempat dia pikirkan sebelumnya.
"Iya," jawab Han lirih.
Gia tersenyum dan mengangguk serta mengamini doa suaminya. Han memeluknya dari belakang karena dia tidur memunggungi suaminya.
__ADS_1
...TAMAT...
Ekstra Part akan ada beberapa bab. Terima kasih untuk pembaca yang membaca karya ini sampai tamat dan maaf jika cerita ini mengecewakan kalian. Ok, see you next time.