Cinta Gadis Broken Home

Cinta Gadis Broken Home
Bab 46


__ADS_3

Hari hari begitu panjang terasa bagi Hania. Sudah dua minggu Hania dan Rama tidak bertemu. Hania mencoba untuk tidak berpikir negatif. Mungkin karena sangat sibuk sampai tidak punya waktu untuk sekedar menghubunginya.


Seperti hari ini di hari Sabtu. Hania belum keluar kamar sejak pagi. Terasa malas untuk bangun. Moodnya benar benar rusak.


Mami Naya sudah mulai curiga ada yang tidak beres. Rama yang gak pernah muncul di rumah mereka lagi. Begitu juga Mami Tia yang seolah olah menghindari Mami Naya.


Membalas pesan pun hanya menjawab seadanya. Padahal Mami Tia tipikal yang rame. Sebelumnya selalu membalas dengan berbagai ucapan. Tetapi sekarang hanyalah jawaban jawaban pendek.


" Assalamualaikum... Guten morgen mami cantik..."


" Walaikumsalam nak...pagi pagi udah muncul aja Her..." Ucap Mami Naya


Hampir setiap hari Sabtu, Herry akan datang dirumah Mami Naya. Dia selalu kangen dengan masakan maminya.


" Mau minta sarapan mi...hehe.." Ucap Herry cengengesan.


" Itu di meja udah mami siapin..."


" Hania mana mi? Belum bangun?"


" Hmm... tolong kamu bangunin...mami belum sempat.." Ucap Mami Naya lesu.


Herry mengkerutkan dahinya.


" Ada apa mi?"


" Duduk dulu nak..." Ajak Mami Naya.


Herry pun segera duduk.


" Jadi gini Her.. Koq kayaknya ada yang gak beres dengan hubungan Rama sama Hania.."


" Gak beres gimana? Rama Selingkuh?!! " Ucap Herry dengan kencang. Tangannya sudah mengepal keras.


" Ssst... Jangan keras keras ngomongnya..."


" Maaf..maaf..jadi maksudnya gimana mi?"


" Jadi akhir akhir ini udah jarang banget mami liat Rama bareng Hania. Biasanya Rama antar jemput Hania, tapi udah beberapa minggu ini gak lagi.. Terus Rama juga belum kesini kesini lagi.. Dan anehnya, maminya Rama juga kayak menghindari mami gitu.. " Ucap Mami Naya


Cklek...


Herry dan Mami Naya melihat ke arah pintu kamar Hania. Terlihat Hania keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi.


" Mau kemana dek? Rapi bener.." Tanya Herry


Hania duduk di kursi dekat meja makan dan hanya tersenyum.


Herry dan Mami Naya tatap tatapan karena mereka melihat mata Hania bengkak seperti baru habis menangis.


" Lo nangis Han?" Tanya Herry dengan dada bergemuruh.


" Ehem..gak koq.. kayaknya kelamaan tidur.." Jawab Hania asal


" Sarapan dulu nak..." Ucap Mami Naya sambil mengelus kepala Hania.


" Hania minum susu ini aja... Lagi gak berselera makan..." Ucap Hania mengambil susu yang sudah disediain oleh Mami Naya.


" Keluar ama siapa ? Rama ntar jemput kamu ?" tanya Mami Naya


" Hem..enggak mi..dijemput Sierra ama yang lain.." Jawab Hania


" Tumben dek, malam minggu bukan ama Rama?" Tanya Herry


" Dia lagi sibuk kak.." Jawab Hania pelan


" Hania, kalo ada masalah, mami minta tolong jangan kamu pendam sendiri..Kasi tahu mami atau Herry.. Nanti kita cari solusi sama sama.." Ucap Mami Naya dengan lembut


" Kalo Rama apa apain kamu..kasi tahu kakak dek.. Nanti gw yang kasi dia pelajaran.." kata Herry berapi api


" Apaan sih kak... Nanti Hania cerita kalo ada masalah.."


Triiit...triiiit.


Terdengar bunyi klakson mobil dari depan.


" Itu mereka udah datang. Hania jalan dulu yah..." Ucap Hania sambil salim ke Mami Naya


" Assalamualaikum.."


" Walaikumsalam...hati hatiii.."


" Siap mi..."


Hania masuk ke mobil Sierra. Udah ada Vina dan Vey juga didalamnya.


" Udah siap gaess? " Tanya Sierra yang duduk di depan kemudi dan ada Vina di sampingnya. Sedangkan Vey duduk di belakang bersama Hania di jok belakang.


Singkat cerita mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di tujuannya.


Semua belum turun dari mobilnya, hanya melihat ke arah bangunan yang sekarang ini sedang banyak orang orang yang akan melakukan pemeriksaan kesehatan.


Iya, mereka berempat datang ke klinik dimana Rama sedang melakukan pekerjaan dia sebagai dokter.


Mereka melihat ada mobil Rama, Reza dan Bara. Tidak terlihat mobil Hendra disana.


Tetapi mereka memutuskan untuk tidak turun sekarang.


Terlihat Bara dan Reza sibuk menerima para pasien. Rama pasti sudah berada di dalam ruangannya.


Terlihat Reza sempat melihat ke arah mobil Sierra, tetapi dia tidak bisa memastikan mobil siapa itu.


Iya, Sierra memakai mobil kakaknya, makanya mereka tidak bisa mengenali mobil tersebut.


Sedangkan Hania masih belum memutuskan apa segera turun atau tidak.


" Kita mau nunggu disini sampai kapan ? " Tanya Vey


" Gimana Han? Mau turun sekarang kah?" Tanya Vina


" Nanti saja kalo keadaan mulai sepi..Aku gak mau malah ribut.." Ucap Hania


" yaudah..gw parkir di depan rumah itu saja yah, supaya mereka gak curiga.." Ucal Sierra..


Akhirnya mereka menunggu di dalam mobil sampai klinik sepi.

__ADS_1


Setelah menunggu dua jam, akhirnya terlihat Klinik sudah sepi. Petugas kebersihan sudah mulai menbersihkan klinik tersebut. Tetapi Rama, Reza dan Bara tidak terlihat di depan klinik.


" Udah sepi tuh..turun yuks.. Gempor gw duduk terus.." Ucap Vey sambil membuka pintu mobil dan diikuti dengan yang lain.


Mereka menghampiri petugas kebersihan yang sedang menyusun kursi.


" Siang pak.." Ucap Vey


" Siang non..ada yang bisa dibantu ?"


" Dokternya masih ada di dalam ?" Dokter Rama


" Non mau berobat?" tanya pria itu dengan menatap mereka heran. Dia bingung karena mereka tidak terlihat seperti orang susah.


" Ada apa ini?" tanya salah satu perawat disana


" Oh iya..ini bu, mereka mencari pak dokter.." Ucap pria itu


" Dokter Rama?" Mereka berempat mengangguk


" Kalian siapa ?" tanya perawat itu


" Kami temannya sus.." Ucap Sierra


" Tapi dokter sepertinya gak bisa diganggu.." Ucap suster itu ragu


" Masih ada pasien sus ?" tanya Hania


" Udah gak sih.."


" Kak Bara dan Kak Reza, mana? " tanya Vey


" Ooh..kalian kenal juga ? Mereka lagi di pantry..mungkin lagi makan siang.." Ucap perawat muda itu.


" Yaudah, kami kesana aja langsung yah suster..permisi " Jawab Vey dan langsung ngeloyor pergi karena udah gak sabar.



Sedangkan di pantry, terlihat satu meja dihuni oleh Bara dan Reza. Ada makanan di meja mereka, tetapi kelihatannya malas untuk mereka sentuh.



Dan di samping meja mereka ada sepasang pria dan wanita yang sedang makan.



Bara dan Reza menghembuskan nafasnya dengan kasar.



" Ini kak, dimakan...aku tadi yang masak loh.." Kata gadis itu sambil menyuapkan sendoknya ke laki laki itu.



" Terima kasih dek..." Kata pria itu dengan membuka mulutnya dan tersenyum manis.



" Rama..." Panggil Bara dengan kesal.




Kiky, 23 tahun, berparas manis dengan tinggi kurang lebih sama dengan Hania. Berambut panjang lurus dengan kulit kuning langsat.



" hehe..jangan gitu kak Bara... Ini saat saat yang aku tunggu..sudah lama aku menunggu kak Rama...ternyata Tuhan mengijinkan kami bertemu..kalo jodoh gak kemana kan kak.." Ucap Kiky



Bara hanya melengos kesal.



" Ini lagi kak sekali lagi..udah habis nich.." Kiky memberi suapan terakhir ke Rama.


Terlihat Rama langsung meminum airnya sampai kandas.



Bara dan Reza langsung berdiri untuk pergi, saat mereka membalikkan badan, mereka membeku melihat ke arah pintu.



" Ha..Ha..Hania..." Ucap Reza dengan gagap.



" V..Vey.." Ucap Bara juga



Kiky dan Rama menatap ke arah pintu. Mata Rama dan Hania bersirobok. Menatap dalam, menyelami perasaan masing masing.



Rama langsung memutus tatapannya karena Kiky menggandeng tangannya dan dia tidak menolak.



Deg...



Hati Hania hancur seketika. Tanpa kata kata, sudah terpampang dengan jelas apa yang terjadi di hadapan mereka.



Hania masih membeku di tempatnya.



" Kak, mereka siapa ?" tanya Kiky

__ADS_1



Bara dan Reza mendecih mendengar pertanyaan Kiky.



Vey perlahan lahan datang ke arah mereka. Dia menatap Bara dengan tajam.



" Vey..." panggil Bara dengan gugup. Belum pernah dia melihat kemaeahan Vey.



Vey berhadap hadapan dengan Bara.



" Apa kakak tahu ?" Tanya Vey.


Bara tidak menjawab tetapi menunduk.



" Hahahaa...luar biasa kalian..." Ucap Vey dengan bertepuk tangan. Vey langsung membalikkan badannya dan pergi ke tempat Hania berdiri.



" Sierra..." Panggil Reza.



Sierra hanya melihatnya dengan mata berkaca kaca. Tangan Reza mengepal keras karena melihat pacarnya mau menangis.



Sedangkan Hania melembutkan tatapannya dan menatap Rama sendu.



" Kamu mau tahu aku siapa?" Tanya Hania akhirnya dengan menatap Kiky.



Kiky menatapnya dengan tajam masih sambil memegang lengan Rama.



" emang kamu siapa?" tanyanya dengan menantang.



Semua orang menatap Kiky dengan emosi.



" Saya... Mantan tunangannya.." Ucap Hania dengan tegas sambil menatap Rama.



Rama langsung menatap Hania dengan tajam. Tetapi di dalam dadanya sedang bergemuruh seakan akan mau meledak.



" Ooh...aku tahu..udah mantan kan..mending kalian pergi, kalian gak ada urusan disini bukan ?" ucap Kiky arogan



" Bara...jangan temui aku lagi..." Ucap Vey dengan lantang.



" Vey..gak gitu.." Ucap Bara dengan mendekati Vey



" Stop..jangan mendekat.." teriak Vey.



Vey, Vina dan Sierra langsung membalikkan badan dan berjalan pergi dari tempat itu. Hania berbalik dengan pelan dan berjalan pelan dengan berlinangan air mata.



" Sudah puas kau Rama??!!!..Gw gak ada hubungannya dengan ini, tapi gw kena getahnya..." Ucap Reza kesal dan marah



Bara tanpa melihat lagi ke Rama langsung meninggalkan mereka semua. Reza mengikuti Bara dari belakang.



" Kak..." Ucap Kiky sambil menggerakkan lengan Rama.



Rama tersadar dan tersenyum.



" Sudahlah, mungkin dia masih belum trima karena aku batalin pertunangan kami.." ucap Rama dengan tersenyum.



" Tapi kakak gak bakal balik sama dia kan? Kakak gak bakal ninggalin aku kan.." Ucap Kiky dengan mata berkaca kaca.



" Tentu tidak..." Ucap Rama dengan tersenyum dan mengajak Kiky keluar dari pantry.



" Tentu tidak sekarang, \*\*\*\*\*\*...." Batin Rama


__ADS_1


__ADS_2