Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 70


__ADS_3

Hawa dingin yang menusuk sampai ke sum-sum tulang tidak ia rasakan. Dua jam ia berdiri tanpa bergeser walau hanya satu inci.


"Sampai kapan kau akan koma, Sayang?" Gibran berdiri di dekat jendela dan menatap lurus ke depan, ke arah luar jendela rumah sakit di ruang rawat istrinya.


"Aku pernah mati satu kali, kenapa bukan aku saja yang menggantikan posisi kamu saat ini?" Pikirannya menerawang jauh pada sebuah ruang luas, ramai, dan sempit, tapi ia merasa sepi. Bahkan, terangnya cahaya matahari membuat matanya buta karena semua yang ia lihat hanya gelap.


"Aku kenapa jadi bodoh? Jelas aku yang membuat ia sakit dan koma, tapi aku yang kau menggantikan dirinya. Semut saja menertawakan kebodohan diriku." Gibran mengambil semut hitam yang entah dari mana bisa ada di pipinya. Semut kecil itu seolah-olah sedang tertawa mengejek dirinya yang benar-benar bodoh.


"Kau tidak salah jika kau menertawakan aku." Semut itu merambat keluar dinding dari jendela saat Gibran menurunkannya di sana.


Ia berbalik, menatap nanar pada tubuh langsing dengan pakaian rumah sakit yang sangat kontras dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


Pemandangan indah sekaligus menyesakkan rongga dadanya. Ingin marah, namun pada siapa?


Kakinya mengajak ia untuk berjalan ke arah istrinya. Namun, saat jarak mereka semakin terkikis, ia malah berpaling lagi, menatap ke arah lain, matanya tidak bisa diajak kompromi untuk menatap wajah ayu yang pucat tanpa ada kehidupan yang terpancar.


"Tuhan, hukum saja aku!" Ia berjalan pergi keluar dari ruang rawat dan memilih untuk


menenangkan diri di musala rumah sakit.


Ia hanya bisa tersenyum saat mendengar suara hati orang-orangnya yang melihatnya dengan tatapan simpati. Orang-orang yang diam-diam mendoakan dirinya agar kuat menghadapi masalah yang sedang Tuhan ujikan.


...***...

__ADS_1


Jasmine POV


Aku bisa mendengar semua keluhanmu, aku bisa mendengar setiap kata yang kau ucapkan. Kata-kata cinta, penyesalan, harapan, dan doa. Namun, salahkah aku jika aku mengikuti permainan dari Tuhan yang memintaku untuk beristirahat sejenak dan menghindari hiruk pikuk dunia saat ini.


Aku ingin tertawa sebenarnya, karena cemburu suamiku terlalu berlebihan, sekarang jangan salahkan aku jika aku menghukum dirimu dengan cara meninggalkanmu sendirian.


Tuhan menempatkan aku pada sebuah kursi empuk, nyaman, dan membuatku tidak ingin bangkit. Di depan mataku terpampang sebuah layar yang sangat besar, dan dari sanalah aku bisa melihat semua hal yang biasa aku lihat dengan mata yang terbuka.


Pilu, hatiku terasa disayat saat melihat semua tentangmu. Mas, aku mencintaimu, jangan salahkan dirimu atas apa yang aku alami saat ini. Kenapa kau merasa sepi saat di sampingmu banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang.


Haha, aku tahu alasannya. Kau membutuhkan aku, kau ingin aku menemanimu, maka jika dunia dan semua orang di bumi ini meninggalkanmu, kau tidak akan merasa sepi jika ada aku di sampingmu.

__ADS_1


Ups, Tuhan sedang sayang padaku. Aku berjanji, hidup kita akan indah dalam dan bahagia. Namun, lewat jalan yang bernama luka dan di dalamnya penuh dengan kepedihan.


Aku mau lihat, sampai kapan kau akan bertahan.


__ADS_2