
Bukit akan runtuh jika tidak ada pohon, sungai akan kering jika tidak terisi air, sinar matahari tidak akan tampak jika awan mendung menutupi, begitu juga dengan hati yang tidak pernah bisa ikhlas jika belum pernah kehilangan.
"Kehilangan dirinya adalah anugerah terburuk yang membuat aku harus percaya, jika di dunia ini tidak akan pernah ada makhluk hidup yang abadi." Gibran menatap sendu pada makan di depannya. Makam yang tanahnya masih basah dan penuh dengan taburan kelopak bunga mawar berbagai warna, ia mengusap batu nisan yang bertuliskan nama indah di sana.
"Kamu harus ikhlas, Sayang. Dia sudah bahagia di sana." Jasmine mengusap bagi Gibran dengan iba, suaminya itu terlihat sangat bersedih sekarang.
Gibran tersenyum, ia menoleh untuk melihat wajah cantik istrinya yang membuat hatinya merasa sedikit tenang. Gibran menyentuh tangan Jasmine yang masih berada di atas pundaknya, Gibran mengusap tangan itu untuk memberikan pengertian pada istrinya jika dirinya baik-baik saja walau ia tidak mengatakan lewat mulut.
"Ayo kita masuk ke rumah! Cuaca sangat mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan turun." Jasmine membantu Gibran untuk berdiri. Namun, Gibran menolaknya.
"Kamu saja yang masuk duluan, nanti aku akan menyusul. Kasihan anak kita kalau nanti sampai kehujanan." Gibran mengusap perut Jasmine yang masih datar dengan lembut.
"Baiklah, aku masuk duluan. Jangan sampai kamu kehujanan!" Jasmine memberikan kecupan singkat di puncak kepala Gibran sebelum ia berlalu masuk ke dalam rumah.
"Oke." Gibran mengangguk patuh.
Jasmine berjalan dengan langkah perlahan meninggalkan Gibran yang sekarang menatap kembali makam di depannya dengan wajah yang bersedih. Baru lima langkah Jasmine beranjak, ia menoleh kembali ke belakang dan masih melihat Gibran seperti tadi. Jasmine tersenyum pedih, ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
__ADS_1
Jasmine kembali berjalan dan kali ini ia tidak lagi menoleh ke belakang untuk melihat suaminya yang masih sangat-sangat sedih.
Jasmine membasuh kaki dan tangannya yang kotor di keran belakang rumah. Setelah itu, ia langsung masuk lewat pintu belakang, saat Jasmine berjalan melewati dapur untuk menuju ke ruang keluarga, Jasmine melihat ibu mertuanya berada di sana dan sedang sibuk membuat sup sambil menggendong Gio.
"Bunda, biar Jasmine yang masak, Bunda duduk saja!" ucap Jasmine, ia berjalan menghampiri mertuanya yang terlihat sangat repot.
"Aku rapopo. Wes, sliramu gogok wae, rasah kakean polah, mengko ndak kesel." (Aku tidak apa-apa. Sudah, kamu duduk saja, tidak usah banyak bergerak, nanti malah lelah.)
"Ya sudah, sini biar Gio aku gendong, Bun!" Ranti tersenyum, ia mengangguk kemudian memberikan Gio pada Jasmine.
Jasmine langsung mencium Gio yang menatapnya dengan tatapan yang menggemaskan, mata bayi rata-rata terlihat lebih besar dan bulat karena wajah mereka yang masih kecil, itu membuat kebanyakan bayi sangat lucu.
"Biasa, ini bapak mertuamu itu yang minta." Ranti tersenyum dengan pipi merah karena malu.
"Hehe, cie makin romantis aja kalian." Jasmine terkikik geli, ia merasa bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga Dinarta.
"Hilih, kaya kamu enggak saja. Setiap malam kamu pasti juga kerja lembur kan sama si sableng itu." Sekarang wajah Jasmine yang memerah, perkataan Ranti tidak sepenuhnya salah, hanya saja kurang tepat karena tidak setiap malam Jasmine kerja lembur dengan suaminya, toh sudah ada hasil di dalam rahimnya sekarang.
__ADS_1
"Itu rahasia, Bun." Jasmine menarik kursi plastik tanpa sandaran untuk duduk.
"Suamimu mana?" Ranti bertanya sambil celingukan mencari anak ayamnya.
"Masih di makam, sedih banget dia." Jasmine tersenyum tipis, ada rasa cemburu dalam hatinya melihat Gibran sangat bersedih di makam tadi.
"Sudah 3 jam, emang suami kamu itu nggak bosen apa?" Ranti sekarang sibuk memotong bawang merah dan memotong barang cabe merah, serta tomat yang akan dimasak jadi sambal.
"Nggak mungkin, Bun. Aku tadi juga sudah mengajaknya masuk tapi dia nggak mau." Jasmine berkata dengan kesal disertai dengan embusan napas kesal.
"Hadeh, dasar anak itu. Rachel mati saja ditangisin, sayang banget dia sama Rachel kayaknya." Ranti menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Maklum, Bun. Rachel mati setelah melahirkan tiga anaknya." Jasmine tersenyum simpul, ia merasakan tangan mungil Gio bermain baju yang ia pakai saat ini.
Jasmine menatap wajah lucu adiknya itu kemudian mencium pipi gembulnya bertubi-tubi.
"Bunda heran aja gitu," ucap Ranti.
__ADS_1
"Jasmine juga sedih sebenarnya, Bun. Rachel si kelinci betina udah mati."