Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 60


__ADS_3

"Mas Gibran kenapa nggak bilang kalau aku masih telanjang?" Jasmine berteriak malu dengan wajah memerah dan langsung masuk ke dalam selimut, Jasmine menutupi tubuhnya sampai kepala dan tidak peduli dengan wangi bunga yang menganggu dirinya saat ini.


"Kamu nggak tanya sama saya," jawab Gibran santai.


"Iya, tapi kan Mas bisa ngasih tahu aku." Jasmine membuka selimut sampai hidungnya, untuk mengintip Gibran yang tersenyum mesum melihatnya.


"Terserah saya dong mau ngasih tahu kamu apa enggak. Saya kan suami kamu jadi, saya minta kamu melayani saya, ya!" Gibran menekan dahi Jasmine dengan jari telunjuknya. Gibran menutup novel yang sedang dia baca lalu meletakkan kembali di atas nakas samping tempat tidur.


"Nggak mau, Mas. Aku belum siap, mending sekarang kamu bantuin aku ambil baju punyaku." Jasmine tersenyum pelik, sesuatu di bawah sana sudah basah karena sentuhan dari Gibran yang membuat dirinya langsung terangsang.


Ya, saat ini Gibran masuk ke dalam selimut dan bermain dua gundukan dengan besar yang berbeda itu dengan tangannya. Yang memiliki gundukan itu hanya bisa menahan suara karena tidak ingin mendesa* keenakan karena ulah suami pemaksanya.


Gibran semakin liar bermain di sana. Namun, dia tidak akan melakukan hal yang lebih jika istrinya tidak setuju dengan dirinya. Gibran hanya ingin memberikan kesan yang baik dan tidak akan pernah dilupakan Jasmine jika mereka melakukannya nanti. Gibran tidak mau hanya dirinya yang merasakan kenikmatan, sedangkan istrinya terpaksa.


"Eh ... hmmm." Jasmine menggigit bibir bawahnya sambil mencengkeram erat sprei kamar mereka.


Gibran tersenyum puas dan berhenti melakukan apa yang dia lakukan saat gairah Jasmine mulai memuncak. Hal itu tentu saja membuat Jasmine kecewa karena belum merasakan kepuasan tapi suaminya menyudahi permainannya.


"Kok berhenti, Mas?" Jasmine cemberut menatap Gibran lucu.


"Karena saya tidak mau sampai kebablasan Jasmine." Gibran mencium dahi Jasmine dengan mesra.


"Ku nggak hamil-hamil sampai tiga bulan gara-gara punya suami tidurnya pisah kamar." Jasmine bernyanyi di depan Gibran, Gibran langsung tertawa mendengar lirik lagu yang dinyanyikan Jasmine saat ini.


"Kamu mau saya hamili?" Gibran memainkan rambut Jasmine yang masih basah, membuat semua kasur tempat Jasmine berbaring basah karena istrinya itu tadi masih basah semua bagian tubuhnya karena tidak memakai handuk.


"Mau, tapi nggak sekarang. Mas, aku kedinginan." Jasmine menatap Gibran sambil menyengir kuda.

__ADS_1


"Saya ambilkan baju untuk kamu, setelah itu, saya akan membantu kamu mengeringkan rambut kamu yang masih basah." Gibran turun dari kasur dan berjalan dengan cepat mengambil baju milik Jasmine.


Satu setel piyama panjang dia berikan pada Jasmine dan Jasmine memakainya di depan Gibran. Tidak peduli dengan rasa malu, urat malunya sudah hilang ketika Gibran menaikan dadanya tadi.


Jasmine duduk di depan meja rias dan Gibran berdiri dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambutnya.


"Bentar lagi saya mau punya adik, lucu nggak sih di usia saya yang sudah 23 tahun baru akan mempunyai seorang adik?" Gibran mengajak Jasmine mengobrol.


"Enggak juga, sih. Bunda sama ayah masih sangat cocok mengurus bayi." Setelah rambutnya kering, Gibran dan Jasmine kembali naik ke ranjang dan sekarang mereka berbaring berhadapan.


"Kamu ingin cepat punya anak dari saya?" tanya Gibran menatap lekat mata istrinya.


"Kalau aku sih belum terlalu pengen, Mas. Tapi, kalau misalkan Tuhan ngasih yang aku akan menerima dengan senang hati." Jasmine menjawab dengan jujur sesuai hatinya.


"Sudah larut malam, kita tidur saja!" Gibran menarik Jasmine ke dalam pelukannya, dan Jasmine tidak menolak. Dia mencari posisi yang nyaman di dalam pelukan laki-laki yang telah sah menjadi miliknya.


***


Ranti sudah melahirkan adik Gibran yang berjenis kelamin laki-laki yang Gibran beri nama. Giordano Putra Dinarta, nama itu adalah pilihan Gibran dengan ayahnya.


Selama tujuh bulan ini, Jasmine resmi menjadi sekretaris pribadi Gibran. Sehingga, setiap hari mereka selalu bersama.


Ranti dan Satya saat ini sedang pergi ke mall untuk membeli perlengkapan Gio. Ranti menitipkan Gio pada Gibran dan Jasmine yang kebetulan sedang libur bekerja, Gibran dengan senang hati menjaga adiknya dan tidak khawatir jika nanti adiknya kelaparan karena Ranti sudah menyedikan ASI untuk Gio.


"Halo adik aku yang tampan, kasihan banget sih kamu ditinggal bunda pacaran sama ayah." Gibran mengajak adiknya mengobrol di kamarnya, Gio berada di gendongan istrinya, dan adiknya itu terlihat sangat nyaman di sana.


"Enggak kok, Kak. Ndanda ngga pelgi pacalan ma yayah," ucap Jasmine dengan suara imut seperti anak kecil.

__ADS_1


"Kamu anak kecil tahu apa, Dik." Gibran menciumi pipi gembul adiknya itu dengan gemas.


"Tahu gejrot, Sayang." Jasmine tersenyum lebar menanggapi ucapan suaminya.


Gio yang berada di dalam pelukan Jasmine tersenyum dengan sangat lucu seakan dia menertawakan kakaknya yang menyebalkan. Anak kecil berusia dua bulan itu benar-benar sangat menggemaskan.


"Kamu sudah pantas jadi ibu, Sayang." Gibran melihat aura keibuan terpancar kuat dari wajah istrinya.


"Aku juga sudah pengen jadi ibu, merawat Gio selama dua bulan ini membuat aku juga ingin punya anak." Jasmine menatap suaminya sambil tersenyum teduh.


"Kita coba nanti, Sayang." Gibran mengambil alih Gio dari gendongan istrinya.


"Kalau aku sudah cocok belum?" tanya Gibran pada istrinya.


"Cocok banget," jawab Jasmine dengan tersenyum manis.


Gibran dan Jasmine menjadi sosok kakak yang sangat menyayangi adiknya. Gio pasti akan tumbuh menjadi seorang laki-laki yang penuh dengan kasih sayang. Gibran membawa Gio ke kamar adiknya, karena Gio sudah tertidur pulas. Gibran meninggalkan Gio di kamarnya lalu Gibran kembali ke kamarnya sendiri.


Jasmine memeluk Gibran dari belakang saat suaminya itu masuk kamar. Gibran berbalik lalu menatap istrinya dengan penuh cinta.


"Terima kasih telah membuat saya menjadi laki-laki yang serius dan membuat sifat buruk saya hilang. Terima kasih sudah mau menjadi istri saya dan menerima semua kekurangan saya. Maaf jika selama saya jadi suami kamu, saya belum bisa membuat kamu bahagia." Gibran bersyukur bisa mendapatkan Jasmine dan menjadikannya sebagai istri.


"Tumben kamu bicara sedewasa ini, ternyata suamiku memang sudah berubah banyak." Jasmine memainkan kaus Gibran pada bagian dadanya.


"Terima kasih kembali, Mas. Kamu sudah mau menikahi aku, sudah sepantasnya aku menerima kekurangan kamu begitu juga dengan kamu menerima kekuranganku. Kamu sudah membuat aku bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang." Jasmine memeluk erat suaminya dengan perasaan yang tidak bisa dia jabarkan hanya dengan kata-kata.


***

__ADS_1


Menuju ending chek.


__ADS_2