Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 38


__ADS_3

Di dalam kamar, Ranti terlihat gelisah, dia bolak-balik melihat ke pintu berharap ada yang mengetuk dan memohon kepadanya untuk masuk. Namun, sudah beberapa jam ia menunggu, ia tidak mendengar suara ketukan pintu.


"Apa ayah tidur di kamar sebelah, ya?" Ranti menduga sambil menjatuhkan bokongnya duduk di tepi ranjang. Ia menyatukan kedua tangannya lalu menjadikan tumpuan untuk dahinya.


Sebenarnya Ranti sulit tidur jika tidak ada Satya di sebelahnya, akhirnya ia pun berjalan keluar kamar lalu dia melihat ke kamar sebelah untuk mengecek keadaan Satya.


Ranti membuka kamar dengan sangat pelan, dan benar saja ternyata suaminya itu ada di dalam sana. Ia melihat suaminya sudah terlelap. Mata Ranti menatap penuh rasa bersalah saat melihat lutut Satya yang lebam dan terluka.


"Itu lutut bisa memar sama luka gitu, ya? Padahal aku tadi dorong ayah nggak kencang-kencang amat," ucap Ranti lirih.


Kaki Satya masih menjuntai di lantai, membuat luka di lututnya semakin terlihat jelas di mata Ranti. Ranti menitikkan air mata, ia berjalan mendekati Satya lalu berjongkok untuk melihat dengan jelas lutut Satya uang terluka.


Ranti akhirnya membenarkan posisi tidur suaminya itu. Setelah itu, ia naik ke ranjang dan berbaring di samping suaminya.


"Ayah pasti bakal maafin bunda kalau bunda kasih ini." Ranti tersenyum cantik, ia mengecup dahi suaminya dengan perasaan sayang lalu ia melakukan sesuatu pada Satya. Terlihat Satya menikmati apa yang dilakukan oleh istrinya itu walau dengan mata yang terlelap.


***


Di halaman rumah Satya, Gibran dan juga Bayu sudah pulang atas dasar keinginan Bayu. Saat ini, mereka sedang menunggu Pak Mamat menutup gerbang yang sempat dibuka saat motor Gibran memasuki halaman rumah.


"Selamat malam Tuan Gibran dan Tuan Bayu." Pak Mamat tersenyum kepada kedua pemuda itu.


"Selamat pagi juga, Pak." Gibran tersenyum balik kepada Pak Mamat.


"Malam, Gibran. Bukan pagi," sahut Bayu yang duduk di jok belakang sambil sedikit nungging karena tangannya melingkar di perut Bayu.


"Tahu. Pak Mamat, saya masuk dulu ya." Gibran kembali memutar gas motornya setelah Pak Mamat mempersilakan mereka.


Sesampainya di garasi, Gibran menyuruh Bayu turun dengan perlahan karena kondisinya yang masih cukup lemah. Bayu pun menurut dan turun dari motor Gibran. Setelah Bayu turun, Gibran juga turun lalu menuntun Bayu berjalan masuk ke rumah.

__ADS_1


Sesampainya di dalam rumah, Gibran mengantar Bayu sampai ke dalam kamar tamu tempat di mana Bayu selalu tidur di sana saat menginap di rumah Gibran.


Gibran membantu Bayu merebahkan diri di atas ranjang lalu menyelimutinya.


"Bay, gue keluar ya mau mencari ayah sama bunda." Gibran berpamitan pada Bayu yang menjawab dengan anggukan kepala.


Gibran segera pergi ke kamar kedua orangtuanya, Gibran langsung masuk ke kamar orangtuanya saat melihat pintu kamar itu terbuka.


Gibran menoleh dan menatap ke segala penjuru ruangan namun dia tidak melihat Satya dan juga Ranti. Akhirnya, Gibran keluar kamar tersebut dan mengecek di kamar sebelah.


Ternyata pintunya tidak dikunci sehingga tanpa permisi Gibran masuk ke dalam kamar tersebut. Perlahan, Gibran mendekati ranjang tempat di mana pasangan suami istri sedang tidur dengan sangat nyenyak.


Gibran menyibak selimut yang menutupi tubuh kedua orangtuanya itu. Gibran langsung menjerit kaget saat melihat Satya serang meny*** pada Ranti.


"Astaghfirullah, Ya Allah Ya Rahman Ra Rahim Ya Malik Ya Kudus." Gibran menutup kedua matanya saat melihat pemandangan yang tidak pantas dia lihat.


Karena teriakan Gibran yang keras, sontak membuat Satya kaget dan bangun dari tidurnya. Sama halnya dengan Gibran, Satya juga kaget saat menyadari kalau mulutnya sedang meny*** pada dada Ranti.


"Bunda apa-apa in, Bunda tadi malam perkosa ayah, ya?" tanya Satya menatap tajam istrinya itu.


Satya langsung menutup bagian atas tubuh istrinya itu dengan selimut, ia bangun dan berjalan cepat mengajak Gibran keluar kamar. Satya menarik tangan Gibran seperti menuntun anak kecil.


"Siapa juga yang memperkosa Ayah, yang ada bunda itu memberikan nutrisi untuk Ayah. Ayah mau ke mana?" tanya Ranti yang sudah sepenuhnya.


"Mau ke Terminal Pasar Baru," jawab Satya sekenanya.


Ranti menyusul Gibran dan Satya keluar kamar, saat ia keluar ia disuguhi pemandangan seorang ayah yang sedang menasihati anaknya.


"Kamu lain kali kalau masuk kamar itu ketuk pintu dulu, jangan main nyelonong aja!" ucap Satya dengan suara lirih karena dia malu dengan Gibran saat ini.

__ADS_1


"Ayah juga sih, malam-malam begini malah asik main sama bunda," kata Gibran membela diri.


"Ayah nggak tahu kenapa bunda kamu ada di kamar ini, tadi bunda sempat marah sama ayah dan mengunci ayah di luar kamar karena ayah malah main catur sama Pak Mamat." Satya menjelaskan yang sebenarnya karena dia tidak ingin menyimpan rahasia pada putranya sendiri.


"Ah udah lah, jangan dibahas, Yah!" ucap Gibran yang tidak ingin ikut campur masalah kedua orangtuanya.


"Kamu kenapa masuk kamar ayah?" tanya Satya.


"Mau mencari ayah sama bunda untuk ngasih tahu kalau Bayu udah pulang," jawab Gibran, ia mengutarakan maksud dirinya mencari orangtuanya.


"Bukannya dia masih kritis, kok udah pulang? Jangan bilang kalau dia juga jadi sableng seperti kamu!"


"Si Ayah, jangan negatif dulu pikirannya, Yah!" Gibran merasa tidak suka dengan pemikiran ayahnya yang aneh-aneh.


"Kok kamu nggak larang Bayu buat tetap tinggal di rumah sakit? Kalau kondisinya masih kritis, kasihan dia kalau pulang, Gibran," sahut Ranti berjalan mendekati dua orang yang ia sayangi.


"Gibran juga udah melarang Bayu, Bun. Tapi Bayu tetap kekeh ingin pulang. Katanya ia rindu sama kalian," ucap Gibran menjelaskan, ia sedikit kesal karena cemburu melihat ayah dan bundanya bermesraan tadi.


"Di mana Bayu sekarang?" tanya Satya, ia merangkul bahu Ranti lalu menggigit bahu istrinya itu karena gemas dengan tingkahnya.


"Aduh, Ayah. Bahu bunda sakit, main gigit aja nggak bilang-bilang." Ranti melotot pada Satya, membuat Gibran semakin jengah melihatnya.


"Bayu ada di kamar yang biasa, kalau mau mesra-mesraan jangan di depan Gibran yang jomblo!" ucap Gibran sewot, ia langsung pergi meninggalkan kedua orangtuanya itu, ia pergi ke kamarnya dan tidak lupa ia menutup pintu dengan keras sampai suara dentuman pintu bisa terdengar sampai lantai satu.


Satya yang melihat tingkah Gibran hanya terkekeh, ia tahu kalau Gibran cemburu dengan dirinya dan juga Ranti. Satya merasa kasihan dengan putranya yang masih jomblo dia usianya yang sudah pantas jika memiliki istri.


***


Serius dulu, selow.

__ADS_1


Alhamdulillah akun aku pulih, jadi bisa lanjut nulis di sini. Sedih banget aku pembaca turun drastis. Hm ... tidak apa-apalah, semoga bisa naik lagi.


__ADS_2