
Jasmine tersenyum melihat Gio mengamuk, ia merasa gemas dan langsung mengangkat tubuh Gio yang mungkin beratnya 8,5 kg. Ia mencium pipi gembul adiknya dengan sayang kemudian membawa anak itu masuk menyusul orang dewasa yang lain.
"Sudah jadi om nggak boleh nakal!" nasihat Ranti pada putranya dengan nada yang begitu lembut membuat orang yang mendengarnya seperti dibacakan sebuah dongeng pengantar tidur.
"Gio nggak akan mau dipanggil om, Bun. Nanti Gilang sama Gavin manggil dia kakak," ucap Gibran santai, ia menatap adiknya yang terlihat sangat menyedihkan karena perhatiannya akan sedikit berkurang. Namun, untuk Gibran, rasa sayang untuk adiknya akan selalu sama dan tidak akan pernah berkurang walau sudah ada bayi lain dalam keluarganya.
Semua orang duduk di ruang tamu, Airin yang masih menggendong Gavin duduk di samping Bayu. Jika diperhatikan dengan seksama, mereka malah terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Jasmine tersenyum melihatnya namun senyuman itu perlahan pudar ketika melihat wajah muram kakaknya.
"Bayu, kamu cocok banget sama Airin," kata Ranti tanpa maksud menggoda karena apa yang ia katakan adalah pendapat yang sebenarnya.
"Cocok sama dia?" Bayu menunjuk Airin dengan tidak hormat.
"Iya, sama Airin." Ranti mengangguk sambil tersenyum.
"Bumi akan hancur kalau aku sampai jadian sama dia, Bun. Nggak mau aku di cocok-cocokin sama wanita gila kaya dia." Bayu menatap Airin dengan dingin, Airin yang ditatap dingin merasa tidak terima apalagi ketika mendengar perkataan terakhir dari mulut Bayu.
__ADS_1
"Kamu pikir aku mau sama kamu?" Mata Airin melotot tajam ke arah Bayu. Ayunda tersenyum tipis melihat kelakuan anak muda yang sedikit membuatnya tidak nyaman, Akbar tersenyum lebar karena ingat dengan masa mudanya dulu ketika baru mengenal Ayunda.
Ranti dan Satya tertawa geli melihat pertengkaran dua anak muda itu, sedangkan Gibran dan Jasmine hanya menjadi penonton tanpa bayaran dengan ekspresi wajah yang datar.
"Kamu pasti senang karena aku ini tampan dan kaya, Tuan Gibran saja kalah tampan dari aku." Gibran melotot terima dengan ucapan Bayu, Gibran menyerahkan Gilang ke gendongan mertuanya kemudian menarik telinga Bayu dengan kencang.
"Bagus, Tuan. Jewer aja telinga dia, kalau perlu cabut sekalian!" Airin tersenyum puas, ia menjulurkan lidahnya untuk mengejek Bayu.
"Aku kalah tampan dari kamu, iya?" Gibran bertanya pada Bayu.
"Bayu, kamu kalau ngomong suka benar. Aku memang lebih jelek darimu tapi aku nggak jomblo kaya kamu hahaha ...." Bayu menarik salah satu sudut bibirnya untuk mengejek Gibran.
"Yah, nikahkan saja Mas Gibran sama Bayu—eh, Mas Bayu sama Airin." Semua orang kecuali Airin dan Ridwan menatap Jasmine dan mengangguk setuju.
"Nggak mau aku nikah sama anak unta." Airin bergidik, ia memberikan Gavin pada Ranti karena Jasmine menggendong Gio.
__ADS_1
"Telinga gue lepas woi!" Bayu menangkis tangan Gibran kemudian mengigit tangan sahabatnya itu sampai berdarah.
"Wah-wah, beraninya kamu menggigit tanganku." Gibran mencubit sesuatu milik Bayu sampai laki-laki itu menjerit-jerit nikmat karena ulah Gibran yang sungguh ter-la-lu.
"Gue potong milik, Lo!" Bayu membalas Gibran dengan melakukan hal yang sama. Dua orang laki-laki memegang aset berharga mereka karena berdenyut nyeri setelah dicubit.
Gue kenapa punya suami gitu amat, ya? Sudah punya buntut dua tapi kelakuannya lebih parah dari Gio.
"Gioooooo ...." Jasmine berteriak kencang ketika tiba-tiba Gio mengigit dadanya dengan sangat kencang. Dada ya bukan payudara.
Satya langsung mengambil Gio dari pangkuan Jasmine. Satya mendudukkan Gio di sofa kemudian memarahi anaknya itu karena nakal.
Gio yang dimarahi ayahnya langsung mencebikkan bibir dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Gio said : "Ku menangis, membayangkan betapa kejamnya ayah padaku."
__ADS_1