
Jasmine tersenyum kikuk, dia tidak akan mau menikah dengan Gibran karena dia tidak mencintai, Gibran. Bukan tidak cinta sih, tapi mungkin belum cinta.
"Jasmine masih muda, Tante. Jasmine masih ingin menikmati masa muda Jasmine dangan kesendirian." Walau aku memang selalu sendirian karena orangtuaku sudah tidak menyukaiku lagi. lanjut Jasmine dalam hati.
"Justru karena masih muda itu kamu harusnya menikah, nanti kalau kamu menikah di usia yang sudah tua, bahaya jika mengandung." Ranti ternyata masih memprovokasi Jasmine agar mau menikah dengan putra somplaknya, yang akhir-akhir ini sudah sedikit waras dari keanehannya itu.
"Iya, Tante. Mungkin aku akan menikah tapi bukan dengan Tuan Gibran." Jasmine memperlihatkan kepada Ranti jika dia menolak secara halus. Jasmine merasa dirinya masih waras sehingga dia tidak ingin menikah dengan Gibran yang menurut dirinya rasa gesrek.
Ranti terkejut melihat penilaian Jasmine secara halus, dia tidak menyangka jika putranya akan ditolak secara mentah-mentah seperti ini. Ranti tiba-tiba jadi merasa kasihan dengan putranya karena nasib percintaannya sangat sulit menurut dirinya.
Ranti merasa sedih karena dia sudah ingin menjadikan Jasmine sebagai putrinya, tapi apa boleh buat jika Jasmine menolak maka dia pun tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa kepada Tuhan untuk kebahagian putranya.
"Jasmine, rumah teman kamu di mana? Biar Tante antar kamu sampai di rumah teman kamu." Ranti tersenyum lembut menutupi rasa kecewa di hatinya.
"Rumah teman Jasmine tidak Jasmine bawa Tante, berat, hehe ...." Jasmine mencandai Ranti yang hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
Waduh, kayaknya gue salah bicara nih. Tante Gibran ... eh mamahnya Gibran maksud gue, kelihatan nggak suka sama gue.
Jasmine jadi minder sendiri dan malu karena merasa candaannya garing dan malah membuat suasana antara mereka jadi canggung.
"Ya sudah, ayo! Kita cari rumah teman kamu." Ranti berdiri lalu menggandeng tangan Jasmine menyalurkan kehangatan seorang ibu sampai di hati Jasmine yang telah lama tidak merasakan kehangatan ibunya.
Jasmine mengusap air matanya yang tiba-tiba kembali mengalir jika dia mengingat ibunya. Jasmine punya perasaan bersalah kepada ibunya karena tidak mau menuruti keinginan beliau. Jasmine akan memikirkan semua masalahnya jika dia telah berada di rumah Airin nanti.
Jasmine dan Ranti masuk ke dalam mobil dan Ranti segera menyuruh supir untuk mengantarkan mereka ke rumah Airin setelah Jasmine memberitahu alamat rumah Airin pada Pak Mamat.
Oleh karena itu, suasana di dalam mobil jadi hening, Pak Mamat jadi merasa merinding sendiri di hari yang masih pagi. Bahkan, siluet cahaya jingga dari langit timur baru mulai terlihat pagi ini.
***
"Yah, bunda ke mana?" tanya Gibran yang tidak menyadari kepergian Ranti dengan Jasmine.
__ADS_1
Satya yang tadi ribut masalah telur dengan dua laki-laki muda itu juga tidak tahu di mana keberadaan istri seksinya yang setiap malam membuat dia harus meronda, ronda malam yang enak dengan sang istri hehe.
"Kamu mau tahu?" tanya Satya dengan senyum licik menghiasi wajah tampannya.
Gibran mengangguk, lalu mengaduh karena jatuh karena Bayu tidak sengaja menabrak dirinya. "Maaf, aku sengaja," ucap Bayu dengan wajah rata atau datar.
"Aduh! Dasar buaya kampret kamu!" Gibran berdiri lalu merangkul leher Bayu dan mengapitnya di ketek.
"Mendingan gue kampret, daripada Lo Gibran Somplak hahaha ... uhuk ...." Bayu tertawa sambil menjauhkan tangan Gibran dari lehernya.
"Dulu waktu bikin anak sama bundanya Gibran, sepertinya ayah lupa baca doa karena Gibran jadi sableng." Satya terkekeh sendiri saat mengingat malam pertama dengan sang istri yang tidak akan pernah dia lupakan karena Ranti dan dirinya menghancurkan kamar mereka saking buasnya pergulatan mereka di atas ranjang kala itu.
Bahkan, waktu masih duduk di kursi pelaminan, tangan Satya sudah bergerak nakal menggerayangi tubuh istrinya sampai kepergok mama dan papanya dulu.
***
__ADS_1
Gibran yang suka dah nggak banyak, mungkin bab 80 akan aku tamatkan saja karena jujur aku juga lelah.