Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Syala


__ADS_3

Gia berlari masuk ke musala dan langsung memeluk mama tercinta. Jasmine yang sangat merindukan putri kecilnya balas memeluk Gia dengan erat dan menghujani wajahnya dengan banyak kecupan lembut.


"Koko Gilang, satu minggu yang lalu Gia ketemu sama cewek yang suka sama Koko," ucap Gia dengan masih memeluk Jasmine, Gilang hanya tersenyum pada adik perempuannya.


"Siapa namanya, Sayang?" Jasmine berbisik.


"Mama kepo." Gia terkikik, Gia tidak akan memberitahu Jasmine karena yang tahu cewek itu cuma Gio, dirinya, dan Gilang.


Gavin menatap Gia penuh selidik, sedangkan yang ditatap bersikap biasa-biasa saja karena memang sudah biasa.


Gia melepaskan pelukannya kemudian memeluk Ranti yang tidak jauh dari Jasmine. Ranti sangat bahagia atas kepulangan cucu perempuannya. Gia hanya datang ke sini ketika liburan sehingga membuat Ranti sedikit bersedih berjauhan dengannya.


"Nenek apa kabar?" Gia bertanya sangat sopan.


"Baik, Sayang." Ranti mengelus kepala Gia dengan lembut dan hangat.


Azan Isya berkumandang, Gibran baru saja datang dan sudah berwudhu juga. Gia langsung berlari keluar musala kemudian berwudhu karena ingin ikut salat berjamaah.

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu, semua sudah selesai salat dan berjalan kembali ke rumah. Gia menggandeng tangan Gilang dan berjalan beriringan dengannya.


"Koko gak kangen sama Kak Syala?" tanya Gia ketika masih di perjalanan.


"Kamu jangan nempel seperti perangko gitu, Gia. Kakak juga mau jalan bareng sama Kak Gilang," ucap Gavin yang saat ini berjalan di sebelah kanan Gilang.


"Iri bilang, Bos!" Gia menjulurkan lidahnya ke arah Gavin.


Gavin tersenyum samar melihat kedua adiknya yang hampir setiap bertemu tidak akan akur. Gilang merangkul bahu Gia dan mengabaikan Gavin di sebelahnya.


"Koko sama dia cuma berteman, tidak lebih." Gilang mengatakan yang sejujurnya, sebenarnya ia sangat penasaran kenapa adiknya bisa bertemu dengan Syala ( teman Gilang yang kedua setelah Rangga) Gilang ingin segara pulih secepatnya.


"Ngapain di sini?" Gia menatap tajam Gavin.


"Bukan urusan kamu adik durjana," jawab Gavin sinis sambil menoyor kepala adiknya dengan gemas.


"Kakak durhaka, diam aja gak usah banyak ngomong!" Gia mencubit perut Gavin dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Berani kamu sama, Kakak?" Gavin menghimpit leher Gia dengan tangan kiri dan menggelitik adiknya sampai tertawa terbahak-bahak dan meminta ampun untuk dilepaskan.


"Hahaha ... ampuuuun, Baaaang!" Gia sudah lelah tertawa terus, bahkan matanya sampai berair.


Gavin melepaskan Gia karena merasa kasihan dengannya. Dengan napas ngos-ngosan, Gia menarik tangan Gavin kemudian menggigitnya dengan sangat kuat sampai terluka dan sedikit berdarah.


"Aa arrrggghhh, Gia sakiit!" teriak Gavin sambil menjewer Gia.


"Drakula cantik balas dendam," ucap Gia setelah berhasil mengigit kakaknya.


Gilang hanya melihat kedua adiknya sambil tersenyum tipis tanpa berniat memisahkan mereka. Air sama minyak kalau disatukan tetap gak akan bersatu, bisa bersatu kalau ada yang meleburnya yaitu sabun. Air itu Gia, minyak itu Gavin, dan sabun adalah Gilang.


"Koko Gilang, Gia mau ke kamar. Besok Koko ikut aku, ya!" tanpa menunggu jawaban dari Gilang. Gia langsung berlari keluar kamar dan Gavin langsung mengejar adik perempuannya.


"Jangan kabur kamu!" teriak Gavin yang langsung mendapat acungan jempol terbalik dari adiknya.


"Giaaaaa!" Gavin berteriak sangat kesal.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2