Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 71


__ADS_3

Aku mau lihat, sampai kapan kau akan bertahan.


Kenapa ia malah berdiam diri meratapi nasib buruk yang ia buat sendiri di depan sebuah musala rumah sakit yang tidak terlalu luas?Kenapa ia tidak salat dan mendoakan diriku seperti doa-doa yang sering aku dengar saat ia duduk di samping ranjang tempat jasadku berbaring?


Apa aku harus terus memerhatikan dirinya lewat mataku sendiri namun ruang dan waktu kita berbeda.


Ya, Tuhan. Aku harus apa?


Andai aku bisa menggerakkan jari tanganku yang lentik untuk memberikan petunjuk jika aku baik-baik saja, andai aku bisa membuka mata indahku, andai aku bisa bicara dengan mulutku. Andai aku bisa berbicara lewat telepati padanya, mungkin semua tidak akan menjadi rumit seperti sekarang.


Ah ... kenapa aku terlalu memuji diriku sendiri dan malah jadi berandai-andai seperti ini?


Sudahlah, biarkanlah semua berjalan dengan semestinya, jika Tuhan dan alam mau memisahkan kita untuk sementara. Aku akan berusaha menjalaninya, dengan senyum yang tidak akan pernah orang lihat dari bibirku, dengan tangis yang tidak akan orang lihat air mataku, dengan amarah yang tidak akan orang lihat kehancurannya.

__ADS_1


Aku ingin tidur, ingin beristirahat, sejenak saja. Tidak lama, hanya sembilan bulan, sampai anakku lahir dan memberikan aku kekuatan untuk membuka mata melihat lucu dan menggemaskan mereka.


Jasmine POV end.


Gibran masih tetap di musala, ia tidak ingin cepat-cepat kembali ke ruang rawat sang istri karena ia takut jika yang ia lihat masih sama, ia takut kalau yang ia lihat hanya tubuh lemah yang berbaring dengan nyaman seakan tidak pernah mau untuk meninggalkan tempat itu, atau dengan kata lain, tidak akan pernah sadar.


"Selamat sore, saya lihat Anda sudah tiga jam lebih duduk di sendiri jika dihitung dari detik terakhir saya melihat, Anda." Seorang dokter muda dan tampan yang tidak lain adalah dr. Adit menyapa Gibran.


"Kenapa waktu cepat berlalu?" Gibran tersenyum pedih.


"Apa yang sedang Anda pikirkan?" Dokter Adit tersenyum, ia duduk di sebelah kiri Gibran.


"Istriku, aku sedang memikirkan istriku," jawab Gibran lirih, bahkan dr. Adit hampir tidak bisa mendengar kata terakhir yang Gibran ucapkan.

__ADS_1


"Jasmine? Anda tenang saja, ia perempuan yang sangat kuat." Gibran menoleh, menelisik lebih dalam menatap dr. Adit karena perkataan yang baru saja ia dengar.


"Dokter seperti sudah mengenal lama istriku saja." Gibran tidak tahu jika Jasmine bahkan pernah menyukai dr. Adit karena istrinya itu tidak pernah bercerita.


"Saya memang tahu tentang ia, bahkan saya tahu jelas sejarah paling kelam dalam hidupnya." Dokter Adit tidak bermaksud untuk menyombongkan diri, karena ia berbicara apa adanya.


"Ah, aku ingat. Kau itu dokter yang dulu bertemu istriku saat Bayu sedang dirawat di sini." Gibran tersenyum, senyuman yang terlihat dipaksakan.


"Mungkin iya," ucap dr. Adit tenang.


"Kenapa kau di sini?" tanya Gibran menatap datar dr. Adit.


"Ini tempat umum, jadi saya tidak punya alasan khusus yang harus saya laporkan pada, Anda." Bicara dengan nada lembut, santai, tapi menusuk.

__ADS_1


__ADS_2