
Berada di negara orang tidak membuat Gia lupa dengan negara asalnya. Hidup empat tahun di London membuat sedikit banyak perubahan dalam dirinya. Dia semakin terlihat cantik dengan rambut sebahu yang baru minggu lalu dipotong.
Kalau boleh bercerita, empat tahun hidup jauh dari keluarganya membuat dia paham jika hidup sendiri itu memang sangat sulit dan dia jadi menghargai waktu.
Di tahun pertama dia kuliah, banyak sekali laki-laki dari berbagai negara yang mengajaknya berpacaran dan dengan tegas dia tolak mentah-mentah.
Namun, seperti sebuah gula. Walaupun banyak laki-laki yang dia tolak, tetap saja masih banyak yang mencoba mendekatinya dan ingin memiliki hubungan lebih dengannya.
Kecantikan khas orang asia membuat laki-laki di sana sangat terpesona.
Di tahun ke dua, Gia dengan terang-terangan dilamar dosennya sendiri dengan cara yang sangat romantis. Namun, dia menolaknya dengan cara yang halus karena takut kalau nilainya akan berpengaruh.
Kegagalan beberapa laki-laki itu tidak membuat mereka takut untuk mendekatinya. Justru dengan beberapa penolakan itu semakin membangkitkan semangat mereka untuk mencoba mendapat peruntungan menjadi kekasihnya.
Di tahun ke tiga dia kuliah di London. Ada tujuh orang yang melamar dirinya dan laki-laki Gia menolak dengan cara yang sama. Dia bahkan sudah menunjukkan cincin tunangannya dengan Han. Namun, hal itu seperti tidak memengaruhi niat baik para laki-laki itu untuk mendekatinya.
"Abang, aku mau pulang." Gia merengek manja ketika melakukan panggilan video dengan Gavin yang saat ini sedang berada di perusahaan keluarga mereka.
Dia tengkurap di ranjang apartemen seraya memakan camilan ringan yang dia beli di pusat perbelanjaan.
Gia selama empat tahun ini tidak pulang sama sekali karena itu sudah menjadi perjanjian awal. Bahkan dia sangat sulit menghubungi Han karena laki-laki itu sekarang sudah sangat sibuk sebagai CEO di perusahaannya sendiri.
"Abang tahu, kamu akan pulang enam bulan lagi, 'kan?" Gavin menjawab, tetapi tidak menatap layar karena dia sedang sibuk mengetik menggunakan laptopnya yang lain.
"Satu bulan bukan enam. Abang sama Papa ke sini, 'kan, pas aku jadi sarjana?" Gia mendengus karena merasa diabaikan. Gavin ternyata sekarang menjadi laki-laki workaholic dan sangat tampan serta gagah.
"Gak tahu, lihat situasi dan kondisi nanti." Gavin berkata datar.
__ADS_1
Sebenarnya dia tidak menatap Gia karena tidak kuat lagi menahan rindunya untuk adik tercinta. Papanya melarang untuk berkunjung ke London dan mau tidak mau dia harus mematuhi peraturan yang dibuat papanya.
"Bang, kemarin ada yang melamar aku lagi." Gia curhat.
"Siapa?" Gavin sangat penasaran.
"Anak Sultan Arab." Gia tersenyum simpul dan dia mengatakan yang sejujurnya.
"Seriusan?" Gavin sekarang menatap layar laptop sehingga dia bisa melihat dengan jelas wajah cantik adiknya yang sangat dia rindukan.
"Iya, Bang. Kemarin dia lamar aku dengan cincin bermata berlian langka yang mahal banget." Gia bahkan sampai tidak percaya kalau akan ada laki-laki kaya yang mau dengannya yang hanya gadis biasa.
"Terus kamu tolak?" Gavin sekarang tersenyum sinis.
"Iya, lah. Walaupun ada orang paling kaya di dunia pun. Cintaku hanya untuk Bang Han, calon suamiku." Gia terkekeh melihat raut wajah Gavin yang langsung berubah masam.
***
Setelah menyelesaikan studinya dan dia akan kembali ke Indonesia lusa.
"Kamu pulang lusa?" tanya Gibran meyakinkan.
"Iya, Pa. Masih ada urusan lain yang harus aku selesaikan di sini." Gia tersenyum dan melingkarkan tangannya di tangan Gibran dengan manja.
"Baiklah, papa juga akan pulang bareng kamu." Gibran mencium dahi putrinya penuh kasih sayang.
***
__ADS_1
Sementara itu, Han sekarang telah sukses dan menjadi pemimpin muda yang digilai banyak perusahaan besar dari dalam dan luar negeri. Ide-idenya yang sangat brilliant membuat orang-orang yang bekerjasama dengannya merasa sangat diuntungkan.
Hari ini dia sengaja datang ke London untuk memberikan kejutan untuk Gia. Awalnya Han sudah mengatakan kalau dia tidak bisa datang karena sangat sibuk. Namun, ternyata semua itu hanya bohong.
"Selamat, Sayang. Kamu menjadi lulusan terbaik di sini dan aku sangat bangga denganmu." Han bicara di belakang Gia dan dia membawa satu buket bunga untuk kekasihnya.
Gia yang mendengar suara Han langsung melepas pelukannya dari Gibran dan berbalik badan menatap Han penuh kerinduan.
"Abaaang, aku rindu." Gia menghambur ke dalam pelukan Han. Dia menangis karena merasa sangat terharu bisa memeluk calon suaminya secara langsung.
"Aku dicuekin." Gavin menyindir Gia.
"Makanya cari pacar, Kak." Gibran merangkul bahu putranya yang sekarang jauh lebih tinggi darinya.
"Abang jauh lebih rindu sama kamu. I Love you, Sayang." Han membalas pelukan Gia dan mencium dahinya penuh kasih sayang.
"Satu minggu setelah kamu pulang. Papa akan menikahkan kalian berdua," ucap Gibran sungguh-sungguh. Dia sudah mempersiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari.
"Papa serius?" Han dan Gia menatap Han dengan mata berbinar. Mereka tidak menyangka kalau akan secepat itu menikah. Padahal rasanya mereka sudah berpisah cukup lama, tetapi pernikahan itu sangat tidak asing padahal itulah yang membuat mereka terpisah selama empat tahun ini.
"Bekerja keraslah untuk memberikan papa cucu yang banyak." Gibran tersenyum jenaka, sedangkan Gavin memalingkan wajah karena merasa kalah dari adik kecilnya.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Siapa yang mau ngasih amplop buat nikahan Gia dan Han bisa kirim berupa bunga atau kopi ya wkwkwk.