
Randi hanya tersenyum karena bangga memiliki dua sahabat yang ada suka maupun dukanya. ia juga bahagia melihat Ratih bahagia. begitu pula dengan William yang senang karena walau ia hanya cinta dalam diam setidaknya Ratih bahagia walau dengan canda tawanya. Namun di tengah kebahagiaan itu tiba-tiba..
Terjadilah sebuah tragedi disekolah, yakni banyak anak genk motor melemparkan batu bahkan ada juga yang melempar petasan.
Hal itu srontak membuat semua Siswa dan Siswi disekolah tersebut berlarian dan ricuh tidak ter'arah.
"Ada apa ini? " tanya Pak Pratama.
"Ada keributan diluar Pak, bahkan kaca sebagian kelas disekolah ini hancur akibat lemparan batu" jawab salah satu siswa.
"Pasti ini berhubungan dengan anak itu lagi, anak sialan" ucap batin Pak pratama.
"Saya permisi dulu Pak" ucap Siswa itu lalu melanjutkan lari kocar kacirnya.
Pak Pratama yang sudah berburuk sangka itu langsung mencari keberadaan Ratih dan yang lainnya.
Sedangkan Ratih masih duduk diam dikantin dengan tenang walaupun semua orang sudah berlarian entah kemana.
Nawan yang melihat Ratih masih diam, ia pun segera memegang tangan Ratih dan mengajaknya untuk mencari tempat yang aman.
"Ayo Dek kita harus pergi" ajak Nawan.
"Duluan saja" ucap Ratih sambil menepis tangan Nawan.
"Ayolah Rat, kita tidak punya waktu banyak" ucap Riko.
"Apa peduli kalian pada gua?, lagi pula kalian hanya mementingkan diri sendiri bukan gua" ucap Ratih dengan dingin.
Lalu tiba-tiba suara yang tidak asing bagi Ratih pun terdengar dan tangan yang Ratih rindukan juga mulai menggenggam erat jari jemari Ratih.
"Jangan egois" ucap singkat Randi.
Benar sekali hehe, itu adalah Randi namun dengan ekspresi dingin bahkan tidak hangat seperti biasanya.
"Ikut Kakak lu dan pergi" ucap Randi sambil menarik tangan Ratih.
Ratih hanya menatap Randi yang sudah berubah, bahkan ia tidak merasakan cinta dalam setiap kata Randi yang ia dengar, ia merasa Randi menjauh darinya dengan cara cuek dan acuh kepadanya.
__ADS_1
"Gua bisa sendiri' ucap Ratih dengan dingin dan pergi begitu saja dengan rasa kecewa.
"Rat" panggil William.
William hendak mengejar Ratih namun ditahan oleh Nawan.
"Biarkan dia sendiri" ucap Nawan.
William pun mengurungkan niatnya untuk mengejar Ratih dan diam bersama Nawan dan yang lainnya.
Randi yang sedartadi diam kini mulai bersuara walau hanya singkat.
"Kak, lu dan satu teman lu jaga saja Ratih. urusan diluar biar gua yang handle dengan yang lainnya" ucap Randi.
"Ehm.... tidak apa-apa Ran. tidak akan ada yang bisa melukai Ratih disaat seperti ini" ucap Nawan.
Randi tidak mengerti dengan ucapan Nawan, bahkan mikir yang aneh-aneh. secara yang kita tau jika saudara kita terancam maka saudara yang lainnya akan membantu, tapi berbeda dengan Nawan yang santai dan tidak memikirkan Ratih.
"Kenapa bengong?, ayo kedepan kita hadapi sama-sama para pengecut itu" ajak Nawan yang sudah mendahului mereka.
"Ayok" ajak Randi sambil mengikuti Nawan.
...****************...
Setelah sampai didepan gerbang, terlihatlah segerombolan anak dengan motor sport dan jaket berlogo B.R.
"Andrew" ucap Nawan sambil menahan kesal.
"Mau apalagi dia" ucap William.
Tanpa basa basi Nawan segera menghampiri mereka tanpa rasa takut sedikitpun. ia menahan rasa kesal bahkan amarah yang menggebu-gebu.
"Maksud kalian apa menyerang sekolah kami? " tanya Nawan sambil menarik kerah salah satu dari mereka.
"Cih.. Untuk apalagi jika bukan menghancurkan kalian haha" jawab lelaki yang ditarik kerahnya dengan sombong.
"Pergi dari sini atau kalian akan tau akibatnya" ucap Nawan dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
__ADS_1
"Jika gua tidak mau, lu mau apa bocil? " ucap lelaki itu dengan santai.
Nawan yang kesal segera melepaskan kerah lelaki itu dan langsung melempar tonjokan pertamanya pada rahang laki-laki itu hingga ia pingsan.
"Pergi lu semua dari sini!,dan bawa temen sampah lu ini!, tidak usah lagi kalian menginjakkan kaki kesekolah kami atau kalian akan bernasib seperti dia. dan bisa jadi lebih parah dari ini, cepat pergi! " bentak Nawan sambil melotot kearah mereka.
Mereka pun pergi dengan membawa Laki-laki itu yang tengah pingsan dengan satu pukulan Nawan.
Setelah itu Nawan kembali bergabung dengan teman-temannya, dengan wajah yang merah menahan amarahnya.
"Sabar An sabar" ucap Riko.
"Gua ingin sekali membunuh Andrew jika dia terus terusan seperti ini" geram Nawan.
"Sabar An, membunuh tidak akan menyelesaikan segalanya" ucap Tomi.
"Yang paling penting sekarang itu Ratih Kak, karena Andrew menginginkan dia dan terobsesi dengan dia. jadi kita harus menjaga Ratih walau berat sekali resikonya" ucap Randi .
"Ratih akan baik baik saja, dia wanita kuat bahkan tidak pantang menyerah. apalagi adikku yang satunya, ia sangat pintar dan licik maka tidak akan ada yang bisa melukainya" balas Nawan.
"Bukankah adikmu hanya satu kak?, lalu yang lain maksudnya? " tanya Paulus dengan bingung.
"Raih, dia adalah sisi lain dari Ratih. saat Ratih marah dan dilanda amarah yang sudah menggebu maka ia akan keluar dengan sendirinya." jelas Nawan dengan wajah datarnya.
"Nah.. itu sebabnya Nawan tidak khawatir jika Ratih sedang marah dan pergi, maka ia tidak akan melakukan hal konyol karena ada Raih yang mengendalikan tubuhnya saat Ratih down dan marah" sambung William.
Dari situ pertanyaan yang sempat ada dipikiran Randi pun terjawab, karena tidak mungkin saudara akan meninggalkan dan membiarkan saudara yang lainnya dalam keterpurukan.
......**Aku bukanlah parasit dan aku bukanlah sosok yang akan membebankan semua orang, ......
...karena apa?, karena aku dilahirkan...
...untuk beridiri teguh dalam...
...setiap kesedihan menuju masa...
...depan dan kebahagiaan...
__ADS_1
...dikemudian hari....
..._Ratih Purnama Sari**_...