
Hania terdiam melihat tempat dimana Rama membawanya. Sejenak memori saat mereka bersama disini seperti kilas balik.
Rama melihat Hania yang hanya bengong, diapun membuka helm yang dipakai Hania dengan lembut.
Hania yang tiba tiba sadar, memasang wajah datar. Dia berjalan ke tempat dimana dia bisa melihat lampu lampu kota, juga berbagai gedung yang terhampar dibawah sana.
" Kenapa loe bawa gw kesini..." Ucap Hania dengan sinis.
Rama menoleh dan menatapnya marah. Dia sungguh tidak suka dengan bahasa Hania yang kembali ke mode " Loe, Gw ".
" Kamu bener bener pengen dicium lagi yah..." Kata Rama dengan menatap Hania tajam.
Tangan Hania otomatis menutup bibirnya.
Rama tersenyum karena merasa gemas dengan "Mantan " tunangannya ini (Walaupun Rama tetap menganggap Hania adalah calon istrinya).
Rama berdiri sambil menghadap ke Hania. Hania tenggelam dengan segala pemikirannya. Dia memantapkan hati, untuk tidak akan luluh dengan segala bujukan yang dia tahu akan segera dilancarkan Rama.
" Hania..." Panggil Rama.
Hania tidak bergeming. Tetap dengan pandangan lurusnya ke depan..Rama pun turut berbalik mengikuti arah pandangan Hania.
" Apakah aku sudah menyakitimu sangat dalam ?" tanya Rama
" Menurutmu!! " Ucap Hania ketus
" Maaaf..." Ucap Rama pelan dan menundukkan kepala.
" Apakah aku tidak bisa egois seperti ini ? Kami benar benar tersakiti melihat mereka. Berkeliaran bebas, setelah apa yang mereka lakukan ke adikku.."
Mata Hania mulai berkaca kaca. Tetapi masih tetap dengan pandangan lurusnya.
" Aku begitu mual di saat wanita itu menempel ke aku... Aku selalu mensugesti bahwa didepanku itu adalah kamu... "
__ADS_1
" Aku minta maaf karena sudah melanggar janji untuk tidak menyakitimu... Tepat di tempat ini..."
" Han, tapi aku ingin lebih egois lagi...aku tetap gak akan melepaskanmu.. Aku mohon tunggulah aku.." Ucap Rama memohon.
Dadanya seperti ditindih dengan sesuatu yang sangat berat, sehingga membuatnya sesak.
Rama mengambil tangannya dengan erat. Berharap Hania membalas genggamannya. Tetapi Hania hanya diam tanpa respon.
" Kak, aku sudah merasa aku bukan jodohmu lagi.. Karena ketika aku melihatmu saat itu, perasaanku seketika menjadi minus. Hilang tak tersisa... " Ucap Hania
" Saat mami kamu menceritakan segalanya, aku makin sadar bahwa aku bukan apa apa bagimu... Kamu tidak mempercayaiku.. Kamu merasa bisa sendiri tanpa aku.. Bukankah kamu harus meminta bantuanku ? Jika memang kamu menganggapku, kamu pasti datang kepadaku, mengingatku di segala rencanamu... Aku mengerti itu demi keselamatan kami.. Tetapi, tak bisakah kamu bertanya terlebih dahulu? Libatkan aku di setiap masalahmu... Karena aku ingin belajar supaya di saat kita sudah menjadi suami istri, aku tahu akan bagaimana jika datang masalah..." Ucap Hania panjang lebar.
Mengungkapkan segala unek uneknya yang selalu membuat hatinya sesak.
" Tetapi sudahlah... Semua sudah terjadi. Aku hanya bisa mendoakan kamu dan keluarga kamu, supaya bisa melewati ini semua... Fokuslah di tujuanmu.. Daaan...." Hania menghadap Rama.
" Lupakan aku..." Ucap Hania dengan melepaskan genggaman tangannya dari Rama.
Air mata Hania jatuh bercucuran. Hatinya hanya bisa merasakan sakit.
" Hari sudah semakin malam, aku harus pulang.. Mamiku pasti cemas..." Ucap Hania dan berlalu dari tempat itu.
Rama yang tersadar, segera menyusulnya dan memegang tangan Hania.
" Setidaknya pulanglah denganku... Aku akan mengantarmu..." Ucap Rama.
Helm dipasangkan ke kepala Hania. Hania naik dan hanya memegang ujung kaos Rama. Rama sudah memakaikan jaketnya untuk Hania, karena udara disana sudah mulai terasa dingin.
Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan apapun lagi. Rama fokus mengendarai motornya, sedangkan Hania berusaha menenangkan hatinya, dan menghentikan air matanya yang tidak berhenti untuk keluar sejak tadi.
Sesampai di depan rumah Hania, Rama mengambil kemasan botol air minum dan diberikan ke Hania.
" Tenangkan dirimu, minum ini dan basuh wajahmu. Mata kamu bengkak... Aku gak mau Mami Naya melihatmu seperti ini..."
__ADS_1
Hania mengambilnya dan langsung berlalu tanpa mengucapkan terima kasih.
Dia segera masuk ke rumah dengan membuka pintu memakai kunci cadangan.
Rama hanya bisa menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kasar.
Saat Hania masuk, Mami Naya sudah berada di kamar. Dia pun segera masuk ke kamar dan membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, tiba tiba pintunya diketok.
Tok..tok..tok
" Han, mami masuk yah..." Ucap Mami Naya. Tanpa menunggu jawaban Hania, Mami Naya segera masuk kamarnya.
" lama banget anak mami pulang..." Ucap Mami Naya
"Hem...tadi tiba tiba kak Rama ajak bicara..." ucap Hania dengan sendu.
Mami Naya menghampiri Hania dan mengajaknya duduk di ranjang.
" Apa kamu baik baik saja sayang ?" Tanya Mami Naya dengan lembut sambil mengelus punggung Hania..
" Bohong kalo aku bilang, aku baik baik saja... Tetapi pasti semua akan baik baik saja pada akhirnya.." Ucap Hania dengan mata berkaca kaca.
" Apa kamu tetap memutuskan pergi walaupun sudah tahu kebenarannya ?"
" Iya mi..aku sudah punya rencana bagaimana kedepannya.. Aku sudah menyuruh kak Rama fokus dengan tujuannya, begitu juga dengan aku...Aku mau bekerja keras demi masa depanku..."
" Aku batal nikah, mungkin saja adalah jalan Tuhan.. mwmengingatkan akan janjiku sejak kecil untuk menjadi orang sukses.. Inilah waktunya mi..."
Mami Naya tersenyum.
" Baiklah... Mami hanya bisa mendoakanmu dan mendukung apapun jalan yang kamu ambil..." Ucap Mami Naya dengan memeluk erat putrinya.
__ADS_1
Mami Naya segera meninggalkan kamarnya, dan membiarkan Hania supaya bisa memiliki waktunya juga menyuruh Hania untuk segera beristirahat.