
NB : Untuk lebih lengkapnya bisa kalian baca di aplikasi Fizzo (******) nama pena KARLINA SULAIMAN judul MUARA TAKDIR
"Saya terima nikah dan kawinnya Maira Moza binti Ryan Syah Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Farhan mengucapkan ijab kabulnya dalam satu tarikan napas.
Suaranya yang tegas dan merdu mampu menghipnotis beberapa wanita yang juga hadir di acara pernikahannya.
Sesaat, Maira menoleh ke sebelahnya di mana pria yang baru saja mengucap akad atas namanya sedang duduk tegak. Suara pria itu memang terdengar begitu merdu dan lembut di telinganya. Namun, sangat sulit dan tidak mampu menggetarkan hatinya untuk merasakan bahagia.
Kelopak mata mempelai wanita langsung terpejam ketika satu bulir air bening keluar dari sudut matanya.
'Ya Allah, pria ini sudah mengikatku dengan sebuah ikatan yang begitu suci,' batin Maira dengan perasaan tercabik-cabik setelah statusnya berganti menjadi seorang istri.
Saat matanya kembali terbuka, dari ujung matanya ia bisa melihat dengan samar jika tangan suaminya sedikit bergetar setelah pria itu melaksanakan akad. Maira tersenyum dengan eskpresi wajah yang begitu sedih, tanpa bertanya pun ia sudah tahu kenapa tangan pria itu bergetar.
'Apakah ia menyesal setelah menikahiku?' tanya Maira dalam hati. Tidak terasa air mata kembali menggenang dan hampir memenuhi pelupuk matanya.
Maira akhirnya hanya bisa terus menundukkan kepala karena kembali satu butir air mata sudah menetes pelan di pipinya. Ia meremas erat kebaya untuk menyalurkan rasa sakit yang menghujam hati yang tidak diketahui siapa pun di sana.
Di sisi lain, Farhan merasa lega setelah menjadikan Maira sebagai istrinya. Namun, ia tidak dapat menutupi perasaan sedih dan terluka yang hatinya rasakan ketika teringat jika wanita yang dinikahinya bukanlah wanita yang ia inginkan menjadi seorang istri.
'Sayangku, telah aku turuti permintaanmu untuk menikahi Maira. Namun, aku tidak tahu bagaimana sikapku padanya nanti.' Farhan memejamkan mata sejenak ketika wajah seorang wanita melintas dalam benaknya.
Entah mengapa ia ingin sekali segera meninggalkan tempat pernikahan itu untuk menemui si pemilik wajah yang menganggu pikirannya.
Orang lain mungkin mengira jika mereka bahagia dengan pernikahan itu. Namun, tanpa mereka ketahui kedua mempelai sama sekali tidak memiliki perasaan bahagia berlebih seperti kebanyakan pengantin pada umumnya karena pernikahan itu terjadi bukan karena keinginan keduanya.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu seraya menatap beberapa orang yang berada di tempat akad nikah. Pertanyaan itu langsung membuyarkan pikiran Farhan dan Maira.
"Sah," teriak semua saksi dengan senyuman mengembang sempurna.
Seketika ruangan itu menjadi riuh dengan suara teriakan kebahagiaan kedua keluarga mempelai dan para tamu undangan.
'Ya Allah, hamba tahu jika pernikahan ini terjadi karena izin-Mu. Engkau telah mengubah status hamba menjadi seorang istri. Surga hamba ada padanya sekarang, dialah tempat terbaik untukku berkeluh kesah dan harus dengan baik dan ikhlas hamba layani. Setiap sentuhan kami akan menjadi pahala, dia penyempurna separuh agama. Namun, sanggupkah aku menjadi istri yang layak untuknya?'
Air mata Maira mengalir semakin deras setelah kata sah terdengar jelas di telinganya. Mungkin orang lain berpikir jika ia menangis bahagia, padahal pada kenyatannya tidak seperti itu karena ia menangis untuk membalut luka di hatinya.
"Alhamdulillah." Pak penghulu tersenyum kemudian memimpin doa.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
__ADS_1
Semua orang mengamini doa tersebut dan pandangan mereka tidak lepas tertuju kepada pasangan pengantin itu.
Setelah doa selesai, Farhan menyematkan cincin di jari manis istrinya. Ketika tangan mereka bersentuhan untuk pertama kalinya, hati Farhan langsung merasa getir ketika ia ingat wanita di depannya bukanlah wanita yang ingin ia jadikan istri. Bahkan, ketika mengecup keningnya pun tidak ada perasaan lain selain sakit di hatinya.
Begitu juga dengan Maira. Hatinya terasa diremas ketika kecupan itu mendarat di dahinya. Seharusnya bukan ia yang berada di sini, seharusnya bukan lelaki ini yang menikahinya.
'Ya Allah, berdosakah aku karena masih menyimpan perasaan cinta untuk orang lain di statusku sekarang yang telah mempunyai kekasih halal?' batin keduanya seraya menjauh perlahan.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng dan selalu dalam ridho Allah." Ryan tersenyum lembut. Ia menarik putrinya dalam pelukan dan memberikan kecupan di puncak kepalanya.
"Aamiin, terima kasih karena selama ini telah merawat dan mendidik aku dengan baik, Ayah." Tangisan Maira semakin kencang, ia pun semakin erat memeluk seorang pria yang sangat berjasa dalam hidupnya.
"Ayah juga sangat berterima kasih kepadamu karena selama ini kamu sudah dengan ikhlas merawat dan menemani ayah, Nak. Sekarang, ayah serahkan tanggungjawab ayah kepada suamimu." Ryan tersenyum tulus dengan perasaan sedih bercampur bahagia.
"Farhan, putriku sekarang sudah menjadi tanggungjawab dirimu. Tolong jaga dan bimbing ia agar terus berada di jalan yang diridhoi Allah dan jangan pernah sakiti ia karena Maira adalah harta paling berharga yang ayah punya."
Pesan itu disampaikan Ryan ketika memeluk menantunya setelah Maira. Bagi seorang ayah, sangat berat rasanya ketika menyerahkan putrinya kepada pria lain. Apalagi, selama ini hanya putrinyalah yang selalu menemani dirinya.
Farhan hanya mengangguk tanpa berkata apa pun. Sungguh, pesan Ryan sangat berat untuknya. Walau demikian, Farhan tetap akan berusaha menjalankan pesan Ryan dengan baik. Bukan hanya karena mertuanya, tetapi juga karena Allah yang mengizinkan Maira menjadi miliknya.
"Kamu sekarang istriku dan aku suamimu, tetapi aku tidak yakin pernikahan ini akan menghadirkan kebahagiaan untuk kita," bisik Farhan ketika mereka telah berpindah duduk di kursi pelaminan.
Farhan diam karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia sadar jika telah salah bicara di waktu yang tidak tepat.
"Aku sangat sadar jika seharusnya kita tidak menikah, seharusnya kamu bahagia dengannya dan aku bahagia dengan kekasihku." Setelah mengatakannya, Maira langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan saat ia tidak tahan lagi untuk menangis.
Mendengar ucapan sang istri membuat Farhan merasa bersalah. Dirinya seakan lupa jika di sini ialah penyebab pernikahan itu terjadi.
"Maaf karena aku telah membuatmu terjebak dalam pernikahan ini." Farhan dengan ragu menarik Maira ke dalam pelukannya.
"A-aku ...." Maira ingin menolak pelukan itu, tetapi ia tidak kuasa melakukannya.
Maira balas memeluk suaminya, ia mencengkeram baju bagian belakang Farhan ketika tangisannya semakin tidak terkendali. Maira tidak peduli jika riasannya akan rusak dan mengotori baju sang suami karena saat ini ia hanya sedang ingin membalut luka dengan air matanya.
Farhan sadar mereka sama-sama terluka, tetapi ia tahu jika perasaan istrinya jauh lebih sakit daripada perasaannya. Entah mengapa, melihat istrinya terisak kencang dalam pelukannya membuat hati Farhan semakin hancur. Entah hancur karena ia peduli dengan Maira, atau hancur karena telah membuat Maira yang sangat disayangi kekasihnya terluka.
Demi memenuhi keinginan seseorang yang sama-sama Farhan dan Maira cintai. Mereka harus menikah dan melupakan cintanya pada masing-masing pemilik hati.
"Kumohon jangan menangis karena setetes air mata yang jatuh ke pipimu membuat rasa bersalahku semakin besar." Farhan mengecup puncak kepala Maira dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Beberapa tamu yang melihat pemandangan itu tersenyum dengan perasaan yang ikut terharu. Mereka berpikir cinta kedua pengantin begitu besar dan dalam hingga tidak mampu mengendalikan diri menangis bahagia. Namun, dugaan mereka salah besar.
Setelah cukup lama menangis, Maira merasa sangat lelah. Jujur, ia mengakui pelukan Farhan adalah pelukan ternyaman setelah mama dan ayahnya.
"Ma-maaf karena membuat bajumu kotor, Mas!" Maira menjauhkan tubuhnya, wajahnya merona karena ia sangat malu setelah tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Berhentilah meminta maaf padaku karena di sini akulah yang lebih pantas meminta maaf padamu." Farhan mengusap sisa air mata yang masih mengalir di pipi Maira.
"Aku tinggal dulu, ya." Farhan meninggalkan Maira sebentar ketika ia diajak Ryan untuk menyapa para tamu.
Melihat suami dan tamunya sibuk. Maira diam-diam langsung bergegas pergi dari tempat resepsi. Saking ramainya tamu yang hadir, mereka sampai tidak menyadari jika Maira sudah tidak ada di pelaminan.
Setelah menyapa beberapa tamu pentingnya, Ryan bertanya kepada Farhan di mana keberadaan Maira karena ia tidak melihat putrinya di pelaminan.
"Farhan, ada di mana istrimu?" Mata Ryan menatap ke segala penjuru ruangan.
"Maira? Bukankah ia ada di pelaminan?" Farhan menunjuk ke arah pelaminan dan ia terkejut ketika tidak mendapati sang istri di sana.
"Saya yakin tadi Maira masih duduk di sana. Namun, kenapa sekarang ia sudah tidak ada di sana?" Farhan kebingungan.
"Lalu di mana putriku sekarang?" Kecemasan terlihat jelas dari raut wajah pria paruh baya itu.
"Ayah, saya akan mencarinya." Farhan langsung pergi meninggalkan mertuanya. Pertama-tama ia mencari Maira ke kamar mandi dan tidak menemukannya sama sekali.
Farhan pun akhirnya mencari sang istri ke segala penjuru ruangan. Bahkan ia juga mencari sampai keluar gedung pernikahan. Namun, sosok istrinya tidak kunjung ditemukan.
Perasaan cemas mulai menyelimuti hatinya. Ia takut jika wanita itu kabur dari tempat resepsi.
"Maira, kamu di mana?" Farhan mengacak rambutnya dengan perasaan frustasi. Ia takut jika istrinya akan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya.
Pikiran Farhan sangat negatif karena ia tahu istrinya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Kesedihan Maira saat dalam pelukannya tadi membuat Farhan tidak bisa berpikir jernih.
Sekarang Farhan ingat jika sehari sebelum acara pernikahan, Maira menemuinya kemudian mengajaknya membatalkan pernikahan mereka. Mengingat hal itu membuat Farhan tiba-tiba tersenyum putus asa karena dirinya merasa menjadi seorang laki-laki yang sangat bodoh.
Farhan sekarang yakin jika sang istri saat ini sedang menenangkan diri dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
"Fatimah, puaskah kamu sekarang melihat bagaimana sikapku dan sikapnya setelah menjadi pasangan suami istri?" Farhan terkekeh dengan perasaan getir.
"Seharusnya kamu yang ada di sini dan menikah denganku, bukan Maira." Farhan terkekeh sedih seraya mengusap sedikit air matanya yang berhasil menetes di pipinya.
__ADS_1
NB : Untuk lebih lengkapnya bisa kalian baca di aplikasi Fizzo (******) nama pena KARLINA SULAIMAN judul MUARA TAKDIR