
"Aaa ... Tuan, tunggu aku!" Jasmin pun ikut melompat ke atas ranjang pasien Bayu sampai dia tidak sadar kalau kakinya menginjak jari-jari tangan Bayu dengan keras.
"Pergi, dasar kecoa jijik!" Gibran mengibaskan tangannya agar hewan atau apalah itu yang terbang segera pergi.
"Mana ada kecap, itu bukan kecap dan bukan kecoa, itu kelelawar, Tuan," ucap Jasmine yang kini sudah berada di belakang Gibran.
"Kenapa bisa ada kampret di sini?" tanya Gibran dengan jantung yang masih berdegup kencang.
"Mana saya, tahu. Yang kampret kan kamu, Tuan." Jasmine mengangkat kedua bahunya dan malah berkata tanpa berpikir.
"Ulangi yang kamu katakan barusan!" perintah Gibran dengan menatap tajam Jasmine lewat samping.
"Aku bilang yang kampret itu kamu, Tu- upss ...." Jasmine menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia sadar kalau dia telah salah bicara.
Kau ya, Jasmine? Membangunkan serigala berbulu domba yang ada di depanmu ini? Jasmine sangat ketakutan dengan Gibran yang menatap dirinya dengan tajam.
"Siapa yang serigala berbulu domba? Yang ada kamu itu, rubah kulit manusia," ucap Gibran membuat Jasmine bergidik ngeri.
"Serem amat, Tuan. Kenapa harus rubah kulit manusia? ... Ah-setidaknya bukan kampret sepertimu." Jasmine terkekeh saat berhasil membalas perkataan Gibran.
"Kalau aku kampret kamu kalong." Gibran tersenyum sinis lalu menjepit kepala Jasmine dengan tangan kirinya.
"Aaa ... Tuan, lepaskan aku!" pinta Jasmine sambil berusaha melepaskan diri namun tidak bisa.
Karena mereka asik sendiri, mereka tidak menyadari jika raut wajah Bayu sekarang seperti orang yang sedang mengejan seperti mau melahirkan. Bagaimana tidak? Kalau jari tangannya masih diinjak oleh Jasmine.
"Apa yang kalian lakukan di atas ranjang pasien yang kritis?" tanya perawat wanita saat masuk ke dalam ruangan untuk mengganti infus Bayu.
"Suster keramas," teriak Gibran tanpa aba-aba karena bukan lomba lari.
"Suster ngesot!" Jasmine berteriak saat melihat ada perawat wanita yang mengesot di lantai.
"Mana-mana?" Dua orang perawat wanita itu malah ikut takut dan naik di sofa yang memang tersedia di ruang perawatan Bayu.
Gibran dan Jasmine saling melempar pandang lalu keduanya tersenyum kikuk saat menyadari kalau ternyata dua orang perawat itu bukan hantu.
Gibran membiarkan Jasmine lepas dari tangannya dan turun dari ranjang perawatan Bayu. Setelah Jasmine turun, Gibran juga menyusul turun tapi sepertinya takdir tidak berpihak untuk membuat Gibran baik-baik saja.
__ADS_1
Kaki Gibran terjegal selang infus Bayu dan membuat dia terjatuh menubruk tubuh Jasmine yang baru saja berbalik.
Jasmine yang ditabrak secara tiba-tiba otomatis bruk ... terjatuh ke lantai dengan benturan yang lumayan keras, terlebih Gibran jatuh di atas tubuhnya, membuat tulang Jasmine rasanya mau remuk.
Gibran yang jatuh di atas tubuh Jasmine tentu tidak merasakan sakit tapi merasakan empuk. "Leganya tidak mencium lantai," ucap Gibran yang langsung mendapat pukulan dari Jasmine.
"Aduh, kenapa kamu memukulku?" tanya Gibran sambil mengaduh dan menatap Jasmine tajam.
"Kau yang kenapa, Tuan? Bangun cepat sana!" perintah Jasmine dengan suara yang tercekat karena perutnya masih tertindih Gibran.
Gibran yang sadar akan posisinya sekarang malah tersenyum nakal pada Jasmine. Gibran akan menggoda Jasmine sebentar sebelum dia bangun.
"Sus, tolong!" rintih Jasmine menatap kedua perawat wanita yang masih bergeming di atas sofa.
"Tidak usah, Sus. Masih ada suster ngepot di sini." Gibran melarang perawat untuk membantu Jasmine.
"Kenapa jadi suster ngepot? Kenapa nggak suster ngepet sekalian?" ucap Jasmine dengan wajah yang menyebalkan.
"Kau bisa diam tidak?" Gibran menatap Jasmine tajam.
"Tidak, karena aku punya mulut untuk bicara," balas Jasmine sengit.
Air mata mengalir dari sudut mata Bayu yang masih terpejam damai, bukan karena dia bersedih melainkan itu karena dia tertawa terbahak-bahak di alam bawah sadarnya sampai mengeluarkan air mata.
"Kau punya bibir buat aku cium saja." Gibran mendekatkan wajahnya pada wajah Jasmine, dan saat sudah sangat dekat tiba-tiba Jasmine berkata. "Kenapa jantungku berdetak kencang ya, Tuan? Apa aku sakit jantung?"
"Kelinci bodoh!" Gibran mencium pipi Jasmine karena gemas dan tidak jadi mencium bibir Jasmine yang seperti magnet menariknya untuk mendekat.
"Kalau kelinci bodoh, kancil saja, Tuan." Jasmine menawar sama bodohnya.
"Si kancil anak nakal suka mencuri timun, ayo cepat di kejar jangan diberi ampun." Lirik lagu yang keluar dari mulut Gibran.
Bayu, sepertinya dia harus sabar karena di masa kritisnya dia malah harus diganggu dengan demit berupa manusia, atau malah manusia berupa demit ah ... itu sama saja.
"Suster, bantu saya bangun!" teriak Jasmine dengan keras.
"Tapi Nona, ada han-"
__ADS_1
"Tidak ada hansip di sini, Sus. Cepat bantu kami berdiri!" pinta Gibran memotong ucapan Jasmine.
Dua orang perawat wanita itu pun turun dari sofa dan membantu mereka berdua berdiri.
"Terima kasih." Jasmine dan Gibran berkata bersamaan.
"Sus, lebih baik kalian melakukan tugas awal kalian!" pinta Gibran dengan nada yang penuh wibawa.
"Baik, Tuan." Dua orang perawat wanita itu segera melalukan tugas awalnya untuk mengganti infus Bayu.
"Sus, pasiennya ganteng banget seperti artis," bisik perawat wanita yang satunya.
"Lebih tampan tuan yang berada di belakang kita, Sus. Dia mirip dengan Ricky Harun."
"Iya mirip sama Kirun, hihi ...." Perawat wanita itu tertawa kecil dan Gibran bisa mendengarnya.
"Belum tua saja pinggangku seperti orang encok," ucap Jasmine yang berdiri di samping Gibran.
"Kamu kan memang sudah tua," ucap Gibran dengan santai.
"Tcih, burung kakak tua kau diam saja!" Jasmine mendelik pada Gibran.
"Kalau burung kakak tua ini masuk ke sangkar milikmu, aku jamin kamu tidak akan bisa berjalan setelahnya," ucap Gibran dengan senyum tengil di wajahnya.
"Dasar gila!" teriak Jasmine mengagetkan dua orang perawat yang masih berada di sana.
"Jangan dengarkan mesin rusak bicara, Sus. Fokus saja pada pekerjaan kalian!" ucap Gibran membuat kedua perawat itu kembali bekerja.
"Sas-sus-sas-sus. Kamu mau minum susu ya, Tuan? Hahaha ...." Jasmine tertawa dengan keras.
"Bagaimana kalau aku minum susumu saja?" Gibran tersenyum dan matanya sudah melihat ke arah dada Jasmine.
"Kalau mau minumlah!" ucap Jasmine sambil tersenyum penuh arti.
"Kamu serius?" Mata Gibran berbinar senang, lupa kalau itu akan dosa.
"Tentu saja aku serius, tapi sebelum minum, rasakan ini, hyaaa ...." Jasmine menendang belalai milik Gibran sampai Gibran merasakan sakit yang luar biasa.
__ADS_1
Bersambung ...