
...馃尮Kadang, seorang anak bahkan terpaksa harus menderita dan malu karena kesalahan yang dilakukan ibunya, karena melahirkanya diluar nikah馃尮...
Alea sudah melakukan testpack dan kini memejamkan mata karena takut melihat hasilnya. Didalam kamar mandi, dia melakukan semua yang dikatakan Jane.
"Semoga saja tidak hamil...." Bisik Alea sebelum akhirnya membuka matanya.
Dua garis merah nampak jelas di alat itu yang artinya dia hamil.
"Ohh tidak....kenapa ada dua garis merah. Dan...artinya aku....aku hamil?" Alea gemetar dan menjatuhkan alat itu kelantai.
"Bagaimana ini? Bagaimana? apa yang harus aku lakukan?" Alea panik dan bingung. Lama dia berdiri di kamar mandi dan tidak tahu kepada siapa dia harus bicara jika dia hamil.
Alea memungut alat tes pack lalu membuangnya ke tepat sampah. Dia segera keluar dan akan menemui Jane.
"Hanya Jane yang tahu semua ini. Aku harus menemuinya," Alea bergegas akan menemui Jane, tapi, tiba-tiba dia bertemu dengan Mommynya di depan rumah.
"Alea...kau mau kemana?" tanya Mommy Rose yang melihat Alea nampak terburu-buru.
"Aku mau ketemu teman mom. Ini sangat penting,"
Mommy Rose melihat wajah putrinya dengan penuh selidik. Nalurinya mengatakan dia sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa ada masalah?"
"Tidak Mom. Jangan khawatir. Aku akan segera kembali,"
"Baiklah. Katakan jika kau butuh bantuan Mommy," Hatinya berbisik jika putrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi tentu saja dia tidak bisa mengetahui nya jika dia tidak mengatakan apa masalahnya yang sedang dia hadapi.
"Pasti mom...."
Alea pergi kerumah Jane. Jane sedang bersama kekasihnya kala itu dan bicara serius. Sepertinya Jane juga mulai bosan dengan apa yang dia lakukan bersama kekasihnya.
Berhubungan tapi tidak punya komitmen dan tujuan. Atau suatu saat dia akan ditinggalkan karena tidak ada ikatan yang jelas. Jane juga mulai mencemaskan masa depannya sendiri.
"Temanmu datang. Aku akan pergi. Dia sepertinya membutuhkan dirimu. Dan sampai ketemu nanti malam...cup,"
"Kita belum selesai bicara. Malam ini, kita akan bicara lagi tentang masa depan kita..." kata Jane.
"Hem..." Ron lalu pergi begitu saja dan mengangguk pada Alea yang datang untuk bertemu dengan Jane.
Alea duduk didekat Jane dan mulai terisak.
Jane kebingungan melihat Alea datang lalu tiba-tiba menangis.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bicara pada siapapun, selain kamu," kata Alea lalu Jane memeluknya.
"Katakan. Ada apa? Kenapa tiba-tiba menangis?"
"Aku....aku hamil,"
"Kau sudah melakukanya? Seperti yang aku katakan?"
"Iya,"
"Lalu...hasilnya positif atau negatif?"
"Dua garis merah...." kata Alea dan kembali terisak.
"Astaga...kau benar-benar hamil?"
"Aku bingung Jane. Bagaimana ini? Bagaimana aku jelaskan pada kedua orang tuaku? Dan Jack bahkan menghilang sejak kejadian malam itu,"
"Tenang, tenang Alea. Aku janji, aku pasti akan membawa Jack untukmu. Dia akan bertanggung jawab dan kalian bisa menikah,"
"Tapi.... bagaimana jika dia tidak mau bertanggung jawab?"
"Aku akan memaksanya. Dia harus bertanggung jawab padamu,"
"Yah. Aku tahu dimana tempat biasa dia sering nongkrong,"
"Jane...aku takut...aku takut menghadapi keluargaku,"
"Tenanglah. Sekarang kau harus tenang dulu. Kita temukan pria itu setelah itu baru bicara dengan keluarga mu. Mereka juga akan bertanya, siapa pria yang sudah membuatmu hamil bukan?"
"Hem...iya .."
"Aku akan mencarinya dengan bantuan Ron. Kami akan membantumu. Alea...maafkan aku. Kau datang padaku dan aku...."
"Sudahlah Jane. Ini tidak benar-benar kesalahan mu. Aku lah yang keras kepala,"
Mereka lalu berpelukan dan saling memberi kekuatan.
*
*
Siang ini, Dimitri mengajak Rose makan siang setelah sekian lama. Dan tanpa di duga, Rose mau makan siang dengan mantan suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana kedua putri kita?" tanya Dimitri menatap Rose yang duduk di depannya.
"Mereka beranjak dewasa dengan cepat," Jawab Rose yang mulai melunak demi mental kedua putrinya.
"Alea? Apakah dia masih sering keluar malam?"
"Tidak lagi. Sejak kejadian dua bulan lalu. Mereka kini lebih tenang,"
"Syukurlah jika begitu,"
Dari seberang jalan raya, Micha yang baru saja turun dari mobil mantan suaminya tanpa sengaja melihat mobil Dimitri berada di parkiran.
Micha baru saja dari pengadilan bersama suaminya untuk masalah perceraian mereka yang masih dalam proses.
Dan ketika masuk restoran dia melihat Dimitri sedang makan siang bersama Rose.
"Kau sekarang semakin dekat dengan mantan istrimu. Aku sangat khawatir..." kata Micha dalam hati.
Dia lalu pergi dengan kesal dan mengirim pesan pada Dimitri agar segera pulang karena dia tidak enak badan.
"Rose...aku ada urusan penting, rekan kerjaku mengirim file mendadak. Dan aku harus segera mengerjakan nya,"
"Ohh, kalau begitu, aku juga ada urusan penting. Aku akan bertemu dengan klien,"
"Baiklah, sampai jumpa. Kau hati-hati dijalan..."
Mereka lalu berpisah. Dan Dimitri langsung kerumah dan ingin melihat keadaan Micha setelah menerima pesan darinya.
"Kau tidak tiduran? Tadi kau bilang kau sedang sakit?" tegur Dimitri ketika masuk rumah dan dia lihat Micha bukanya tiduran seperti orang yang sedang sakit malah sedang mondar-mandir.
"Hatiku yang sakit. Bukan ragaku. Kau menyakitiku...." kata Micha berdiri sangat dekat di hadapan Dimitri.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,"
"Kau tadi makan siang dengan mantan istrimu bukan? Kalian terlihat tertawa dan mesra bersama. Apakah kau....kau mulai jatuh cinta lagi padanya?"
"Astaga Micha. Apa yang kamu katakan? Jadi...semua ini karena kau tadi melihat kami makan siang bersama? Aku mengundang nya karena ingin tahu kabar kedua putriku. Itu saja. Tidak lebih," kata Dimitri akan memeluk Micha.
"Jangan mendekat! Aku sedang marah! Aku cemburu padamu! Aku gila dengan sikapmu akhir-akhir ini!" Micha mulai tidak terkendali karena sedang cemburu.
"Aku hanya mencintaimu. Rose adalah masa laluku. Dan kau masa depanku. Percayalah. Tidak ada istilah Cinta Lama Bersemi Kembali di antara kami,"
"Kau yakin? akan selamanya begitu?"
__ADS_1
"Tentu saja. Kemarilah. Aku akan memelukmu....aku sangat mencintaimu. Kau ada di hatiku. Hanya kau seorang..." kata Dimitri lalu memeluk kekasihnya itu. Micha akhirnya luluh dan mendekat pada Dimitri.