
Kedua orang tua Jack terbelalak kaget dan menatap putra semata wayangnya dengan terpaku.
Jack berdebar dan menunggu jawaban mereka berdua.
"Tidak!" Mereka menjawab secara bersamaan.
"Kenapa?" Jack kaget dan harapannya kandas terhempas jauh didepan matanya.
"Karena kau baru saja dilantik menjadi seorang CEO. Dan pekerjaan mu saat ini lebih penting. Tahun depan kau bisa menikah,"
"Kenapa harus tahun depan. Aku tidak bisa menunggu lagi,"
"Kenapa tidak bisa menunggu? Kau bicara mendadak masalah pernikahan pada kami. Kamu pikir menikah itu tidak butuh persiapan?"
"Tapi...kekasihku ...dia sudah mengandung...dan itu adalah kesalahan ku,"
Papanya langsung berdiri dan menatap tajam wajah Jack.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipinya.
__ADS_1
"Kau menghamili seorang gadis? Apa seburuk itu kami mendidikmu hingga kau melakukan tindakan memalukan seperti itu!"
"Semuanya terjadi karena aku sedang minum dan saat itu aku....aku sedang frustasi," Jack memegang pipinya dan takut kepada kemarahan ayahnya.
"Jadi kau minum dan gadis itu tidak sadar? Kenapa dia tidak menolaknya? Apakah dia juga minum?"
"Saat itu, dia juga sedang ada masalah dan kami minum lalu terjadilah hal itu,"
"Bagus. Setelah hamil lalu sekarang dia menuntut mu untuk menikahinya? Kau dijebak olehnya!" kata maminya yang juga sangat marah.
"Dua tidak menjebakku. Aku yang bersalah. Dia adalah gadis yang baik. Itu pertama kalinya dia minum,"
"Ohh, dia juga sudah mencuci otakmu. Kamu bilang dia gadis yang baik. Jika gadis baik-baik, dia tidak akan menyentuh minuman itu," Maminya mendekati Jack dan menatapnya dengan penuh intimidasi.
"Kau tidak perlu menemui gadis itu lagi. Berikan alamatnya dan mami akan segera kesana. Biar mami yang menyelesaikan semua ini," kata Maminya dan segera merebut handphone dari tangan Jack.
"Mam....."
"Pergi ke kamarmu!" teriak maminya dan ayahnya hanya terduduk dengan perasaan kecewa dan putus asa.
Jack segera berlari dengan wajah sedih dan hati yang terguncang hebat. Dia memang belum mandiri meskipun sekarang menjadi CEO. Semua itu karena perusahaan itu adalah milik ayahnya.
__ADS_1
"Maafkan aku Alea. Aku telah menghancurkan masa depanmu. Aku telah membuat kamu hamil. Dan aku tidak bisa berbuat apapun untukmu meskipun aku mau,"
Jack melempar semua bantal di atas ranjangnya ke lantai dengan kasar. Dia juga menarik sprei dengan penuh rasa putus asa.
Dia lalu meninju tembok di kamarnya hingga tangannya berdarah. Dia tidak peduli. Dia sedang putus asa dan tak berdaya sebagai seorang pria.
"Memangnya kenapa jika sudah hamil? Kenapa aku tidak bisa menebus kesalahanku dengan menikahinya? Bagaimana jika Putri kalian yang ada diposisi Alea. Apa yang akan kalian lakukan? Untunglah nkalian tidak punya seorang putri. Kalian sangat egois. Yang kalian lihat hanyalah harta dan kedudukan. Tidak ada tempat bagi cinta. Dia hanya soal harta dan status sosial,"
Jack tertunduk dan menendang kaki ranjang dengan keras.
Dia frustasi dan sekarang handphonenya berada ditangan ibunya. Dan dia tidak bisa mengatakan dan menghubungi Alea.
Jack lalu keluar lagi dan akan bertemu dengan ibunya untuk meminta handphone nya kembali.
"Nyonya baru saja pergi," kata seorang asisten dirumahnya.
"Dan papi?"
"Tuan juga baru saja pergi,"
Jack lalu keluar dengan motornya dan akan pergi ke rumah Alea sebelum ibunya datang kesana.
__ADS_1
Jack mengendarai motornya dengan sangat kencang hingga tidak mempedulikan keselamatannya.