
Saat ini rombongan Rama tiba di lokasi pembangunan klinik. Progressnya sudah sampai 70%.
Kini mereka duduk di bawah tenda payung yang disiapkan kontraktor jika tim Rama datang berkunjung.
Sebenarnya Direktur RS milik keluarganya sudah mengajak Rama untuk kembali praktek di rumah sakit milik keluarganya, tetapi dia sudah mengutarakan keinginannya dan mengenai klinik mereka itu hingga direktur RS mengerti dan menawarkan bantuan jika dibutuhkan.
" Kak, berarti sekitar tiga atau empat bulan yah bisa rampung.." Ucap Rakha. Ya, Rakha ikut karena ada Vina. Akhir akhir ini mereka semakin dekat. Walaupun belum ada ungkapan cinta dari Rakha tetapi mereka menjalaninya dengan santai.
" Kira kira begitu. Menurut kontraktornya sih.." Reza yang menjawab karena dia yang menjadi perantara dengan konrtaktornya.
" Untuk tenaga medisnya apa kita udah bisa membuka lowongan?" tanya Bara
" Jangan dulu, mungkin dua bulan sebelum dibuka kliniknya baru kita mencari tenaga medis.." ucap Hendra.
" Gimana kalo tenaga medisnya kita seleksi dan yang berasal dari keluarga yang kurang mampu? " tanya Hania
" Maksudnya?"tanya Rama
" Maksudku kak, aku pernah bertemu dengan gadis yang bekerja part time di sebuah cafe. Ternyata dia sebenarnya sekolah perawat, tetapi karena keterbatasan biaya hingga buat dia bekerja part time, jika di hari itu tidak ada praktek.." jawab Hania
" hem..usul yang bagus.." ucap Rama
" Tetapi ini sumber dana darimana kalo bole tahu? Selain kalian kalian ini yang jadi donatur?" tanya Raina
" Tentu saja mencari donatur.. Kami sudah melobi beberapa pengusaha dan Alhamdulilah mereka mau menjadi donatur..." Jawab Bara
" Dan mereka juga mau mengajak kolega mereka untuk ikut berpartisipasi..." Sambung Hendra
" Alhamdulilah.." Jawab mereka barengan
Setelah selesai meninjau lokasi klinik, empat pasangan ini berpencar menuju ke tujuan masing masing. Maklum ini kan malam minggu, semua pada mau quality time dengan pacar masing masing.
Sedangkan Rama dan Hania menuju ke bioskop untuk nonton salah satu film kesukaan Hania.
" Kak, kita beli tiket dulu baru makan siang, gimana? Supaya bisa dapat tempat duduk bagus.." Ucap Hania
" Boleh.." Ujar Rama
Mereka berdua langsung masuk menuju bioskop yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di kota tersebut.
Saat ini mereka sedang di counter tiket, sedang memilih seat yang oke. Beruntung mereka tidak mengantri panjang. Mungkin karena ini masih sekitar jam 11 jadi belum terlalu banyak yang datang.
" Rama..." panggil seseorang
Mereka berdua spontan menoleh ke suara tersebut.
" Hem..." Rama hanya berdehem dan membuang muka.
__ADS_1
" Halo mbak Anin..." Hania menyapa Anin karena Rama yang bersikap seolah olah tidak peduli dengan kehadirannya disitu.
" Kamu mau nonton Rama ?.." Tanya Anin mengabaikan sapaan Hania
Hania yang merasa dicuekkin pun langsung melengos dan mengambil tiket mereka sesudah Rama membayarnya.
" Ayok kak..." Hania langsung menarik tangan Rama untuk keluar di bioskop. Karena mereka memilih jam tayang sesudah makan siang.
Rama tersebyum sangat tipis karena perlakuan Hania yang terlihat seperti sedang cemburu.
Anin menghalangi jalan mereka. Dia berkeinginan untuk nonton bersama mereka.
" Kamu kan gak suka nonton bioskop? Emang kamu gak tahu Han?" Ucap Anin yang seolah olah menyalahkan Hania. Dia ingin menunjukkan bahwa dia sangat tahu dengan Rama.
Rama menaikkan sebelah alisnya dan menatap tajam Anin.
" Itu waktu sama mbak kali... Tapi kalo sama aku pasti dia bakal suka..iya kan kak?" Jawab Hania dan menatap tajam Rama
Rama tertawa kecil dan mengusap kepala Hania setelah itu langsung merangkul Hania.
" Apa yang kamu suka, pasti aku bakalan suka.." Jawab Rama lembut.
" See..." Ucap Hania sambil menatap ke Anin
Anin mengepalkan tangannya karena kesal.
" duh please mbak..gak usah main drama disini yah..." Ucap Hania kesal
" jelas kak Rama gak mau nemenin, dia mahasiswa kedokteran..gak punya banyak waktu...aku aja bisa ngerti..kamu yang katanya dulu pacarnya masak gak bisa ngerti.." Sambung Hania asal tanpa memberi kesempatan Rama menjawab pertanyaan Anin yang dianggapnya konyol.
Rama tetap diam tapi hatinya sebenarnya senang melihat keposesifan Hania. Setidaknya dia merasa Hania sedang mempertahankan miliknya untuk tidak bisa disentuh perempuan lain.
" Jangan sembarangan ngomong kamu Hania..." Ucap Anin yang mulai marah
" Aku tahu banget bagaimana Rama... Kebersamaan kami selama tiga tahun itu tidak singkat.. Kamu tentu tahu kan dua orang dewasa yang berhubungan lama sudah ngapain aja..." Tutur Anin yang tidak tahu malu memprovokasi Hania di depan Rama.
Rama menatap tajam kepada Anin. Tangannya mengepal dengan keras karena tidak suka dengan apa yang dikatakan Anin.
Hania mengambil tangan Rama dan menggenggamnya. Membuatnya tenang, takut Rama bertindak yang tidak tidak karena kemarahannya.
" Hahaha... Mbak lucu deh...emang apa yang kalian lakukan? Nemenin nonton mbak aja gak sempat, palagi yang lain? Ciuman, pelukan? Gapapa...karena aku bakal menghapus semua jejaknya mbak dulu..." Ucap Hania tenang tapi dengan menatap mengejek.
Hania saat ini terlihat sangat tenang dan kuat. Tetapi di dadanya sudah bergemuruh karena kemarahan yang gak mau dia luapkan.
" Habislah aku.." Batin Rama
Rama mengambil ponselnya dan mengetik pesan ke seseorang. Sesudahnya dia memasukkan kembali ponselnya di saku celananya.
__ADS_1
" Kamu terlalu naif Hania.." Anin masih mencoba membuat Hania kesal
" hahahah...kak.. Aku ngerti bagaimana khayalan kak Anin.. Sebentar.." ucap Hania sambil mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang.
" Halo sayang.." Terdengar suara seorang wanita di sebrang sana. Rama dan Anin bisa mendengarnya karena Hania memasang Loud Speaker.
" Assalamulaikum Mamiii..." Ucap Hania dengan manja.
Rama sudah tersenyum geli karena melihat kelakuan Hania yang dianggapnya menggemaskan.
" Walaikumsalam...Ada apa sayang... Rama apain kamu?" tanya suara disebrang sana dengan kuatir.
Anin masih menerka nerka siapa wanita itu.
Hania menceritakan kronologinya sampai saat ini mereka bersama Anin, lengkap dengan ucapan Anin yang untuk memprovokasi Hania.
" Hahaha... Kamu percaya saja sama Rama sayang... tuh ulat bulu sedang berkhayal... Dan bilang sama dia..jangan ganggu hubungan kalian.. Atau papi Adipati akan meminta sahabatnya untuk menarik saham mereka di perusahaan orang tuanya..." ucap mami Tia dengan santai.
Iya, Hania menelepon mami Tia karena sudah gerah dengan Anin.
" Eh...eh tante... Maaf...saya gak bilang begitu koq..." Ucap Anin ketakutan
" Dengar Anin... Sampai kapanpun kamu gak akan pernah masuk di keluarga kami..Ingat itu...Jangan ganggu hubungan putraku.." Ucap mami Tia dengan tegas.
Anin diam sambil menunduk.
" KAMU DENGAR GAK !!!" Teriak mami Tia
" iya tante..maaf..." ucap Anin
" Yaudah mami... Kami mau makan siang dulu..dadah mami...Assalamulaikum.." Ucap Hania. Setelah mami Tia membalas salam dari Hania meteka pun mengakhiri sambungan telpon itu.
Hania menatap tajam Anin yang sudah tertunduk malu.
" Kamu sudah tahu kan siapa yang bakal mbak hadapi kalo mbak berani menganggu kami?..Jalani hidup mbak dengan baik, saya doakan mendapatkan jdoh yang baik.." Ucap Hania
" Ayok kak.." Hania menarik tangan Rama. Rama menahannya dan menatap Anin.
" Anin..." Rama menatap Anin dengan tajam.
" Itu baru ancaman mami...tapi kamu tahu kan apa yang bakal aku buat..." ucap Rama dengan nada rendah, yang menandakan bahwa dia sedang marah.
" Udah kak...ayok..aku lapar..." Hania sengaja mengajak mereka pergi darisana, karena takut kehabisan waktu dan takut mengeluarkan kata kata pedas lagi ke Anin.
" Yaudah.." Rama merangkul pundak Hania dan berjalan menuju ke resto untuk makan siang.
Anin menahan tangis karena cintanya kepada Rama benar benar sudah tidak bisa diperjuangkan. Setelah melihat Rama dan Hania sudah masuk ke resto, dia pun langsung masuk ke bioskop kembali ke tujuan awal dia datang kesana.
__ADS_1