
Jasmine tersenyum penuh kemenangan saat melihat Gibran yang menahan hasratnya, sebenarnya Jasmine hanya menggoda Gibran dan tidak benar-benar ingin berhubungan badan, Jasmine ingat kondisi tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih, terlebih sekarang ia sedang hamil.
"Kamu sengaja bikin aku bergairah, 'kan?" Gibran menatap Jasmine tahan, yang ditatap hanya senyum-senyum tidak jelas. Gibran yang gemas dengan ulah istrinya yang dengan berani menyentuh benda pusaka miliknya di tempat umum itu langsung nia raih tangan kanan Jasmine dan diciumnya berulang kali.
"Enggak, ngapain juga aku isengin kamu," elak Jasmine sambil menahan senyumnya. Andai saja sekarang ia tidak sakit, mungkin mereka sekarang sedang berolahraga mengahasilkan keringat dengan suara desahan dan erangan yang membuat mereka lupa segalanya.
"Ngelak terus, sekarang kamu harus tanggung jawab!" ucap Gibran dengan nada tegas berwibawa.
"Aku nggak hamilin kamu, Mas. Jadi, aku nggak perlu tanggung jawab, kan?" Jasmine tersenyum sampai matanya terlihat sipit karena pipi yang terangkat ke atas saat ia tersenyum.
"Jelas kamu nggak bikin aku hamil, tapi aku bisa bikin kamu hamil." Gibran tersenyum menyeringai, ia meraih leher Jasmine agar lebih dekat dengannya kemudian ia dengan lembut mencium bibir Jasmine. Ciuman uang berawal dari kecupan semakin lama semakin dalam hingga lidah mereka saling bertautan, ciuman basah dan hangat yang membuat gairah Gibran semakin bangkit dan perlu disalurkan.
"Manis," ucap Gibran setelah ciuman mereka berkahir.
"Mas, ayo kembali ke ruang rawat aku!" ajak Jasmine dengan suara lembut.
"Kenapa kembali ke sana? Aku masih ingin pacaran sama kamu di sini." Gibran menolak, ia mengecup dahi Jasmine kemudian mengacak-acak rambut istrinya sampai berantakan.
"Capek, aku pengen tidur." Jasmine pura-pura menguap.
__ADS_1
"Tidur atau ditidurin?" Gibran menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menatap istrinya yang terlihat cemberut karena terus ia goda.
"Gombal aja terus!" ucap Jasmine kesal.
"Jangan cemberut gitu, makin cantik istri aku kalau ambekan gini." Gibran mencubit hidung Jasmine lalu memeluknya lagi.
"Laper," cicit Jasmine disusul dengan suara perut yang minta untuk segera diisi.
"Mau makan apa hem?" Gibran merasa sikap Jasmine ada yang janggal.
"Makan soto ayam boleh?" Jasmine menatap Gibran dengan tatapan memohon.
"Soto aja, Mas Jangan bubur, nggak enak." Jasmine memainkan jari tangan kanannya di dada bidang Gibran dengan gerakan memutar.
"Nggak boleh, kamu cuma boleh makan bubur." Gibran masih tidak mengizinkan.
"Alah, boleh!" Jasmine ngeyel.
"Nggak boleh. Dengarkan Mas, kamu itu masih sakit, pencernaan kamu harus diisi dengan makanan yang halus dan tidak berasa, itu supaya kamu cepat sembuh nanti. Jadi, makan bubur aja, ya?" Gibran memberikan pengertian dengan cara yang halus, jangan sampai ia menyinggung Jasmine karena larangannya.
__ADS_1
"Ayo minta izin sama dr. Adit!" Jasmine berdiri sendiri, ia dengan pelan duduk di kursi roda lalu meminta Gibran untuk mendorongnya..
"Ayo, Mas! Dorong kursi rodanya!" Jasmine menarik tangan Gibran agar segera berdiri dari duduknya.
"Nggak mau." Gibran malah melipat dua tangannya di depan dada sambil menatap datar mata istrinya.
"Jatah dua kali deh, Mas. Setelah makan soto, gimana?" Jasmine memberikan penawaran yang tentunya menggiurkan untuk Gibran.
"Jatah apa?" Gibran tidak paham dengan kode dari Jasmine.
"Jatah itu, alah masa kamu nggak tahu?" Jasmine menunjuk pusaka Gibran yang masih bersemayam dalam tempatnya.
"Oke siap, burung siap masuk sarang." Gibran berteriak sampai mengundang perhatian orang.
"Maaaaaas." Malu sudah Jasmine sekarang.
...***...
Bersambung ...
__ADS_1
Like, komen, vote ya!