
Ketika Jack dan semua anggota nya sudah berpencar untuk mengamankan setiap sudut dari wilayah A, mereka pun stay di tempat nya masing-masing tanpa kenal ngantuk ataupun lelah.
Namun di sisi lain, Randi kini masih setengah jalan menuju rumah Omah dan Opah. pikiran nya begitu berantakan dan sangat-sangat tidak karuan.
Hingga Paulus dan Henri yang menyadari Randi tidak fokus pun segera menyusul laju motor Randi hingga menyamai laju kecepatan nya.
"Ran!." Teriak Paulus.
"Ya Pau, ada apa?." Tanya Randi.
"Fokus!." Bentak Paulus.
"Santai saja, semua pasti akan baik-baik saja." Balas Randi.
"Lu boleh panas, tapi pikiran lu harus tetap jernih." Tegur Henri.
Lalu Randi pun menghela napas panjang dan menghembuskan nya. setelah itu, Randi, Paulus dan Henri langsung melanjutkan perjalanan menuju rumah Ratih.
Di lain sisi, terlihat Andrew yang tertawa lepas ketika di besuk oleh Ayah nya. dan benar dugaan Jack, ternyata dalang di balik insiden ini adalah Ayah nya Andrew.
"Tapi Ratih akan baik-baik saja kan Ayah?." Tanya Andrew.
"Dia tidak akan mati jika tidak telat di tangani, tapi dia akan mati jika telat di tangani." Jawab Ayah Andrew.
"Tapi aku ingin Ratih tetap baik-baik saja Ayah, aku ingin menikah dengan nya." Ucap Andrew.
"Bukalah mata mu itu Andrew, kenapa kau jadi lemah ketika jatuh cinta hah?, Ratih itu tidak akan membawa kebahagiaan, tapi malah duka untuk mu" Balas Ayah Andrew yang kesal.
Kemudian Andrew pun hanya terdiam, namun Ayah nya terus menghasut nya agar membenci Ratih dan ikut membalas dendam atas perbuatan nya terhadap Andrew.
"Cinta Gadis Broken Home"
__ADS_1
Cukup lama perjalanan itu di tempuh, kini RandiCs sudah sampai di rumah Omah dan Opah. lalu Randi yang sudah sangat khawatir pun langsung berlari ke kamar Ratih tanpa menyapa Bik Siti maupun Imah.
"Maaf ya Bik, Randi malah nyelonong saja." Ucap Henri.
"Tidak apa-apa Tuan, kami tau perasaan Tuan Randi sekarang. silahkan masuk Tuan Paulus dan Henri." Balas Bik Siti.
Lalu Henri dan Paulus pun masuk ke dalam dan langsung menyusul Randi yang sudah lebih dahulu ke kamar Ratih.
Di sisi lain, Nawan dan Rosa tengah menunggu Ratih di temani Omah dan Opah. sedangkan Ratih kini masih menutup mata nya karena pengaruh obat penenang yang sebelum nya sudah di suntikkan oleh Dokter.
"Ehm.. Omah, kenapa cobaan Adik sangat sulit sekali" Ucap Nawan dengan wajah datar.
"Nawan, Tuhan memberikan cobaan pada hamba nya berarti Tuhan juga sudah tau seberapa besar tingkat kemampuan umat nya." Balas Omah lalu mengelus rambut Nawan.
"Andai aku bisa bicara pada Tuhan, lebih baik aku saja yang mengalami ini jangan Adik." Ucap Nawan.
"Sutt.. kamu jangan pesimis begini sayang, kamu harus kuat untuk Ratih." Balas Rosa.
"Baiklah aku akan kuat, tapi bagaimana dengan Ayah dan Bunda, apa mereka sudah merespon telepon dari kamu sayang?." Tanya Nawan.
Lalu Nawan pun tersenyum kecil, dan ketika suasana masih penuh duka, Randi pun mengetuk pintu kamar Ratih dengan pelan.
"Tuk.. Tuk.."
"Buka saja pintu nya Ran," Ucap Nawan.
Kemudian Randi pun membuka pintu dan masuk ke dalam di susul oleh Paulus dan juga Henri yang selalu menjadi buntut dimana pun Randi berada.
"Maaf" Ucap Randi dengan pelan.
"Thanks lu sudah datang ya Ran." Balas Nawan lalu menepuk pundak Randi.
__ADS_1
"Sudah tugas gua Kak untuk menjaga Ratih, tapi bodoh nya gua itu selalu gagal untuk menjaga nya." Ucap Randi dengan penuh penyesalan.
"Ini bukan salah lu Ran, karena tugas menjaga Ratih juga itu tugas Gua sebagai Kakak laki-laki nya." Balas Nawan.
Lalu Randi pun hanya mengangguk pelan yang kemudian kembali melangkah untuk mencium telapak tangan Omah dan Opah.
"Kak, Ratih baik-baik saja kan?." Tanya Randi yang masih berdiri memandangi Ratih yang hanya terbaring tenang.
"Ratih baik-baik saja kok Ran, lu di sini dulu saja dengan Ratih ya, gua, Omah, Rosa dan Opah mau ke bawah dulu sambil menunggu Ayah dan Bunda." Ucap Nawan.
"Oke Kak," Balas Randi.
Lalu Nawan pun pergi meninggalkan kamar Ratih bersama Rosa, Omah dan Opah. sedangkan Randi kini tengah duduk di samping Ratih. paulus dan Henri juga duduk di sofa sambil meneguk segelas air putih yang memang selalu tersedia di meja kamar Ratih.
"Sayang, buka dong mata mu." Ucap Randi sambil mengelus tangan Ratih.
"Sayang.." Ucap Randi lagi dan lagi.
Namun ucapan Randi hanya menjadi angan saja untuk Ratih yang memang tidak ada respon sedikit pun ia tunjukkan.
Hingga satu jam kemudian...
Paulus dan Henri sudah tertidur di sofa, namun Randi yang masih setia menunggu pun hanya duduk dan terus mengelus tangan Ratih.
"Sayang" Panggil Ratih dengan lirih.
"Sayang, kamu sudah siuman." Balas Randi lalu mengecup tangan Ratih.
"Aku hanya tertidur sayang, kamu jangan khawatir." Ucap Ratih sambil tersenyum kecil.
"Jangan bohong sayang, aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi." Balas Randi.
__ADS_1
Lalu Ratih hanya tersenyum dan mengelus tangan Randi sambil meminta maaf, setelah itu Randi pun memeluk Ratih yang masih terbaring lemas.
Bersambung..