
...Bab ini ada beberapa kalimat yang aku hapus ya teman-teman. Gak mau bikin dosa jariyah, takut sama Tuhan....
Pagi harinya, Gibran dan Jasmine sudah menuju Bandara Soekarno-Hatta dan lima menit lagi pesawat tujuan Paris Orly Airport ( bandara terbesar kedua di Prancis).
Saat di dalam pesawat, mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dan beristirahat. Setelah mereka sampai di Paris, mereka menginap di Shangri-La Hotel. Mereka sudah berada di dalam kamar setelah makan malam.
Saat ini, Gibran hanya memakai baju handuk karena dia habis mandi, begitu juga dengan Jasmine yang saat ini sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat pantulan suaminya di cermin membuat wajah Jasmine memerah malu karena melihat dengan jelas dada suaminya yang bidang dan sangat nyaman untuk bersandar.
Pikiran Jasmine mulai memikirkan yang tidak-tidak karena tujuan mereka ke Paris adalah untuk bulan madu, dan pasti kalian bisa menebak apa yang pasangan suami istri lakukan saat bulan madu.
"Suamiku tampan sekali, Tuhan." Jasmine memejamkan matanya karena tidak sanggup untuk melihat pantulan dada bidang suaminya itu. Dia menggelengkan kepala pelan untuk membuyarkan pikiran kotornya.
Gibran terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang malu-malu meong padahal sudah sering melihat dirinya yang telanjang seperti ini. Namun, jika boleh jujur, Gibran pun merasakan hal yang sangat jauh berbeda saat mereka di Indonesia. Atau mungkin, ini efek karena malam ini mereka akan belah jeruk?
"Langsung mulai malam, atau mau besok, Sayang?" Gibran berjalan mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. Dia menciumi leher putih Jasmine yang sangat menggoda untuk dirinya dan sedikit menghisapnya pelan sampai meninggalkan bekas merah yang sangat jelas terlihat karena kulit istrinya yang putih.
"Kalau kamu mau malam ini, aku juga nggak masalah, Mas. Aku sudah siap menjalankan kewajiban aku sebagai seorang istri lahir dan batin." Jasmine menggeliat dan berusaha menahan napas agar tidak mendesah.
"Aku tahu kalau aku tampan, kamu sangat beruntung karena menikah dengan pria setampan diriku." Gibran berkata dengan dan sangat percaya diri.
"Narsis banget sih kamu." Jasmine mencubit pipi suaminya dengan gemas.
"Ketularan ayah." Gibran terkekeh.
"Ini mah memang dasarnya kamu." Jasmine mengecup bibir suaminya sekilas bermaksud untuk menggodanya.
__ADS_1
"Kamu mau aku hukum ya main cium-cium." Gibran menggelitik tubuh istrinya sampai Jasmine tertawa kegelian sampai berguling di lantai.
"Haha ... geli, Sayang. Am-ampun ... haha." Napas Jasmine sudah tidak beraturan karena lelah tertawa.
Gibran menghentikan kejahilannya. Saat ini, mereka hanya diam dan saling bertatapan tanpa sadar kapan mereka melakukan ini. Keduanya tiba-tiba merasa canggung dan saling mengalihkan pandangan mereka ke arah lain. Wajah keduanya sama-sama memerah seperti buah tomat yang sudah masak.
"Sebelumnya, aku mau minta maaf sama kamu karena aku belum memenuhi kewajiban aku sebagai seorang istri, padahal pernikahan kita sudah tujuh bulan," ucap Jasmine mengakhiri suana canggung di antara mereka berdua.
"Nggak apa-apa. Bagaimana kalau kita mulai sekarang sampai besok pagi!" Jasmine sudah tidak bisa menahan suaranya karena dia sudah kegelian saat Gibran mengembuskan udara panas di telinganya.
Gibran langsung mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di atas ranjang. Dia mengunci dua tangan istrinya di atas kepala dan menatap mata istrinya dengan lekat membuat yang ditatap wajahnya langsung kembali memerah malu.
Gibran membisikan doa sebelum melakukan hubungan intim di telinga istrinya. Setelah itu, dia mengusap pipi istrinya dan perlahan mulai mengecup seluruh bagian wajah istrinya mulai dari dahi, dua mata, dua pipi, dan berakhir di bibir seksi istrinya.
Gibran menggigit bibir bawah istrinya dan setelah mulut istrinya terbuka, dia melesakkan lidahnya masuk menyusuri mulut istrinya. Mereka berciuman cukup lama dengan gairah yang sudah sama-sama memuncak. Tangan Gibran membuka handuk yang dipakai Jasmine dan tangannya mulai bermain menyusuri tubuh mulus istrinya.
Jasmine memainkan telinga Gibran saat ciuman Gibran turun ke leher dan dadanya. Darah Jasmine rasanya mendidih menikmati sensasi luar biasa yang karena ulah suami tercinta. Tangan Gibran mengusap paha Jasmine membuat dia berteriak karena merasa sangat geli.
"Nikmatilah, Sayang." Ciuman Gibran semakin lama semakin turun.
Tangan kiri Gibran menutup mulut Jasmine agar istrinya itu berteriak. Keringat Jasmine mulai bercucuran padahal permainan mereka baru saja di mulai.
Jasmine mencakar bahu Gibran karena merasa sakit. Dia menjambak dan menarik rambut suaminya dengan emosi karena merasa nikmat.
Aku belum masuk ke gua saja dia sudah seperti ini. Bagaimana kalau aku masuk ke gua nanti? Apa semua tulangku akan patah karena dihajar Jasmine?
__ADS_1
"Aduh, Sayang, sakit." Gibran mengeluh dan menghentikan permainannya sebentar.
"Maaf, aku juga sakit." Jasmine menatap sendu mata suaminya.
"Kalau gitu, nggak usah dilanjut aja, ya!" ucap Gibran karena merasa kasihan.
"Lanjut, dong. Udah nanggung banget, tinggal nunggu punya kamu masuk." Jasmine tidak mau menunda lagi karena cepat atau lambat semua ini akan terjadi.
"Tapi jangan teriak, ya!" ucap Gibran sambil mengusap kapala istrinya dengan sayang.
"Aku usahakan." Gibran pun kembali memulai ritual panas mereka. Gibran mencium bibir Jasmine dan berbisik di telinga istrinya dengan suara yang sangat seksi membuat jantung Jasmine ingin melompat dari rongga dadanya.
"Aku masukin sekarang," bisik Gibran, Jasmine mengangguk dan Gibran pun dengan gerakan yang pelan mulai memasuki gua istrinya yang sangat sempit dan hangat. Jasmine hanya mampu menggigit bibir bawahnya, air matanya mengalir dari sudut matanya saat dia merasakan milik suaminya telah masuk sepenuhnya.
Jasmine menangis bukan karena merasa sakit, tapi dia menangis karena dia merasa terharu, senang, dan juga sedih telah sepenuhnya menjadi istri Gibran. Jasmine berdoa dalam hati, semoga pernikahan mereka jauh dari pertengkaran dan selalu harmonis sampai mereka tua nanti.
Gibran mengusap air mata Jasmine dan Gibran menikmati kehangatan tubuh istrinya sambil memejamkan mata. Gibran mulai bergerak pelan dan lama kelamaan semakin cepat sehingga tubuh mereka berdua sama-sama mandi keringat merasakan sensasi luar biasa yang baru pertama kali mereka lakukan untuk mendapat pahala dari Tuhan.
Setelah satu jam lamanya, Gibran akhirnya menyemburkan lava hangat di dalam sana dan langsung berbaring sambil mengembuskan napas ngos-ngosan di samping istrinya yang sudah tepar.
Gibran menarik Jasmine ke dalam pelukannya dan mencium dahi istrinya itu lama. "Terima kasih, Sayang. I love you so bad." Gibran membenamkan wajah istrinya di dada bidangnya yang masih basah karena keringat.
"Love you too my husband." Karena sudah kelelahan, Jasmine langsung tertidur lelap di dalam pelukan hangat suaminya.
...***...
__ADS_1
Mau next apa tamat?
Kalau like sama komen rame aku lanjut, kalau sepi, aku udahan ajaaaaa.