
" Han, loe lagi gak sembunyiin sesuatu dari kita kita kan ?" Tanya Vey curiga.
" hehehe...apaan sih.. Kenapa loe pada curiga ?" Hania balik bertanya.
" Yah aneh aja..loe libur sampe berhari hari..sedangkan loe belum ada jatah cuti.. " ucap Vey
Hania hanya tersenyum.
" Apapun yang terjadi, loe semua sahabat gw yang paling gw sayang... Gw cuma minta loe percaya ama gw yah..." Ucap Hania sambil memandang mereka satu persatu dengan sendu.
Tak pernah dibayangkan Hania, jika dia harus meninggalkan kehidupannya di negara ini begitu saja.
Orang orang terkasih yang selama ini menemaninya dan mendukungnya.
" Gw bakal marah banget ama loe kalo sampe loe lakuin sesuatu gak bilang bilang..beneraan gw ngambek banget..." Ucap Vina
" hahahaha...lebay banget siich.." Ucap Hania
" Apakaaah...ini mengenai kak Rama...maksud gw CEO kita ?" tanya Sierra
" Ah..gak usah di omongin...semua sudah berlalu..." Ucap Hania dengan tenang.
" Kata siapa..."
Mereka berempat menoleh ke arah suara laki laki yang baru saja bersuara.
Deg
Mata Hania dan Rama bertemu. Menatap tajam dan menyelami isi hati masing masing.
Saat ini baik Hania atau Rama tak ada yang bersuara. Bagaikan adegan film dimana mereka terlempar di hamparan tanah hijau yang dimana hanya ada mereka berdua disana tanpa orang lain. Hanya saling menatap tanpa bicara.
Sedangkan realitanya mereka sedang ada di keramaian. Riuh para pengunjung serta suara musik yang terdengar di salah satu sudut mall tersebut.
Hania teesadar. Dia pun segera memutus tatapan mereka.
"ehem..Kak Rama..." Panggil Vey
" Hem..." Jawab Rama tanpa menoleh ke Vey.
Vey, Sierra dan Vina saling tatap tatapan bingung mau menyikapi situasi sekarang ini.
" Kak Rama, kami tinggal dulu, mungkin kalian butuh bicara..." Suara Vey menyadarkan lamunan Rama.
__ADS_1
" Hem..gapapa..kami akan pergi darisini.." Ucap Rama sambil memberikan tangannya ke arah Hania.
Hania hanya menatap datar tangan Rama tanpa mempedulikan Rama yang sedang menunggu.
Hania membereskan tasnya, memasukkan barang barang miliknya dan berpamitan.
" Gw duluan yah..nanti gw kabar kabari...jaga kesehatan kalian.." Kata Hania sambil memeluk mereka satu persatu dengan erat.
" Apaan sih Han..loe kayak yang mau tinggalin kita aja..serem tauk.." Ucap Sierra dengan cemberut.
" Hehehehe..." Ucap Hania yang hanya terkekeh belum mau berkata jujur.
" Hati hati yaaah Haan...bye.." Ucap mereka sebelum berpisah.
Hania membalikkan badan dan segera berjalan tanpa mempedulikan Rama. Rama hanya mengikutinya dari belakang.
Saat sudah ada di lobi, Hania memesan taksi online untuk tumpangan dia pulang kerumah.
Rama hanya diam tanpa bersuara. Ketika taksi yang Hania pesan tiba, Rama menghalangi jalan Hania dan membuka pintu mobil untuk berbicara dengan sopir.
" Pak, cancel saja, orangnya gak jadi naik..ini bayarannya.." ucap Rama sambil memberikan dua lembar uang berwarna merah.
" Beneran pak?.."
Orang orang yang ada di lobi tertarik melihat adegan di lobi tersebut.
" Gak pak..pergi saja...atau bapak gak dapat penumpang dan bayaran.." Ancam Rama
" Apaan sih loe..jangan ganggu gw..." Bentak Hania kesal. Dia gak peduli Rama akan marah atau benci karena dia sudah bersikap kasar.
Rama menatap supirnya dengan tajam. Supir tersebut mengambil uangnya dan segera pergi darisana. Mungkin dia berpikir, daripada gak dapat apa apa mending kabur.
Rama langsung menarik tangannya, memaksa Hania untuk mengikutinya.
Hania mencoba untuk memberontak, tapi apa daya kekuatan dia tidak sebanding dengan kekuatan Rama.
Untung saja Rama saat ini memakai topi dan masker, jadi tidak ada yang bisa mengenalinya.
Hania hanya bisa pasrah sambil bersungut sungut mengikuti langkah Rama dengan terseok seok. Langkah panjang Rama tak bisa Hania imbangi.
Saat tiba di parkiran dimana motor sportnya berada, Rama langsung menarik tangan Hania hingga Hania menabrak dada Rama.
Tanpa diduga, Rama menunduk dan mempertemukan bibirrnya dengan Hania. Dia tidak hanya menciummm, tetapi dia juga melumatnyaaa, memaksa Hania untuk membuka mulutnya.
__ADS_1
Hania memberontak, memukul mukul dada Rama karena dia tidak siap dan sudah merasa akan kehabisan nafasnya.
" BERNAFASSS!!.." Bentak Rama dan menciumnya lagi tanpa memberikan jeda dan kesempatan Hania untuk melepaskan diri.
Hania hanya diam, menahan amarah didadanya tanpa membalas ciuman Rama.
Rama melepaskan bibirrnya, dan dahinya menempe di kepala Hania. Mereka tersengal sengal dan masih mencoba meraup udara yang ada disana.
Plaakkkk
Tamparan Hania terdengar sangat keras. Rama memegang pipinya yang terasa panas dan perih.
Mata Hania berkaca kaca, begitu juga Rama. Terpancar kemarahan dimata mereka tetapi ada kerinduan yang besar disana.
Rama mengambil helmnya dan memberikan helm satunya kepada Hania.
Hania hanya diam tidak mau mengambil helm itu. Rama memakaikan helm itu dengan paksa. Hania sudah tidak punya tenaga lagi untuk menghindar. Nafas dan tenaganya sudah diambil paksa oleh Rama tadi.
" Apa aku harus membantumu naik ke motorku ?" Tanya Rama datar.
Hania memandangnya marah tetapi tetap naik ke motor Rama dan menjaga jarak sedikit, enggan bersentuhan dengan Rama.
Rama menghidupkan motornya dan menjalankannya, tiba tiba mengerem mendadak hingga membuat Hania kaget dan memeluk pinggang Rama.
" Pegangan yang kuat, kalo gak aku gak jamin kamu gak bakal jatuh.." Ucap Rama
Hania yang hampir menarik tangannya, mengeratkan pelukannya kembali karena dia yakin Rama sedang tidak bercanda.
Rama melajukan motornya ke suatu tempat. Dia membawa motornya dengan lihai. Dan benar saja keputusan Hania untuk memeluk erat Rama. Ketika mereka sedang ada di jalanan yang lengang, Rama melajukan motornya dengan kencang.
" Han, aku kangen..." Ucap Rama
Hania tidak bisa mendengarnya di balik helm.
" HAAAN....AKU RINDUUUU..." Teriak Rama lebih kencang.
Hania yang mendengarnya kaget, tetapi dia diam seolah olah tidak mendengarnya.
Saat ini Hania sedang gugup, karena debaran jantungnya yang kencang, dengan Rama yang sedang memacu adrenalin, mambuat degupan jantungnya 2x lebih kencang dari biasanya, jugaaa karena dadanya bersandar di punggung Rama, pasti Rama bisa merasakan debaran kencang itu.
Saat motor Rama sudah mulai berjalan lambat, Hania memperhatikan tempat dimana mereka berada sekarang.
" Bukit ini..." Batin Hania
__ADS_1