Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Tawa dan Tangis


__ADS_3

Mobil yang mereka naiki kini sudah berhenti di depan sebuah rumah mewah yang terlihat lumayan sepi. Taman rumah itu terlihat sangat indah dan ditemani macam-macam jenis bunga. Untuk beberapa saat, Gia terpesona dengan rumah dan taman itu. Namun, beberapa saat kemudian, mata Gia molotot tajam ketika sadar kalau dirinya tidak diantar pulang ke rumah. Gia menatap Han tajam dan minta penjelasan di mana mereka berada sekarang.


"Kita di mana? Lo gak niat nyulik gue, 'kan?" Gia bergidik, dia menyilangkan tangannya di depan dada ketika Han menatap di sana.


"Ini rumah gue, istri itu kan tunggalnya sama suami. Iya, gue mau nyulik, Lo. Udah gue bilang kan kalau gue mau kawin sama, Lo." Seringai licik dari wajah tampan Han membuat Gia semakin takut. Mengerjai gadis itu rupanya sangat menyenangkan untuk Han.


"Istri dari Hongkong, kenal aja kagak main ngomong suami istri segala. Otak Lo masih waras, 'kan?" Takut dan cemas, itulah yang Gia rasakan sekarang. Berada satu mobil dengan laki-laki asing dan dibawa ke tempat asing juga, bagaimana dia takut coba? Pikiran Gia sudah berkelana ke mana-mana dan membayangkan yang iya-iya.


Huaaaa ... Koko Gilang. Tolongin Gia dong, gimana kalau aku beneran diperkosa terus hamil terus ... ah ... Astaghfirullah, jangan sampai kejadian. Amit-amit jabang janin.


"Nikah belakangan, yang penting kawin dulu." Han semakin ingin tertawa dengan sangat keras melihat wajah gadis di sampingnya yang semakin panik.


"Jangan jahat dong! Nanti masuk neraka tahu rasa, Lo." Tangan Gua meraba-raba pintu mobil hendak membukanya dan berniat untuk kabur. Namun, pintu mobil itu masih dikunci.


Han tersenyum geli melihat Gia yang ketakutan, wajah panik gadis itu membuat Han merasa bahagia. Han mengurung Gia di sisi kanan dan kiri tubuhnya dengan tangan, sehingga sekarang Gia terpojok di mobil milik Han dengan kepala menempel pada kaca mobil.


"Tahu rasa apa? Balado, pedas manis, padang?" Han berkata tepat di depan wajah manis gadis itu. Deg ... deg ... Gia bisa mendengarkan suara detak jantungnya sendiri. Napas Han yang berbau mint sangat segar ketika Gia hirup.


"Jangan macam-macam!" Bulu halus di seluruh tubuh Gia berdiri karena merinding.


"Gak macam-macam, cuma satu macam saja." Gia memejamkan mata ketika merasakan jari telunjuk tangan Han yang besar mengusap bibirnya dengan sangat pelan dan lembut. Gia merasakan bibir Han mengecup dahinya dan itu membuat Gia merasa harus segera keluar dari mobil itu kalau tidak mau kebablasan.


"Om Gio," teriak Gia tiba-tiba ketika bibir Han hampir menyentuh bibirnya.


Han sangat terkejut dan reflek mundur menjauhi Gia serta langsung membuka pintu mobilnya. Gia tertawa terbahak-bahak melihat Han yang gelagapan. Gia keluar dari mobil sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu lelah tertawa.


Han melihat ke sekelilingnya dan tidak mendapati Gio di sana. Suara tawa Gia yang keras membuat Han tahu kalau dirinya hanya sedang dikerjai oleh bebek nakalnya itu.


Bukannya marah, Han malah tertawa kecil melihat Gua yang tertawa lepas sampai matanya berair.


Han berjalan memutari mobil kemudian berdiri tepat di depan Gia.


"Asik ya ngerjain orang dewasa?" Han menatap Gia dalam-dalam.


"Asik banget," jawab Gia lossdol.


"Naik ke punggung gue sekarang!" Han berjongkok untuk menggendong Gia ketika mereka telah sampai di kediaman Han.


"Ogah, gue mau jalan sendiri aja." Dasar emang keras kepala, dengan kaki yang pincang Gia berjalan sendiri menuju ke teras rumah Han. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan dia langsung berhenti dan berbalik badan menatap Han yang masih berjongkok.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" tanya Han dengan wajah yang dibuat imut.


Hoek! Hoek! Rasanya Gia ingin muntah saat ini juga melihat wajah imut yang Han yang sangat menyebalkan di matanya.


"Bukan rumah gue," jawab Gia dengan senyum masam.


"Calon rumah masa depan kita," ucap Han dengan tenang dan penuh dengan makna tersirat.


"PD jreng, siapa juga yang mau satu rumah sama, Lo?" Gia meringis ketika merasakan pergelangan kakinya semakin sakit.


Gia berjalan terseok-seok meninggalkan rumah Han. Tapi, bukan Han namanya kalau mengalah begitu saja.


Han menyusul Gia kemudian langsung menggendongnya ala bridal style. Gia ingin marah saat juga. Namun, yang bisa dia lakukan hanya melingkarkan tangannya di leher Han.


...~ooOoo~...


Naira (mama Han) sedang duduk di kursi balkon rumah dan melihat pemandangan kota yang begitu ramai dengan hiruk pikuk kendaraan yang berlalu-lalang. Matanya menyipit ketika melihat mobil putranya berhenti di halaman rumah dan putranya itu tidak kunjung keluar dari sana.


Naira terus memerhatikan mobil putranya dan mengerutkan dahi setelah beberapa menit melihat Han tiba-tiba keluar dari mobil seperti orang yang ketakutan karena ketahuan berbuat hal yang tidak baik.


Naira tambah bingung ketika melihat sekarang gadis cantik berseragam SMA keluar dari mobil putranya sambil tertawa terbahak dan kakinya sedikit pincang. Ketika Naira memerhatikan wajah gadis itu dengan seksama, dia langsung tersenyum ketika tahu kalau gadis itu adalah keponakan dari sahabat putranya.


Naira tidak kuasa untuk menahan tawa ketika melihat tingkah lucu kedua remaja itu. Naira berpikir kalau mereka pacaran karena tingkah laku mereka terlihat sangat romantis dan menggemaskan.


"Wah, ternyata Han gerak cepat juga. Senangnya, sebentar lagi dapat mantu cantik." Naira berdiri dan langsung berlari menuju lantai satu untuk menyambut mereka.


"Ya Allah, calon mantu mama cantik sekali, mirip mama waktu muda dulu, walau lebih cantik mama sedikit." Gia mengedipkan matanya dengan lucu ketika tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya memeluk dan menciuminya dengan sayang.


Gia juga merasa malu ketika mendengar kata-kata wanita itu. Hallo? Apakah Gia sedang terjebak dalam sebuah drama sekarang? Konyol sekali.


Gia menatap Han yang terlihat sedang tersenyum padanya. "Siapa?" tanya Gia tanpa suara.


"Mama aku," jawab Han tanpa suara juga. Gia mengangguk paham dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


Ketika Naira melepas pelukannya, Naira menetap lekat wajah cantik dan manis Gia.


"Kamu kok gak pernah main ke sini? Biasanya kan kalau orang pacaran itu sering main ke rumah." Gia tertawa polos.


"Sepertinya Tan-" Gia menghela napasnya lemah ketika ucapannya sudah lebih dulu dipotong Naira.

__ADS_1


"Mama, panggil aku mama!" pinta Naira dengan antusias.


"I-iya Tan ...eh, Ma." Lah, kapan kamu nikah sama papa saya? Mama saya cuma satu doang, lanjut Gia dalam hati.


"Bagus, pintar sekali calon mantu mama ini." Naira mengusap kepala Gia dengan begitu perhatian.


"Maaf, Ma. Tapi aku ini bukan pacarnya Bang Han." Eh? Dahi Naira berkerut mendengar perkataan Gia baru saja.


"Iya, Ma. Yang dikatakan sama Gia betul, dia bukan pacar aku." Gia tersenyum lega ketika Han mengatakannya. Salah paham tidak akan berlanjut lama jika sudah seperti ini.


"Kalau bukan pacar kamu terus siapa?" Naira tertawa kecil, sepertinya dirinya paham kalau sekarang gadis cantik dan manis itu belum Han pacari.


"Istri masa depan Han," kata Han dengan sangat tenang dan percaya diri.


Rahang Gia terjatuh sehingga mulutnya menganga ketika jawaban Han jauh lebih parah daripada mengakui Gia sebagai pacarnya.


"Aku ganti baju dulu, ya, Sayang. Kamu ngobrol sama mama. Muach!" Han mencium mulut Gia yang terbuka di depan Naira.


Naira bertepuk tangan girang melihat adegan romantis baru saja, sedangkan Gia. Gadis itu rasanya ingin melompat dari pohon ciplukan sekarang juga.


"Bang Haaan!" teriak Gia dengan sangat kesal seraya berdiri dengan cepat hendak mengejar Han. Naira semakin tertawa keras karena teriakan Gia seperti orang yang sedang ngambek dengan pasangannya.


"Hiks! Huaaa ...." Setelah berteriak, Gia tiba-tiba menangis kencang tanpa merasa malu walau di depan orang lain.


"Eh, kok nangis. Kenapa, Sayang?" Naira panik sambil mengusap air mata Gia.


"Kaki Gia sakit, Ma," cicit Gia lirih. Ya, kakinya memang jadi tambah sakit ketika digunakan berdiri secara tiba-tiba. Kaki Gia harus segera diurut atau kalau telat sedikit saja pasti kaki itu akan bengkak.


"Kaki kamu kenapa sih?" Naira penasaran.


"Keseleo, Ma." Gia semakin merintih ketika merasakan rasa sakitnya lebih dari rasa sakit karena kram.


"Pak Rabuuu, ke sini sebentaaar!" teriak Naira memanggil tukang kebun rumahnya.


Pak Rabu yang mendengar suara teriakan majikannya langsung melempar gunting pohon yang dia pegang dan berlari masuk ke rumah utama untuk memenuhi panggilan sang majikan.


"Ya, saya di sini, Nyah." Pak Rabu ngos-ngosan karena berlari sangat kencang.


Han yang sedang di kamarnya hanya bisa mengelus dada sambil beristighfar ketika mendengar suara mamanya yang membahana.

__ADS_1


***


Bersambung ..


__ADS_2