
☘ Jika berkenan memberikan kritik atau saran, gunakanlah bahasa yang baik dan sopan.☘
Gibran bangun lebih dulu dari Jasmine, dan kebetulan itu bertepatan dengan datangnya dr. Adit yang hendak memeriksa keadaan Jasmine sekarang.
"Selamat siang, Tuan. Saya mau memeriksa istri, Anda." Dokter Adit tersenyum ramah.
"Saya akan membangunkan istri saya dulu, Dok." Gibran dengan lirih membangunkan Jasmine. Tidak butuh waktu yang lama karena Jasmine langsung bangun.
"Biar dokter periksa kamu dulu, ya!" Gibran mencium dahi Jasmine kemudian mempersilakan dr. Adit untuk memeriksa istrinya.
Sepuluh menit kemudian, pemeriksaan telah selesai.
"Dok, saya mau tanya." Jasmine menatap dr. Adit.
"Silakan!" Dokter Adit tersenyum.
"Sebelumnya saya ingin bicara dengan suami saya dulu." Jasmine menatap Gibran sambil tersenyum.
"Mau bicara apa, Sayang?" Gibran siap mendengarkan.
"Aku hamil." Tidak seperti kebanyakan orang yang memberikan kejutan pada suaminya, Jasmine terkesan menyampaikan dengan cara yang biasa.
"Alhamdulillah, kamu beneran hamil!" Gibran sangat bahagia, namun ia tidak mau melakukan kesalahan lagi karena terlampau bahagia.
"Sepertinya, maka dari itu, aku mau minta dr. Adit buat memastikan." Jasmine sekarang menatap dr. Adit lagi.
"Kalau saya periksa dari denyut nadi memang Anda sedang hamil. Tapi, untuk memastikannya, Anda lebih baik diperiksa oleh dokter obgyn." Dokter Adit tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih." Jasmine tersenyum.
"Dok, apa istri saya boleh makan makanan luar?" tanya Gibran ketika ingat dengan permintaan Jasmine tadi.
"Boleh saja, asal tidak pedas dan kuat rasanya, serta tetap harus makanan yang sehat dan bergizi." Jawaban dr. Adit membuat Gibran tersenyum senang.
"Soto boleh?" tanya Gibran lagi.
"Boleh, tapi jangan berlebihan!" pesan dr. Adit.
"Siap, Dok." Gibran menatap Jasmine yang sedang tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi keluar. Jangan lupa periksa pada dokter obgyn untuk memastikannya!" Dokter Adit segera keluar setelah memberikan saran.
"Baik, Dok. Terima kasih." Gibran tersenyum ramah.
Gibran duduk di tepi ranjang rumah sakit, ia menyuruh Jasmine untuk mendekat kemudian Gibran memeluknya dengan erat.
"Kamu nggak bahagia, ya, Mas?" tanya Jasmine ketika melihat ekspresi Gibran biasa saja.
"Aku sangat bahagia, sangat-sangat bahagia. Tapi, mas nggak tahu harus berekspresi seperti apa." Sebenarnya Gibran ingin berteriak sambil melompat-lompat, tapi ia urungkan karena tidak ingin anak dalam perut istrinya nanti meniru dirinya.
"Maaf, ya, Mas. Aku nggak ngasih tahu dari awal kalau aku hamil." Jasmine menatap wajah Gibran dengan sendu, tangannya meremas ujung baju yang ia pakai, ia mengigit bibir dalamnya karena takut Gibran akan marah dengan dirinya.
"Sudahlah tidak apa-apa. Ayo kita periksa ke dokter obgyn!" Gibran membantu Jasmine duduk di kursi roda, ia ikut antri di depan ruang untuk pemeriksaan kandungan.
Beberapa menit kemudian, giliran Jasmine yang diperiksa, dengan setia Gibran menemani Jasmine ke dalam.
Dokter mulai bertanya tentang apa pun hal yang berhubungan dengan keluhan Jasmine. Setelah semuanya selesai, dokter menyuruh Jasmine untuk berbaring kemudian dokter mengoleskan gel bening ke perut Jasmine dan mulai melakukan USG.
Jasmine menutup matanya, sedangkan Gibran mengamati layar yang menampilkan keadaan di dalam rahim Jasmine.
"Pak, apa Anda bisa melihat titik kecil yang besarnya seperti biji kacang ini?" tanya dokter sambil menunjuk titik kecil pada layar.
Gibran memicingkan matanya lalu mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Ya, benar. Itu calon anak, Anda." Dokter tersebut tersenyum melihat ekspresi Gibran yang terharu melihat embrio dalam rahim istrinya.
"Sayang, buka mata kamu! Lihat anak kita!" Jasmine dengan ragu melihat ke layar, ia tersenyum melihat ada embrio yang benar-benar tumbuh di rahimnya. Tanpa terasa, air mata Jasmine menetes begitu saja melihat calon anaknya.
Jasmine merasa sangat bahagia, sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu. Ibu dari anak Gibran suaminya.
Setelah semuanya usai, Gibran mengajak Jasmine untuk makan di kantin rumah sakit karena Jasmine menolak makan di ruangannya.
Gibran membiarkan Jasmine makan soto sesuai keinginannya tadi. Walaupun awalnya Jasmine sudah kehilangan selera makan, namun Jasmine ingat jika dirinya tetap harus makan agar bayi dalam kandungannya sehat.
...***...
Tiga hari kemudian, Jasmine sudah diperbolehkan untuk pulang. Mereka dijemput Airin dan Bayu atas permintaan Gibran.
Setelah mereka sampai di rumah, Jasmine langsung istirahat di kamar karena ia masih tidak boleh terlalu banyak bergerak.
__ADS_1
...***...
Hari ini Ayunda sudah diperbolehkan untuk pulang setelah koma beberapa minggu karena kecelakaan yang menimpanya. Akbar dan Ridwan dijemput oleh Bayu di rumah sakit, Bayu diperintah Gibran untuk mengantar mertuanya sampai rumah dengan aman dan nyaman.
"Selamat siang, Pak, Bu. Saya ke sini ditugaskan Pak Gibran untuk menjemput kalian." Bayu mengutarakan maksudnya dengan sopan.
"Bagaimana keadaan putriku?" tanya Akbar karena ia belum sempat menjenguk Jasmine.
"Bu Jasmine sudah sehat, beliau juga sudah pulang tiga hari yang lalu," jawab Bayu dengan senyuman manisnya.
"Apa putriku tahu kalau selama ini aku juga sakit?" tanya Ayunda, ia sudah sadar jika ia selama ini bersalah karena tidak memperhatikan Jasmine.
"Saya tidak ada hak untuk menjawab pertanyaan itu, jika kalian sudah berkemas. Mari ikut saya ke dalam mobil!" Bayu menunduk sopan, ia membantu Akbar membawa tas besar yang berisi pakaian ganti selama ia di rumah sakit.
"Baiklah, saya mengerti." Akbar tersenyum.
Sejak kedatangan Bayu, Ridwan hanya diam saja. Ia mengamati wajah Bayu yang menurutnya biasa-biasa saja dan wajah itu terlihat sangat mengesalkan untuknya.
Ridwan tidak suka dengan Bayu karena Bayu terlihat dekat dengan Airin, wanita yang ia sukai.
Padahal Bayu sama sekali tidak menyukai Airin, Bayu malah sedikit tidak suka dengan Airin entah apa sebabnya.
Mereka berempat kini sudah berada di dalam mobil yang melaju ke rumah Akbar. Di dalam mobil mereka hanya diam, tidak ada percakapan walau hanya sebentar.
Setelah mobil sampai di rumah, Bayu membantu membawakan tas milik Ayunda sampai ke dalam rumah.
"Pak, Bu. Tugas saya sudah selesai, kalau begitu saya pamit pulang." Bayu berpamitan dengan sopan. Bayu melirik Ridwan yang sedang menatapnya dengan dingin dan tidak suka.
Bayu menaikkan dua bahunya tidak peduli, ia hanya membalas dengan tatapan yang lebih dingin dari tatapan Ridwan.
"Terima kasih, Pak Bayu." Akbar dan Ayunda tersenyum setelah mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama." Bayu tersenyum lalu segera keluar dari rumah Akbar.
Ridwan menatap punggung Bayu yang berjalan keluar dari rumahnya sambil menggerutu kesal. Ridwan mulai hari ini akan menganggap Bayu sebagai rival dirinya untuk memperebutkan cinta Airin.
...***...
Bersambung ...
__ADS_1
Mampir ke karya aku yang ini juga yuk.
MENCINTAIMU DALAM DIAM yang alurnya sedikit berputar.