
Satya segera keluar rumah lalu dia mencari Pak Jumat yang kebetulan dia temukan di pos satpam dan sedang bermain catur dengan Pak Mamat.
"Wuih, asik ya pada main catur di jam kerja." Satya berkacak pinggang, dia memasang tampang wajah yang galak lalu menatap kedua orang di pos satpam itu dengan tatapan tajam.
Pak Mamat dan Pak Jumat yang belum melihat siapa yang berbicara dengan mereka langsung menjawab dengan santai.
"Enak dong, kebetulan Pak Satya tidak tahu, jadi kami bisa mencuri waktu untuk bermain catur sebentar." Pak Jumat menjawab dengan senyum menyebalkan.
"Memang sudah berapa menit main di sini?" tanya Satya mencoba untuk bersabar.
"Belum lama kok, cuma baru tiga jam," jawab Pak Mamat dengan lancar.
"Kalian minta saya potong gajinya?" Satya bicara dengan suara yang halus, kedua tangannya menepuk pundak Pak Mamat dan Pak Jumat bersamaan.
"Eh, Bapak. Mau main catur, Pak?" Pak Jumat tersenyum takut saat melihat wajah Satya dengan seringai menyeramkan di bibirnya. Pak Jumat benar-benar takut namun berusaha membuat suasana tidak menegangkan.
"Tidak, saya tidak punya waktu untuk bermain itu." Satya menjawab dengan suara keras dan galak.
"I-iya, Pak. Saya hanya bertanya saja hehe." Pak Jumat cengengesan, tangannya sudah mencengkeram erat tangan lawan mainnya.
Pak Mamat hanya bisa diam sambil menelan ludahnya dengan susah payah. Dia meringis saat kuku Pak Jumat menancap di tangannya, dia menahan sakit seperti orang yang sedang menahan buang air besar.
Satya sebenarnya ingin tertawa melihat wajah lucu Pak Mamat satpam penjaga gerbang. Namun, dia masih punya hati untuk tidak tertawa di depan orangnya langsung.
"Pak Jumat, tolong buang kecoak yang ada di dalam rumah. Sudah saya bantai tinggal di buang saja!" perintah Satya langsung setelah tadi berbasa-basi.
"Baik, Pak. Sadis amat si Bapak euy kecoaknya dibantai, nanti kalau anak, bapak, kakak, atau adik kecoaknya mencari bagaimana, Pak?" tanya Pak Jumat konyol dan langsung mendapat toyoran di kepala yang dilakukan Pak Mamat.
"Jangan banyak cakap kau ini, kerjakan saja apa yang diperintahkan sama bapak." Pak Mamat mendorong tubuh temannya itu dengan tenaga penuh.
"Kamu bilang saya sadis? Kamu mau saya bantai seperti kecoak di dalam rumah sekarang?" Satya mendelik tajam menatap horor Pak Jumat yang langsung kabur dengan lari terbirit-birit masuk ke dalam rumah besar.
Pak Mamat menahan tawa melihat Pak Jumat yang agak. gendut itu berlari kocar-kacir ke dalam rumah.
Mata Pak Mamat sekarang melihat ke arah Satya yang sedang memerhatikan dirinya dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Bapak kenapa menatap saya?" Pak Mamat bertanya dengan suara kecil.
"Kamu mau saya potong gaji?" ucap Satya masih dengan menatap datar Pak Mamat.
"Jangan Pak, mau makan apa istri dan anak saya di kampung kalau gaji saya Bapak potong?" Pak Mamat menunduk seperti orang yang sedang mengheningkan cipta mengingat jasa para pahlawan yang telah berjuang mendahului kita.
"Kalau tidak mau gajinya dipotong, bekerja yang benar, Pak," ucap Satya memberi peringatan.
"Baik Pak, maafkan saya! Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Pak Mamat meminta maaf dengan suara yang bergetar, agaknya dia sedang menahan tangis.
"Bapak menangis?" tanya Satya, dia duduk di depan Pak Mamat, tempat yang tadi diduduki Pak Jumat.
"Tidak, Pak! Saya tidak menangis. Saya kan sudah tua masa saya menangis sih, Pak. Hiks -hiks ...." Katanya tidak menangis tapi kok terisak pelan. Aduh Satya, kamu harus tanggung jawab karena telah membuat karyawan kamu menangis.
"Kalau tidak menangis, kenapa itu mata banjir?" tanya Satya dengan suara yang hangat dan lebih ramah.
"Tangan saya, Pak," jawab Pak Mamat sambil menunjuk tangannya.
"Tangan?" Satya langsung melihat ke arah yang ditunjuk Pak Mamat, Satya tertawa terbahak-bahak saat melihat tangan Pak Mamat terjepit papan catur yang telah ditutup. Agaknya yang menutup papan catur itu Pak Jumat.
"Bwahahaha ... saya kira menangis karena saya marahi." Satya membuka papan catur dan dengan cepat Pak Mamat meniup-niup jari tangannya yang memerah, beruntung tidak lecet dan berdarah.
"Iya, Pak." Pak Mamat menjawab dengan lirih.
"Pak Mamat jualan tomat yang beli orang hormat, ayo kita main catur berdua!" ajak Satya setelah memberi peringatan mode keras.
"Saya tidak mau, Pak. Nanti gaji saya dipotong." Pak Mamat menolak, rupanya dia benar-benar bertaubat karena perbuatannya.
"Tidak akan saya potong, nanti saya kasih bonus Rp 500.000 kalau mau main catur sama saya." Satya tidak berbohong dengan kata-katanya.
"Tidak, Pak. Saya takut, ini jam kerja saya." Satya tersenyum saat Pak Mamat jadi berubah, untung tidak berubah menjadi tujuh seperti Raden Kian Rantang ... ralat Kian Santang.
"Pak Mamat jualan tomat yang beli orang hormat, kan ini saya yang mengajak jadi tidak apa-apa." Satya tersenyum ramah dan berwibawa.
"Tidak apa-apa beneran, Pak?" tanya Pak Mamat sedikit ragu.
__ADS_1
"Iya Pak Mamat," jawab Satya, lama-lama kesal juga bicara dengan Pak Mamat.
"Kalau begitu, kita mulai saja, Pak!" ajak Pak Mamat, mereka pun akhirnya beradu kecerdasan dalam bermain catur sekalian melatih fokus dan kesabaran.
***
Di Dalam Rumah.
Ranti yang semula kabur kembali lagi ke dapur untuk melihat apakah suaminya masih di sana atau tidak.
Saat di dapur, Ranti tidak melihat suaminya tapi dia melihat Pak Jumat yang sedang mencari-cari sesuatu.
"Pak Jumat mencari apa?" tanya Ranti tiba-tiba.
"Alakazam, bikin kaget saja si Ibu." Pak Jumat mengusap dadanya dengan pelan.
"Maaf. Pak Jumat lihat bapak tidak?" tanya Ranti, bapak yang dimaksud Ranti adalah Satya suaminya.
"Tadi Pak Satya ada di pos satpam, Bu. Tadi sih bapak memanggil saya untuk membuang kecoak, tapi saya cari-cari kecoak-nya tidak ada," jawab Pak Jumat dengan suara yang jelas.
"Oh, kecoak-nya ada di dekat ruang makan, Pak." Ranti memberitahu Pak Jumat.
"Cari saja di sana, Pak. Saya mau ke depan dulu mencari suami saya." Ranti segera pergi meninggalkan Pak Jumat di dapur.
Ranti berjalan dengan langkah cepat ke pos satpam karena dia yakin kalau suaminya ada di sana sesuai dengan yang diberitahukan Pak Jumat tadi.
Sesampainya di pos satpam, Ranti melihat suaminya serang asik main catur dengan Pak Mamat sampai tidak menyadari kehadirannya.
"Enak ya main catur sampai lupa sama istri?" Ranti berdiri di pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Enak dong, Bun," jawab Satya saat melihat istrinya berasa di depan pintu.
"Ayah kok malah main catur di sini? Ayo masuk!" Ranti menarik telinga Satya sambil mengajak suaminya itu masuk ke rumah.
"Belum selesai mainnya itu, Bun." Satya tidak mau diajak masuk.
__ADS_1
***
Nanggung-nanggung nungging eh