Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 104


__ADS_3

Bedside Monitor garis yang semula bergelombang kini berubah menjadi lurus kemudian terdengar suara.


Tuuuuttt ....


"Tidaaaak!" tangis Gibran pecah saat itu juga.


Gibran menggenggam erat tangan Jasmine sambil menggelengkan kepalanya kuat, ia yakin jika semua ini pasti hanya ilusi saja dan semua ini tidaklah nyata. Gibran dengan lemah menundukkan kepala seperti sikap seseorang yang sedang mendengar lagu heningkan cipta. Gibran terus membuat sugesti jika semua ini tidaklah nyata dan dia hanya bermimpi.


"Kau harus bangun dan membesarkan anak-anak kita, Sayang. Kalau kau tidak bangun maka aku akan membawa anak-anak kita pergi bersamamu." Celotehan Gibran semakin tidak memiliki arah, otaknya seperti benda elektronik yang konslet karena tegangan listrik yang terlalu tinggi.


"Tuan, mohon jangan berteriak di sini karena itu akan mengganggu kesehatan pasien!" ucap dr. Hani memperingati Gibran dengan nada yang rendah, sopan, namun penuh penekanan.


"Istriku sudah meninggal dan aku tidak boleh berteriak?" Gibran menatap tajam dr. Hani, laki-laki itu berjalan memutar bed rumah sakit untuk mendekati dr. Hani namun kakinya malah tersandung kaki bed rumah sakit sampai Gibran jatuh tersungkur di lantai.

__ADS_1


Dokter Hani dan beberapa orang yang berada di ruang persalinan reflek menutup mata sambil meringis ngeri mendengar suara jatuhnya Gibran yang sangat sempurna.


"Mari saya bantu berdiri!" Seorang dokter laki-laki mengulurkan tangannya hendak membantu Gibran berdiri.


Gibran menerima uluran tangan dokter tersebut dan segera berdiri, ia kembali berjalan mendekati dr. Hani setelah mengucapkan terima kasih pada dokter laki-laki yang membantunya.


"Tuan Gibran, istri Anda tidak meninggal, beliau masih hidup dan hanya kelelahan karena memakai banyak tenaga dalam tubuhnya sehingga dia sangat lemah sekarang." Dokter Hani buru-buru mengatakan itu saat melihat mulut Gibran telah terbuka hendak bersuara.


"Kau jangan bohong!" bentak Gibran menusuk gendang telinga dr. Hani.


"Jadi, tangisanku tadi percuma dong?" Gibran menarik selimut yang menutup tubuh bagian bawah istrinya kemudian melemparkan kain itu ke sembarang arah dengan frustasi.


Lagipula tidak ada orang-orang yang peduli dengan perbuatan apa yang kau lakukan.

__ADS_1


Semua itu adalah perkataan yang hanya mampu diucapkan dalam hati oleh semua orang yang berada di dalam sana.


Ranti, Satya, juga Gio langsung panik mendengar suara teriakan Gibran dari dalam. Seorang dokter keluar dari ruang bersalin dengan berpeluh keringat.


"Dokter bagaimana kondisi cucu dan menantu saya? Mereka baik-baik saja, 'kan? Jasmine sehat, 'kan?" Ranti memberondong dokter tersebut dengan pertanyaan yang intinya adalah sama.


"Kondisi ibu dan bayinya sehat, hanya saja beberapa alat medis mengalami kerusakan sehingga tidak berfungsi dengan baik," jawab dokter tersenyum dengan tersenyum lembut.


"Maksud dokter?" Ranti tidak paham sehingga dia butuh penjelasan.


"Tuan Gibran sempat mengira jika istrinya meninggal karena bedside monitor tiba-tiba rusak dan belum diketahui sebabnya." Ranti mengangguk-angguk paham.


Jasmine dipindahkan ke suite room rumah sakit tersebut dengan selang oksigen yang masih bertahan di hidungnya. Gibran tidak langsung ikut karena dia diminta untuk meng-azani anaknya.

__ADS_1


Gibran dengan semangat yang tidak terlalu mengikuti apa kata dokter. Laki-laki itu mengusap pelan air matanya yang masih saja menetes.


__ADS_2