
"Nah kan, pikiran kamu selalu mesum setiap kali bersama diriku." Jasmine pindah duduk di samping Bayu dari posisi yang semula di samping Gibran.
"Mesum sama istri sendiri nggak ada salahnya, Jasmine." Gibran tersenyum melihat wajah Jasmine yang memerah karena malu.
"Tuan, jangan memberi harapan palsu pada seorang wanita!" Bayu menyela sambil menatap Gibran dengan tatapan serius.
"Kamu kenapa sih, Bay? Sensi banget sepertinya hari ini." Gibran menyadari perubahan sikap Bayu sejak mereka kembali dari pesta pernikahan Azril tadi.
"Siapa sih yang sensi? Perasaan biasa saja." Bayu mengelak, pasalnya hatinya sedang hancur saat ini.
"Istri dari Hongkong, nikah aja enggak ngaku-ngaku jadi suami." Jasmine bergumam pelan dan hanya bisa didengar dirinya juga Bayu yang duduk di samping dirinya.
"Sebentar lagi kamu kan akan menjadi istri saya, Jasmine." Gibran berdiri lalu berjalan mendekati Jasmine, sayangnya kaki kanan Gibran terjegal kaki kirinya sehingga dia jatuh tersungkur dengan posisi tepat menubruk tubuh seksi Jasmine.
"Aduh, Tuan. Sakit tubuh saya ditindih sama, Tuan." Jasmine mengaduh, dadanya terasa sakit karena terbentur keras dengan dada Gibran yang bidang.
"Kalau mau pada bercinta jangan di sini! Ganggu mood orang saja." Bayu cemberut, kepalanya sudah mengeluarkan tanduk karena kesal, kakinya menjejak lantai dengan kasar layaknya orang yang sedang kesurupan hantu pocong mau jalan tapi bisanya lompat.
"Anak pada kenapa ini? Lagi ada masalah ya, kok marah-marah begitu? Ini juga Gibran malah peluk-pelukan sama anak gadis orang." Ranti kembali dari dapur membawa nampan berisi minuman es jeruk peras. Ranti meletakkan nampan itu di atas meja setelah itu, dia duduk di samping Bayu yang sedang uring-uringan tidak jelas.
"Nih, diminum dulu biar hatinya jadi adem!" Ranti memberikan satu gelas es jeruk peras untuk Bayu.
"Lagi nggak mau minum, Bunda. Bayu lagi bete nggak mood nggak pengen ngomong, pokoknya Bayu hari ini sedang kesal jangan diganggu!" ucap Bayu dengan wajah ditekuk sedih, menggemaskan sekali sikap Bayu jika sedang dalam mood buruk seperti sekarang.
"Ayo, Sayang silakan diminum minumannya, bunda yang buat pasti seger!" Ranti mempersilakan Gibran dan Jasmine.
"Iya, Tante." Jasmine mereka mendorong tubuh Gibran secara kasar sampai Gibran jatuh terduduk di lantai.
__ADS_1
"Sakit, Jasmine. Belum nikah udah KDRT kalau menikah bisa mati cepat saya." Gibran berusaha bangun dengan susah payah.
"Karma kamu itu, Nak. Karena selalu menganggu ayah sama bunda kalau lagi kau bikin adik buat kamu." Bukannya membantu, Ranti malah menyalahkan putranya.
"Maaf, Tuan. Saya sengaja." Jasmine tersenyum smirk lalu dia mengambil satu gelas es jeruk peras dari meja dan meminumnya sedikit.
"Enak, Tante." Jasmine memuji minuman buatan Ranti.
"Jelas enak, itu es nya air bekas cucian piring."
"Uhuk-uhuk." Gibran menyemburkan minumannya saat mendengar perkataan Ranti karena setelah Jasmine minum Gibran juga minum.
"Tante cuma bohong 'kan?" Jasmine menelan saliva-nya susah.
"Iya, Sayang. Bunda cuma bercanda kok." Ranti tersenyum melihat Gibran yang terkejut namun bernapas lega.
Jasmine tersenyum simpul, dia sekarang tahu dari mana sikap Gibran yang suka bercanda, ternyata itu semua turunan dari sang ibu. Benar kata Tere Leye "Daun yang jatuh tidak akan membenci angin."
"Kalian nggak asik!" Bayu pergi dari ruang tamu dengan perasaan kesal, matanya merah berkaca-kaca, dia butuh hiburan kalau perlu seorang wanita.
"Itu anak kesambet kuntilanak perawan sepertinya, dari tadi uring-uringan nggak jelas kaya mau PMS saja." Gibran menatap nanar punggung Bayu yang pergi ke luar rumah.
Ranti terheran-heran dengan tingkah Bayu yang sekarang, biasanya Bayu tidak akan sampai sepeti ini jika dia tidak sedang dalam mode ngambek tingkat paling tinggi.
"Ditinggal menikah itu sakit, apalagi sama orang yang paling kita cintai. Sisil, gue benci sama, Lo. Bertahun-tahun gue bertahan untuk menjomblo agar bisa menjaga hati Lo. Tapi, Lo malah berkhianat dan menikah dengan orang yang lebih kaya dari gue." Di ayunan taman belakang rumah Satya, Bayu menumpahkan semua unek-unek di hatinya.
"Gue tahu gue miskin, tapi kenapa Lo menikah sama teman gue sendiri, di mata otak dan hati Lo. Dasar cewe munafik." Bayu mengayunkan ayunannya sampai tinggi sambil berteriak kencang dan menangis.
__ADS_1
***
Di dalam kamar mandi, Satya harus menyalurkan hasratnya seorang diri dengan dibantu sabun mandi. Dia benar-benar kesal karena aktivitasnya dengan sang istri harus terganggu gara-gara anak dan sahabat anaknya.
"Ah, leganya." Satya bisa bernapas lega setelah menuntaskan hasratnya.
Karena sudah lengket seluruh tubuh, Satya memutuskan untuk mandi sekalian agar badannya kembali segar dan bertenaga. Saat dia tengah berendam di dalam bathtub dia mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamar mandi.
"Siapa di luar?" teriak Satya dari dalam kamar mandi.
Satu detik, dua detik, tidak ada jawaban sama sekali, Satya merasakan bulu kuduknya tiba-tiba meremang dan berdiri dibarengi dengan lampu kamar mandi yang tiba-tiba berkedip seperti lampu disko.
"Jangan main-main, ya!" Satya berteriak karena dia mengira jika ada orang yang iseng mengerjai dirinya.
Hening, suasana mencekam dan horor kembali normal seperti semula. Satya berjalan keluar dari dalam bathup lalu memakai handuk kimono. Satya membuka pintu kamar mandi yang tidak dia kunci dengan perlahan, kepala Satya mendongak keluar untuk melihat siapa yang berada di dalam kamar selain dirinya.
Satya merasa bulu di seluruh tubuhnya berdiri saat melihat seorang wanita dengan baju putih, rambut panjang tergerai indah melewati bahu, dan kaki jenjang itu duduk di kursi depan cermin rias istrinya. Saat itu, wanita berambut panjang dan lebar itu berbalik badan lalu tersenyum cantik melihat kepala suaminya mengintip dari balik pintu kamar mandi.
"Bunda," panggil Satya lirih, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi lalu berjalan mendekati wanita cantik yang sedang duduk di depan cermin. Wanita itu tidak lain adalah Ranti istrinya yang sedang merias diri dengan pakaian seksinya.
"Tadi ayah kira hantu." Satya memeluk tubuh Ranti dari belakang, lalu menciumi leher istrinya dengan ganas setelah menyibakkan rambut sang istri.
"Hantu mana ada yang cantik, Yah. Akh ... geli, Ayah." Ranti mendorong kepala Satya karena tidak tahan dengan rasa geli di lehernya.
"Meriam ayah sudah siap tempur, Bun. Bunda harus tanggung jawab, ayah tidak mau sampai gagal seperti tadi." Satya membalik kursi istrinya sampai menghadap ke arahnya.
Setelah itu, Satya menggendong tubuh istrinya lalu melemparkannya ke atas ranjang dan dengan cepat dia menindih tubuh istrinya yang menggoda.
__ADS_1
***
Biasakan tekan like, dan jangan lupa untuk komen walau cuma next ya.