
Beberapa hari lagi Hania bersama Mami Naya dan Herry akan menjalankan rencana mereka.
Bukan hanya Hania yang sudah resign dari perusahaan, Herry juga sudah seminggu tidak aktif di tempat dia bekerja.
Mereka bersikap seolah olah tidak akan kemana mana. Hania bersikap sedang melamar pekerjaan di tempat lain. Hal ini terlihat dengan update status di beberapa sosial media yang dia punya.
Sedangkan Mami Naya sudah mulai mengurangi kehadirannya di resto kuliner yang diolah bersama Mami Tia.
Mami Naya dan Mami Tia sebisa mungkin menghindar untuk tidak saling bertemu.
Tanpa diketahui Mami Tia selalu menangis jika melihat Mami Naya dari jauh.
Seperti sekarang ini, Mami Naya sedang menjelaskan resep resep andalannya kepada chef dan yang lainnya. Mami Tia hanya memperhatikan dari jauh tanpa sepengetahuan Mami Naya.
" Nay, maafkan aku.. Tolong bersabarlah sebentar lagi.." Batin Mami Tia
Saat ini sedang berkumpul Hendra, Bara dan Reza di kontrakkan Hendra.
" Woy, loe suruh kita datang kesini tapi aer putih aja kgak dikasi..." Omel Reza
" Berisik..kenapa loe gak bawa makanan dari resto sich..." Balas Hendra
" Yaelah..ini jam brapa bro.. Resto masih lgi persiapan..gw aja belum sempat kesono.."
" Tunggu ntar lagi..." Ucapnya cuek
" Kita nungguin siapa Hen ?" tanya Bara
" Liat aj nanti..." Ucap Hendra masih memainkan ponselnya.
"Huh..." Bara menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia pun akhirnya mengecek pekerjaannya yang dikirim via email.
Tanpa disadari Hendra, Reza sudah didapur yang ada di kontrakan itu. Dia membuat dua kopi, untuknya dan Bara.
" Makasih bro..." Ucap Bara
" Hey...yang sopan yah... Loe kgak ijin, buat gw gak di bikinin..." Omel Hendra
" Hey..loe yang sopan ama tamu..loe suruh kita datang disini tapi gak dikasi apa apa...ini kan rumah loe, bikin sendirilah..." ucap Reza sambil mengesap kopinya yang panas.
Tok..tok..tok
" Assalamualaikum..."
" Walaikumsalam..."
Cklek.. Pintu dibuka Hendra dan mempersikahkan tamu yang baru datang.
" Kalian udah disini ?"
" Eh..Raina...sendirian ?" tanya Reza
" Iya..bentar lagi Rakha nyampe..kami datang sendiri sendiri.." Ucapnya sambil mendudukan dirinya di sofa yang ada disana.
" Bawa apa ?" Tanya Reza yang melihat bungkusan yang dibawa Raina
" Eh iya ini hampir lupa... Aku bawa nasi uduk sama lontong sayur..belum sarapan kan yah..." Ucapnya sambil berlalu ke dapur untuk mengambil piring dan mangkok.
" Wah... loe yang terbaik sist..tuan rumah dsini gak kasi apa apa daritadi..bayangin kopi aja bikin sendiri.." Adu Reza
Raina kembali dari dapur dan membawa peralatan makan.
" Ini kak Hendra yang pesan..." Ucap Raina sambil tersenyum
" Baik kan gw..." Ucap Hendra sambil menaik turunkan alisnya.
" Cih..gak usah belain tuh orang yah.." Ucap Reza
" Udah..udah..ayok makan..." Ajak Raina
Tok..tok..tok
" Itu Rakha pasti..."
__ADS_1
Cklek..
" Woy bro..." Ucap Rakha
" Assalamualaikum Kha..." Ucap Bara datar
" Walaikumsalam..hehe.." Jawab Rakha sambil menggaruk kepalanya.
" Kha, ayok langsung sarapan.." Ajak Raina
" Baiklah nyonya rumah.." Ucap Rakha.
Raina hanya tersenyum tipis.
Rakha baru pertama kali ke kontrakan Hendra. Dia melinat lihat dan menatap Hendra.
" Raina gak tinggal disini kan kalo kalian nikah.." Tanya Rakha sambil menyuap nasi uduknya.
" Emang kalo disini kenapa ? " Tanya Hendra
" Yah..susah buat enak enak lah...berisik ntar di dengar tetangga..."
Byurrr...
" Rainaaa...jorok banget sich..." ucap Rakha sambil membersihkan semburan air dari Raina.
" Uhuk..uhuk..siapa suruh ngomong ngawur.." Ucap Raina
" Emang bener sayang..." Ucap Hendra sambil tersenyum menggoda.
" Ishh..."
" Woylaah..anggap aja kita gak ada..teruskan.." Ucap Reza yang sudah menghabiskan satu bungkus lontongnya.
" Loe ingat kan yang gw bilang bakal selidiki kenapa Rama tiba tiba dekat dengan perawat itu ?" Angguk Reza dan Bara.
" Pas gw lagi mau cari cari tahu, malah ketemu ama nih dua orang..."
" Emang ada apa Kha ? Sumpah gw kyak gak ngenalin Rama sama sekali...Masak iya dia kena pelet.." Ucap Reza
" Hah..bukan begitu..jadi beginj...." Ucap Rakha memulai ceritanya. Cerita tentang kejadian yang menimpa Raisa dan siapa yang mereka yakini yang menjadi pelakunya.
***FLASHBACK ON***
Sebulan setelah kejadian yang menimpa Raisa dan Raina. Mental Raina sudah mulai membaik. Karena dia sudah lulus SMA, jadi dia gak harus keluar rumah untuk mengurus berkas di sekolah. Dia berencana ikut Rakha untuk kuliah di luar negeri.
Satu saat Raina sangat merindukan Raisa. Diapun masuk ke kamar Raisa yang masih belum dirubah sama sekali. Semua barang masih terletak di posisi yang sama.
Raina membuka laci meja belajar Raisa. Disana ada foto foto bersama teman teman mereka waktu di masa SMA.
Saat dia membuka foto foto tersebut. Ada satu foto dimana dalam foto itu ada Kiky juga disana. Tetapi Kiky tidak sedang menatap kamera karena wajahnya kebetulan saja berada di foto itu. Foto tersebut diambil seperti candid. Terlihat Raisa bersama teman teman sekolah lain sedang tertawa.
Dan Kiky ada agak jauh di belakang sedang menatap marah ke Raisa. Dan di samping Kiky ada Ricko yang menatap ke arah yang sama.
" Kiky..." Raina menyebutkan nama itu.
Tiba tiba terlintas di ingatannya kejadian malam itu dimana mereka menumpang mobil Pak Ricko.
" Pak Ricko..." Ucapnya pelan.
Dan dia mengingat bisikan Raisa waktu itu.
Raisa membisikkan nama Kiky kepada Raina dan Rama.
__ADS_1
Tiba tiba air mata berlinangan di pipi Raina.
" Raina...Raina.." Mami Tia masuk ke kamar Raisa karena saat mau ke kamarnya, dia mendengar ada suara tangisan dari kamar Raisa.
" Raina ada apa sayang...kenapa menangis.." Tanya Mami Tia panik
" Mi..mi...Raina ingat malam itu..."
Mami Tia membelalakkan matanya dan memeluk Raina.
Mami Tia merangkul Raina dan menuntunnya keluar kamarnya. Raina masih membawa foto yang dia lihat di kamar.
Mereka turun dan ke ruangan kekuarga. Disana ada Papi Adipati, Rama dan Rakha yang sedang menonton pertandingan sepakbola.
Karena masih liburan kuliah, makanya Rama dan Rakha lebih banyak berdiam diri dirumah.
Melihat Mami Tia yang menuntun turun Raina yang sedang menangis, mereka bertiga berdiri dan memeluk Raina.
" Ada apa dek? Hem...kasi tahu kakak..." Tanya Rama yang sudah duduk di samping Raina.
Raina memberikan foto yang ada Kiky dan Ricko didalamnya.
" Malam itu, setelah taksi mogok, kami menaiki mobil Pak Ricko kak...huahua....hiks..hiks..."
Papi Adipati, Rama, Rakha dan Mami Tia saling bertatapan.
" Kamu yakin dek ?" tanya Rama
" Iya kak... Aku ingat banget..Pak Ricko melintas saat taksi mogok dan dia berhenti mengajak kami naik ke mobilnya yang disewanya.. Trus tiba tiba aku sadar sudah di tempat yang papi jemput.. Tapi aku ingat kalo kami menumpang mobil Pak Ricko... Dan..dan...Ica juga membisikkan nama Kiky sebelum dia pergi...hiks..hiks..." Ucap Raina sambil terisak
Rama tersentak dan mengingat apa yang dibisikkan Raisa.. Dia juga mendengar jika Raisa membisikkan nama Kiky sebelum dia berpulang.
" Iya..Raisa membisikkan nama itu, tetapi aku gak ngerti apa maksudnya..." Ucap Rama dengan mengepalkan tangannya.
" Papi telpon asisten dlu dan menciduk kedua orang itu .." Ucap Papi Adipati dengan mengambil ponselnya
Tetapi sayang, ternyata Kiky dan Ricko sudah melarikan diri sebulan yang lalu.
***FLASHBACK OFF***
" Dan Rama kaget banget ketika Kiky datang melamar sebagai perawat untuk klinik.. Dan setelah kami selidiki dia kembali bersama kakaknya... Kakaknya kembali menjadi guru di salah satu sekolah di kota ini..." Ucap Rakha
Reza dan Bara benar benar kaget, ternyata kejadian yang menimpa Raisa sungguh memilukan.
" bentar..bentar..jadi Rama sengaja berpura pura untuk menjebak mereka berdua ?" tanya Bara
" Exactly..." Ucap Rakha
" Wah berat ini....Hania tahu ?" Tanya Reza
Mereka menggelengkan kepalanya.
" Yaelah...kasi tahuu broo...bilang Rama...yakin pasti Hania bisa menjalankan perannya dengan baik..jangan mengorbankan perasaan dia dan keluarga.. Rama harusnya berbagi dan meminta tolong..." Ucap Reza yang gregetan karena rahasia besar ini.
" Itu yang kami minta Rama untuk beritahu, tapi Rama takut Kiky mencelakai Hania.. Jadi mendingan Hania memang membenci Rama dulu..." Ucap Raina
" Huh...emang beresiko sich...palagi spertinya perempuan yang kalian hadapi ini psikopat..." Ucap Bara
Hendra, Rakha dan Raina menganggukkan kepalanya.
" Terus apa yang harus kami lakukan ?" Tanya Bara
" Tetaplah dampingi Rama, jaga dia...bersikaplah kesal atau marah..jangan membicarakan hal ini di sekitar klinik... Berbahaya.." Hendra memperingatkan mereka.
" Sip..nanti kami bantu..." Ucap Reza dan Bara
__ADS_1