
Gavin tersenyum, perasaan hangat menyelimuti hatinya. Tiba-tiba saja dia teringat dengan masa lalunya bersama dengan kakak laki-laki yang telah meninggalkannya beberapa tahun yang lalu.
Kak, adik kita sudah hampir menjadi ibu dan aku sama sekali belum mendapatkan wanita yang cocok untukku. Dulu kita berjanji kalau kamu akan menikah sebelum Gia menikah dan aku setelah adik kita itu memiliki anak. Andai saja hari itu kamu tidak menyelamatkan aku, mungkin sekarang kamu masih berada di sini bersama dengan keluarga kita.
Gavin memerhatikan adik dan iparnya yang masih berpelukan melepas kerinduan mereka. Ada dorongan kuat dari hatinya yang meminta dirinya untuk segera mencari pendamping hidup juga.
"Dek, abang mau keluar dulu." Gavin mencubit pipi Gia yang terlihat semakin berisi, mengusap kepalanya lembut, dan meninggalkannya berdua di kamar dengan iparnya.
***
"Anak papa rewel gak saat papa tinggal bekerja?" Han berlutut di depan sang istri dan memeluk pinggangnya serta menempelkan wajahnya di perut buncit itu.
Gia mengusap lembut kepala suaminya, dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Tidak pernah dia sangka jika sebentar lagi statusnya bukan hanya seorang istri, tapi seorang ibu juga. Ibu dari anaknya dengan laki-laki yang dia cintai, yang sebelumnya tidak pernah dia sangka akan menjadi suaminya.
"Gak rewel, Papa. Sekarang dedek minta dotengokin." Gia berbicara pelan seperti orang berbisik.
Senyuman Han mengembang, dia memang sudah sangat merindukan kehangatan dari sang istri selama dua bulan ini.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang dan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Han langsung berdiri dan mengangkat tubuh sang istri membawanya ke ranjang kamar mereka.
Han membaringkan Gia di sana dan mulai melakukan tugasnya sebagai seorang suami dengan cara memberi nafkah batin untuk sang istri.
Hari itu, mereka melakukannya dengan penuh perasaan dan terasa lebih nikmat dari sebelumnya karena melakukan saat perasaan rindu itu sudah lama mereka pendam, terlebih dengan perut buncit Gia. Hal itu membuat sensasi berbeda pada hubungan mereka saat ini.
Setelah selesai melakukannya, Gia memeluk tubuh suaminya dan membenamkan wajah di sana lalu tidur karena kelelahan.
***
Rangkaian acara demi acara tujuh bulanan telah dilaksankan dengan sangat baik dan cukup mewah. Semua orang yang berada di rumah itu merasa sangat bahagia dan tidak sabar untuk menyambut kelahiran bayi dalam kandungan Gia.
Anak yatim dan piatu yang sengaja diundang pun terlihat sangat bahagia dan mendoakan yang terbaik untuk Gia dan calon anaknya. Tetesan air mata haru pun berlingan di pipi masing-masing orang.
Setelah acara selesai dan tamu sudah pulang semua
"Sebentar lagi keponakanku akan lahir. Doakan aku semoga bisa segera menikah dan memiliki anak." Gio mengusap perut buncit keponakannya dan mencium dahi serta kedua pipi Gia dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Aamiin, semoga Om cepat mendapatkan rusuk Om yang terpisah." Gia memeluk Gio dan memberikannya kecupan di pipi.
"Om setelah ini akan pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan om yang baru. Kamu jangan rindu, ya!" Gio melepaskan pelukannya ketika melihat Han yang baru saja datang dengan membawa satu piring nasi beserta lauk pauknya menatapnya horor. Sahabat sekaligus suami adiknya itu ternyata sedang cemburu sekarang.
"Jangan peluk-peluk istri gue lagi, makannya nikah biar tahu rasanya enak punya istri." Suara Han membuat Gia menoleh dan menggelengkan kepalanya.
Kenapa suaminya itu sangat posesif? Gia sudah sangat dekat dengan Gio sebelum mengenal suaminya.
"Makan dulu, Sayang!" perintah Han dengan nada dingin. Dia menyerahkan piring yang dia bawa kepada istrinya.
"Terima kasih, Sayang. Mau disuapin boleh?" Gia menatap wajah suaminya yang terlihat lebih tampan dari sebelumnya.
"Boleh dong, sini aku suapin." Han hendak mengambil kembali piring di tangan istrinya.
"Maunya disuapin sama Om Gio." Gia malah menyerahkan piring di tangannya pada Gio.
"Hahaha, istri Lo lebih sayang gue." Gio menjulurkan lidahnya dan dengan senang hati dia menyuapi keponakan tersayangnya. Gio bahkan sengaja memperlakukan Gia berlebihan agar kadar kekesalan Han semakin bertambah.
__ADS_1
***