
Jam 7 malam, Alea baru pulang dan Jane sudah menunggunya sejak tadi.
Alea masuk kerumah dengan perasaan sangat bersalah.
"Maafkan aku. Toko baru tutup, jadi aku terlambat,"
"Tidak papa. Aku akan berangkat sekarang. Aku pergi ya...."
"Apakah tidak masalah?" tanya Alea.
"Akan aku atasi. Kau tenang saja," Jane lalu pergi ke tempat dimana dia bekerja.
Begitu dia sampai di kafe, terlihat temannya sudah menggantikan pekerjaannya. Padahal temannya itu sudah dipecat satu bulan yang lalu.
Tapi kini dia datang dan mengganti kan posisi Jane. Jane tidak terima, apa kesalahannya hingga dia harus digantikan orang lain? Dia hanya terlambat hari ini dan pendapatan dari kafe ini sangat penting untuknya. Selain untuk dirinya sendiri, dia harus membantu sahabatnya, Alea.
"Apa yang kau lakukan disini,"
"Kau kembali saja kerumahmu. Aku yang akan bekerja hari ini," ucap temannya itu dengan sombong.
"Apa!?" Jane membelalakkan matanya.
"Jika kau tak percaya, kau bisa tanya langsung ke bos. Tapi aku pikir kau tidak perlu bertanya. Aku sudah menjelaskan padamu jika kau dipecat! Hari ini juga!" ketus temannya itu.
"Aku tak percaya ini!" Jane berjalan dengan cepat ke kantor bosnya.
Dan saat dia keluar, tangannya bersimbah darah.
Temannya langsung berteriak memanggil sekuriti. Dan masuk ke dalam kantor Bosnya.
Dia kaget saat melihat Bosnya terkapar dilantai dengan kepala berdarah.
"Aaaaaa,"
"Darah! Kepalanya berdarah!"
Sekuriti langsung masuk kedalam kantor dan membawa bos mereka ke rumah sakit. Salah satu dari mereka menelpon polisi. Dan Jane dibawa ke kantor polisi.
"Aku tidak bersalah. Aku hanya berusaha menyelamatkan diri saja. Dia akan memperkosa ku, kenapa tidak ada yang mempercayai ku!" Jane kaget saat polisi datang dan akan membawanya.
"Pak, itu tidak mungkin. Dia marah karena saya menggantikan pekerjaannya, dia masuk keruangan Bos dan saat keluar, tangannya penuh dengan darah," ujar temannya yang diam diam memang ingin agar Jane tidak bekerja ditempat ini lagi.
Akhirnya polisi membawa Jane. Dan temannya itu tersenyum sinis.
Ditempat lain, Alea menunggu Jane pagi harinya.
Alea sudah rapi dan akan berangkat kerja, namun Jane tidak kunjung datang juga, hal itu membuat Alea panik.
"Jane, kamu dimana?"
Alea tidak punya handphone. Dia sudah menjualnya karena tidak ingin di hubungi siapapun.
Dia juga membutuhkan uang mendesak beberapa hari yang lalu, hingga terpaksa menjual handphonenya.
__ADS_1
Alea lalu pergi kerumah tetangganya, yang dikenal baik.
"Mbak, Jane belum datang. Bisakah saya menitipkan bayi saya? Saya harus kerja, saya baru bekerja sehari, jika hari ini tidak datang, maka saya bisa dipecat. Saya tidak punya keluarga, apakah saya bisa minta tolong, nanti akan saya bayar," ucap Alea memelas.
"Bu...aku harus bayar sekolah satu Minggu lagi. Terima saja tawarannya, ibukan juga ngga kerja, bisa buat tambahan bayar sekolah, nanti aku bantu," ucap anak berusia 12 tahun yang sedang duduk disamping ibunya itu.
"Gimana Bu?" Alea melihat jam berputar cepat sekali. Dia tidak ingin terlambat.
"Ya sudah. Kau bisa meninggalkanya disini,"
"Terimakasih Bu, terimakasih banyak. Oh ya, semua keperluan ya sudah ada di tas ini termasuk susunya," Alea memberikan bayinya yang dia gendong dan juga tas yang dia tenteng.
"Saya pergi dulu Bu,"
Alea segera berlari dengan sangat kencang ke halte bus. Untunglah saat itu ada bus yang baru saja menaikkan penumpang, diapun berteriak sambil berlari.
"Tunggu!"
Kernet bus melihatnya berlari dan menunggunya.
"Syukurlah, aku langsung dapat bis tanpa perlu menunggu. Jika tidak, aku akan terlambat," kata Alea dalam hati.
Saat didalam bus, dia melihat penjual koran yang menawarkan dagangannya, sekilas dia melihat gambar Jane, namun dia tidak yakin itu Jane sehingga menghiraukan nya.
"Jane...ah mana mungkin. Pasti aku salah lihat," ucapnya dan penjual koran itu juga berlaku dari hadapannya.
Sampai di toko tekstil, toko itu baru buka dan Alea segera masuk untuk ganti seragam.
"Iya pak," Alea berhenti.
"Kau sedang menyusui?"
"Iya pak. Saya baru saja melahirkan, dan saya masih menyusui,"
"Kalau begitu, aku beri waktu kau satu jam untuk mengambil susunya. Usahakan agar saat kau pergi ke belakang, kau tidak sedang melayani pembeli,"
"Baik pak, terimakasih...." Alea senang karena ada kebijaksanaan dari tempatnya bekerja.
Sambil menghela nafas panjang, Alea masuk kedalam untuk ganti seragam.
Tiba-tiba, temannya yang sudah senior disitu nyeletuk dan membuat telinga Alea panas.
"Aku dengar, kau tinggal sendiri di kosan ya. Lalu dimana suamimu?" tanyanya dan sesaat membuat Alea tertegun sekaligus terdiam.
"Ehm...aku... dia,"
"Sudahlah. Ngga perlu dijawab. Aku tahu kok apa yang terjadi padamu. Kita satu gang. Jadi aku tahu kalau kau tinggal sendirian," jawab seorang teman lainnya.
"Ohh...iya...."
Suasana hening sesaat. Alea khawatir jika mereka tahu kalau dia belum menikah tapi sudah punya anak. Jika mereka tahu, maka dia pasti akan mendapat tatapan sinis dan hinaan dari masyarakat.
Alea lalu dandan agak di pojokan dan terlihat mereka sedang bisik-bisik membicarakan tentang dirinya.
__ADS_1
"Sudahlah! Jangan ikut campur urusan orang lain,"
"Bukan begitu, kalau benar yang aku dengar itu, maka jangan berteman dengannya. Berarti dia gadis yang tidak baik. Kau tahu, ada istilah populer, Jika kau berteman dengan penjual minyak tanah, maka kau akan bau minyak tanah, dan jika kau berteman dengan penjual minyak wangi, maka kau juga akan bau wangi,"
"Maksudnya apa?"
"Maksudnya, hati-hati dalam memilih teman. Kalau dia baik, kau juga akan menjadi baik, kalau namanya tercemar, orang juga akan berfikir kau sama dengan dirinya, gitu loh! ngerti!"
"Lihat, dia sendirian....aku kasihan padanya. Dia mungkin dengar jika kita bergosip tentang dirinya. Sudah ah, aku ngga mau berbuat dosa pagi-pagi. Kita mau jualan, jadi harus berpikir positif dan tidak bicara negatif,"
"Terserah jika kau tidak mau dengar nasehatku. Tapi jika yang aku katakan benar, maka kau bisa terkena getahnya juga," ketus temannya.
"Hai Alea...." sapa temannya.
"Hai..
"Jika kau sudah selesai, kita ke depan yuk!"
"Ehm, baiklah...."
Setidaknya ada satu dari mereka yang mau berteman dengan ku. Aku memang karyawan baru disini, dan aku tahu, ada yang suka padaku, dan ada yang tidak suka denganku. Itu hal biasa dalam berteman juga dalam satu lingkungan pekerjaan.
Tapi aku butuh uang. Aku harus tetap bekerja disini. Dan tidak perlu memikirkan mereka yang tidak menyukaiku dan bergosip di belakang ku. Yang penting, aku bekerja dan aku mendapat gaji, bisik Alea dalam hati sambil tersenyum kecil.
Satu Minggu kemudian, Jane tidak pernah datang, dan Alea tidak tahu dimana dia. Sampai akhirnya, Alea tahu jika Jane berada didalam penjara.
Namun Alea, tidak bisa mengunjungi nya, karena mungkin polisi akan mengenali wajahnya dan melaporkan dirinya pada Rose, ibunya.
Dan dia tidak mau berpisah dengan anaknya, karena ibunya ingin memberikan bayinya agar di adopsi oleh orang lain.
"Maafkan aku Jane, kau sudah sangat baik padaku. Dan kau menolongku disaat aku kesusahan. Tapi ketika kau susah dan mengalami kesulitan, aku tidak bisa gantian menolong mu, maafkan aku....aku tidak bisa pergi kesana..." Alea menangis dikontrakkan nya dan ketika itu bayinya sudah tidur.
Kadang aku merasa akan putus asa, kadang aku juga merasa apa yang aku lakukan ini tidak benar, tapi aku tidak punya jalan keluar yang lain, selain pergi dari rumah, maafkan aku Mom....
Tamat
Bersambung ke judul "Pria Cacat Ternyata CEO"
Jack menjadi cacat dan demi mencari Alea, dia menjadi pria biasa dan berjualan es krim keliling agar bisa bertemu dengannya.
Jack tahu, Alea ternyata kabur dari rumah, dan sekarang bersembunyi dari semua orang.
Dan dengan berkeliling disetiap gang, maka dia berharap bisa menemukan Alea dan juga darah dagingnya.
馃挄
Terimakasih Teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk mampir dan membaca Novel ini.
Terimakasih,
dan tetap dukung setiap karya dengan memberikan like, vote dan komen yang membangun 馃槏馃槝
Terimakasih semua 馃グ馃グ馃グ
__ADS_1